Monday, August 5, 2013

BALADA KAUM LELAKI (CERPEN)

Unknown


   Musim kemarau telah kembali, sang gurun telah mengampar hingga melukis daratan dengan debu yang menjadi kemelut bagi jiwa-jiwa yang sedang galau, meninggalkan masa lalu, dalam musim yang lebih baik dari sekarang, orang-orang tersebut akan menjemput hujan, lalu bernyayi diantara irama hujan, mengingatkan memori hingga memunculkan romansa. Setelah hujan mereka akan menemukan sebuah jalan yang menuju sebuah tujuan, ketika senja menguning cahaya itu akan segera lenyap bersama kabar gembira yang akan mereka lalui.

  Lelaki adalah imam, imam bagi dirinya sendiri dan keluarga, pasangannya, dan anak-anaknya, tak ada yang lebih dari soal cinta dan kehidupan, semestinya kini orang memilih jalan untuk menjadi pemimpin ada juga yang memilih istirahat diantara taman hijau, itu semua fatamorgana, delusi, dan imajinasi yang membunuh, lelaki perlu realitas, lelaki harus punya banyak mimpi, lelaki harus memiliki eksistensi.

  Ada lelaki yang ku kenal bernama Harun, dia seorang pemimpi, banyak akal, dan pembicaraannya gampang di cerna, selusin rencana pernah dia ungkapkan padaku, dia sobatku, dia pasangan bisnisku, untuk hidup dan akhirat, sekarang sulit mencari lelaki seperti itu, saat ini hanya kenangannya yang memanja, sketsa foto harun yang selalu terpampang di meja kantorku.

*****


      10 tahun yang lalu

  Perekonomian indonesia lebih baik karena dipimpin Soeharto, segalanya aman dan terkendali, akhirnya tiba pergerakan melengserkan soeharto karena sistem prpogandanya terhadap kepemerintahan, gerakan pelengseran soeharto dominan dilakukan oleh mahasisiwa, tragedi tersebut  membuat sejarah bagi indonesia. Periode baru dimulai, Habibie memegang kekuasaan dan pemerintah baru dimulai , kehidupan berangsur adanya. Gerakan mahasisiwa era 90 an ramai sekali, ada yang pro ada yang kontra, ada yang bersatu dan memisahkan diri, Universitas indonesia merupakan sarang dari Aktififis, dan selanjutnya diikuti Trisakti, Trisakti dikenal bonafit, Universitas Indonesia ladang orang pintar, dan target sebagian remaja untuk menggeluti dunia kampus negeri. Paradigma masyarakat menjadi sebuah simbol bagaimana menjadi manusia cerdas di negeri sendiri, mahasisiwa merupakann rangka bagian bawah untuk membentuk sebuah fondasi, fondasi masa depan, ialah masa depan indonesia

   Bergelut dengan buku adalah tugas Mahasiswa, sampai kapanpun buku dan isinya akan menjadi tolak ukur sebuah prestasi dan nilai, temanku banyak sekali yang cerdas namun tidak memiliki mimpi yang berani dan beresiko, entah apa, ingin hidup aman, cepat sampai tujuan dan menyingkatkan waktu, namaku Ramlan Mahasisiwa Hukum yang paling tidak suka berdebat, Ayah dan Ibuku seorang Hakim di pengedilan negeri, mereka menginginkan aku menjadi seorang yang tidak jauh dari hukum, padahal aku membenci soal hukum , aku lebih senang sastra dan disinilah hidup yang sebenarnya, aku mengenal Harun.

   Jakarta era 90 masih terlihat kota metro yang tentram, sedikit masih mengingatkan sejarah yang berlaku dalam masa lalu, dimanapun Indonesia akan dapat anugerah memiliki orang- yang berpatriot tinggi seperti salah satunya Harun, seorang negarawan, sastrawan, dan teman karibku, aku sedang berjalan-jalan di daerah tanah kusir sambil meminta petuah padanya. Aku bisa dapat banyak ilmnu dari dia, soal karya sastra, penulis, dan daya pikat terhadap karya tersebut, Harun memiliki kegemaran membaca semua karya pramodya ananta tour, saat dia sedang membaca , kau tak akan pernah mendapat jawaban ketika kau bertanya sesuatu, itulah saat dia terlihat skeptis, ketika selesai dia akan kembali berorasi tentang dunianya dan sekitar.

  Roman remaja sedang gencar-gencarnya, ceritanya lumayan bagus ditambah proses-proses kocak, kehidupan mahasiswa tidak jauh dari cinta dan berpikir, aku akan selalu membaca novel dan cerpen, yang penting masih ada waktu yang mampu kugunakan, selebihnya orangtuaku hanya tahu bahwa aku berkuliah di fakultas hukum dan mempelajari hukum sesuai yang mereka inginkan. Harun pernah berkata jadilah diri sendiri dan berkatalah sesuai hatimu, berarti logika buat apa, pernah kutanyakan seperti itu, logika itu adalah senjata untuk bertarung, cetusnya Tempat paling asik adalah dikampus, namun yang paling pertama memang di rumah, aku menempati kamar kost yang lumayan nyaman di dekat kampusku Trisakti, tetangga yang tidak rese, kritis dan penuh inspirasi, bagiku tempatku koot adalah rumah inspirasi dari dalam maupun luar, untuk diri dan sosial, tempatku sementara demi mendapatkan gelar, dan menelusuri hidup yang semakin dewasa, ada hal yang kuinginkan selama disini, berkumpul dengan orang-orang yang sesuai denganku, mencintai sastra dan kebebasan berkespresi.

   Harun merupakan mahasisiwa jurusan sastra indonesia di Universitas Indonesia, dan tempat tinggalnya pun tak jauh dari kampus, dia memilih dekat kampus agar terjangkau serta tidak terlalu mengeluarkan biaya untuk transportasi, Harun merupakan perantau, asalnya darii makasar, orang makasar kuat-kuat tidak manja, beda dengan orang jakarta, bagiku inilah pelajaran bermotivasi bukan tembok penghalang kita bisa belajar dari satu sama lain, dalam dunia kampus tidak ada hal yang begitu diskriminasi, api bisa jadi air, dan air bisa jadi api, semua boleh berubah sesuai diri sendiri,

   Sabtu dan minggu aku sering meghabiskan waktu dengankawan-kawan sefakultas maupun membaca buku seharian, banyak segudang novel di lemari, bagaikan hiasan yang tak terhingga, masing-masing novel yang kubeli mempunyai sejarah yang tak berharga, menyisihkan uang jajan,sampai membohongi orangtuaku untuk membeli benda tersebut dengan jumlah banyak, bagiku waktu tak akan terbuang-buang dengan membaca novel, dari sanalah aku dapat berbagai hal, yang tak kuketahui ketika hanya berjalan mulus saja, suasana Jakarta sabtu dan minggu pagi cukup ramai, waktu santai, ada meluangkan waktu berolah raga, berbelanja dan sebagainya,

   Harun masuk dalam himpunan mahasisiwa sastra, aku tidak begitu antusia menjadi aktifis, atau melakukan kegiatan di kampus, malahan aku lebih senang berada di kampus Harun, banyak orang hebat disana dan sesuai denganku, jika ku bertanya tatkala jawaban aku dapat, aku mengenal Cepi, Galih, Rindra, dan Gusti, teman-teman yang paling akrab dengan Harun, mereka ramah, supel dan tak begitu kehabisan bahan percakapan. Saat ku selesai berkuliah secepatnya kau menuju kost Harun, membawa makanan ringan untuk disantap saat mengobrol, sering aku tidak mendapatinya di kamarnya, ketika ku tanya ke temannya, dia sedang dikampus. kadang aku malas menyusulnya , kadang juga kau menghampirinya untuk menghabiskan waktu.

  Liburan tiba dan aku harus kembali ke rumahku di Bandung, kembali bersama orangtua, suasan rumah yang membosankan, dan teman-teman yang sudah entah kemana, gara-gara rencana hidupnya. Sepetinya mudah memutuskan pulang ke rumah, Jakarta lebih indah sekarang dari pada Bandung, mungkin ketika sma, bandung itu memang indah karena aku menjalani dengans sesuka cita tanpa mengenal hdiup yang sebenarnya, Jakarta ibu kota yang ramah, tak ada pandangan ibukota lebih kejam dari ibu tiri , yang perlu adalah kesadaran diri, untuk mengabdi pada negara..

  Didalam perjalanan menuju Bandung, aku teringat Harun, dia tidak pulang ke Makasar libur semester ini, karena tidak punya ongkos kesana. Aku melihatnya kasihan, ketika sampai ke daerah Bandung aku selalu memikirkannya. 

  Dalam ingatanku adalah berencana pulang lagi ke Jakarta untuk menemani Harun, namun rasanya orangtuaku sungguh rindu padaku, karena 6 bulan tidak bertemu, jadilah aku hanya memberi kabar dengan menghubunginya lewat handphone, Harun senang mendapat perhatian dariku, walaupun dia hanya bisa bersabar menahan rindu kepada orangtuanya.
 
  Hari ini aku berkeliling Bandung dengan santai , menjumpai sekolahku dulu, tempat bermain dulu, dan kebiasaaan kenakalanku, semua kembali teringat, semua menyatu. Dengan lancarnya sepeda motorku mengitari ruas-ruas jalan.,

*****

  Harun terlihat sangat gelisah, memandang isi dompetnya yang menipis, liburan ini menbuat keuangannya menipis, tidak ada kegiatan, dan dia harus terperangkap di kostsan, namun ketegarannya hanya bisa di rasasakan sendiri, dia tak pantang menyerah, itulah dia, bisa dimana saja menantang alam. Harun keluar kamar kost lalu menuju sesuatu, hingga sampai di tujuan dia membeli koran, yang ada halaman lowongan kerja untuk part time, wajahnya tak henti menatap kolom lowongan, demi mencari uang tambahan, begitulah cara dia menghabiskan waktu libutran Harun tak akan pernah mengalah pada keadaan, dalam segala kesedehaanaan mencoba menbangkitkan semangat demi mengejar kesuksesan, remaja seperti dia jarang sekali ditemukan.

*****

  Aku merasa jenuh menghabiskan waktu berleha-leha pada liburan ini, namun apa yang harus kukerjakan, aku tidak punya bisnis, temanku juga, semua sudah tersedia secara utuh dihadapan.Terus kupikirkan perihal tersebut, bagaimana mengisi liburan ini dengan berarti
Orangtuaku tiba-tiba memutuskan pergi keluar kota karena ada acara dinas, akhirnya aku ditinggal sendiri dengan Bi cicih, pembantu rumah tangga yang sudah bekerja 10 tahun. perasaanku ada yang berbeda, apa ini disebut kesempatan.

 Sebelum merencanakan yang ada dipikiranku, aku menghubungi harun dulu, namun sudah berapa kali mengubungi harun tidak ada jawaban, aku menunggu kepastian, dan terus menunggunya. 

*****

 Harun terlihat sibuk di sebuah tempat, banyak tamu yang datang, dan banyak yang ingin dilayani, Harun diterima kerja di sebuah rumah makan terkenal di jakarta, menjadi salah satu pelayan, kabar ini belum dia sampaikan ke  temannya, Dia tak tahu salah satu temannya resah mendapat kabar darinya, namun pekerjaannya terus terpacu oleh pelayanana yang harus selalu diberikan oleh tamu, semuanya harus tetap terkendali dan tanggung jawab dalam pekerjaan.

 Kerja seperti ini memang memakan banyak tenaga, beda dengan menggunakan akal, namun Harun merasa bimbang untuk mendapatkan pekerjaan secepatnya, apalagi dia selalu membutuhkan uang, Harun selalu menikmatin hidupnya.

*****

   Esoknya aku nekat ke Jakarta menggunakan motor, untuk menemui Harun, tidak ada waktu lagi, percuma jika harus menunggu , aku harus mencoba, Di dalam perjalanan aku merasa bimbang akan mendapatkan harun, karena kemarin dia tidak membalas panggilanku, aku akan merasa ini jalan yang sia-sia, namun sesekali ku bertanya pada hati, usaha itu tidak akan sia-sia. 

   Sesampainya di tempat Harun, benar dugaanku dia tidak ada di kamarnya, apa dia tiba-tiba pulang ke Makasar, apa yang kuperkirakan bener-bnenar terjadi. Tiba-tiba seseorang memanggilku dan mengatakan bahwa Harun sudah bekerja di rumah makan di daerah perkotaan, akhiranya tanpa basa-basi aku langsung menuju tempat bekerjanya.

*****

   Bi cicih akhirnya terkaget tidak menemukan majikannya, padahal dia harus menjaganya, bertanggung jwab tentang keberadaannya, wajahnya terlihat pucat dan mencoba mengabari seseorang

*****

  Harun disapa lembut oleh seorang pria, dan dia terkaget ternyata itu temannya, lalu Harun meminta maaf karena tidak mengabarinya, karena alasan sibuk, dan padat, lalu temanya tersebut memesan menu makanan yang paling istimewa.

  Harub diminta menemani temannya sendiri mengobrol di meja tamu tersebut, namun dia menolak dengan lembut karena alasan baru bekerja tidak ingin mengalami hari yang sulit, tamu itu pun bersedia dan mengambil kesempatan nanti.

  Harun memberikan kunci kamarnya ke sahabatnya itu, lalu dia membayar pesanan, dan lekas pergi menuju kamar kost

******

  Aku sedang asik membaca buku-buku Harun, di kamar kostnya, benar-benar pecinta sastra, tak asal ku memilih kawan, dia sesuai denganku, hidupku tak akan sia-sia.

*****

 Sodik dan Ida terlihat khawatir karena mendapatkan anaknya tidak diketahui, mereka mencoba menghubungi kerabat anaknya lalu menghubungi sanak saudara, orangtuanya mengherankan anaknya pergi tanpa pesan, biasa anak tersebut memberi kabar sebelum keluar rumah, inilah hal yang paling mencurigakan.

****

  Sekarang saatnya tiba, Harun dan aku berkumpul dalam satu ruangan di malam hari, Harun terlihat lelah, karena menjadi pelayan rumah makan, dia sempat mengeluh, lebih enak jadi aktifis, daripada pelayan, aku hanya memberikan kata sabar untuknya, dan memberikan bantuan sedikit jika dia butuh pertolongan, aku sebgaai teman hanya bisa seperti itu.

  Setelah perbincangan tersebut, kami tertidur dengan pulas, aku sempat menkhawatirkan kedatanganku merepotkannya, jika mungkin esok aku kembali ke bandung, aku akan berangkat ke bandung.

  Pagi hari kami terbanguun, ketika pukul 10 mulai terlampir di jam, harun bersiap-siap kembali ke pekerjaannya, aku memberikan pernyataan bahwa aku akan pulang ke bandung siang hari, harun teras tidak enak denganku, namun ku mencoba memberikan perumpamaan bahwa ini akan baik-baik saja, lalu harun bergegas pergi.

*****

  Ketika jam 8 aku terbangun,  aku menyalakan handphone-ku yang semalan tidak aktif, aku mendapatkan banyak pesan masuk serta panggilan, dan aku mendapat segala kekecewaan, orangtuaku mengetahui aku pergi dari rumah, bodohnya aku tidak memberi tahu ke bibi, karena memang bibi tidak bisa dia ajak konspirasi.

*****

  Kembali ke bandung bukan hal yang aku sukai, hanya saja aku tidak ingin merepotkan harun yang sedang mencari uang tambahan di liburan ini, sukarela lah aku menghentikan liburan di jakarta, kini dalam perjalanan aku memikirkan rumah.

 Sampai di rumah orangtuaku sudah menunggu dan menaruh curiga, menatap berbeda terhadapku, mereka menanyakanku dari mana, aku berusaha berkelak, namun semua sudah ketahuan dulu, aku kena batunya karena perbuatanku, mereja mengetahui aku pergi bandung, seseorang melihatku disana, dan itu orang dekat mereka.

  Akibat kenekatan itu, aku harus berada di rumah selama liburan ini, mendapat hukuman yang lebih berat dari sekedar memotong uang jajan,  apa yang haru kukejarkan di dalam rumah.

*****

  Harun terasa rindu pada sahabatnya yang rela datang kesini tanpa konfirmasi darinya, harun merasa dia sahabat  yang benar-benar sejati, sahabat dari tempat lain, sahabat yang datang mencarinya, mencoba melakukan sesuatu, Harun merasa bersalah.

*****

 Waktu liburan habis, dan seluruh mahasisiwa di jakarta kemabali bertarung dengan sks dan membenani waktu dengan tugas-tugas atau materi terkait, Aku dan harun kembali berkumpul dan menjalani hidup sebagai mahasiswa yang berbeda namun memiliki satu tujuan 
 
*****

  3 tahun kemudian.....

  Acara wisuda berlangsung meriah, seluruh peserta bersorak-sorak riang, bagaikan burung yang dilepas ke udara, hari ini sangat bahagia, seperti mendapat kedewasaan dan menantang hidup selanjutnya.

  Harun berpotret denganku di depan sebuah gedung, gedung dimana aku wisuda, harun datang dalam acara wisudaku, bertemu kedua orangtuaku dan melihatku semangatku. Saat menghadiri wisudaku harun belum lulus, namun 6 bulan kemudian dia berhasil sidang skripsinya dengan hasil memuaskan, aku datang dengan senang hati, lalu memeluk temanku yang sukses tersebut. Kita akan saling mengabari keadaan setelah lulus , hal alami bahwa  kita akan berpisah demi mencari pekerjaan, harun selalu menatapku tegas dan mengatakan jangan pernah putus asa, aku berencana berkerja di bandung, dan harun masih memiliki kesempatan dimana - mana, belum menentukan lokasi.

*****
  4  tahun kemudian.....
 
  Rezeki itu dijemput bukan dicari, orangtua ku percaya bahwa rezeki sudah disiapkan oleh tuhan, aku mendapatkan hal tersebut, aku menjemput mimpiku menjadi seorang dosen di fakultas ilmu budaya di UI, aku menjadi seorang guru di kampus harun, namun keberadaan harun lenyap begitu saja.

 Aku mencoba menghubungi kontaknya yang dulu namun tidak mendapat jawaban, aku mencoba mencari kawan-kawannya, namun hasil nihil, aku hanya ingin memberitahukan bahwa mimpiku telah tercapai.

*****

 Terdengar kabar bahwa harun sudah neikah dengan pasangannya di makasar, namun secepat itu dia menikah, padahal orang seperti harun hanya ingin bermimpi, berusaha, dan sukses, untyuk soal menikah bukan prioritas utama, di hadapan meja kantorku aku berusaha berpikir untuk memastikan kabar tersebut.

*****

  Sulit bagiku jika hanya menunggu, aku kan berusaha, aku nekat ke makasar demi bertemu dengan harun dan memastikan keadaannya, akua kan selalu berusaha untuk orang ini, orang yang membuatku mengerti bahwa cita-cita yang kau impikan tidak pernah jadi mimpi jika kau berusaha.

  Aku melakukan penerbangan ke makasar dengan mengantongi alamat lengkap harun di makasar, sesampainya di bandara hasanudin, aku menumpangi taksi dan memberikan alamat harun, sopir taksi akhirnya tahu alamat tersebut, perjalanan pun dimulai.

*****

   Waktu tak akan pernah bisa kita lepas, dia akan berusaha terus memeluk kita, memberi makna, memberi pesan, untuk selalu melangkah tanpa henti.
Kita tak dapat mematikan semangat orang-orang yang punya mimpi, orang orang yang mencari arti sebenarnya, Sesuatu yang kita cari akan muncul dengan sendirinya ketika kita mencoba menggali, begitukah kita, beginilah hidup, Sosoknya akan selalu ku kenang, namanya akan selalu kurindu, mimpiku dan mimpinya akan selalu bertemu, dalam tanah dan udara yang berbeda 

 Namanya terpampang dalam papan nisan ‘”harun bin iskandar” teman sekaligus pembimbing hidup, yang selalu membantuku menyikapi hidupku sendiri, dialah yang mengubah cara pandang hidupku, sosok yang datang dalam wisudaku, saat berpisah, dan janji-janjinya untukbertemu ketika kami sudah sukses nanti.




                                                                                        
                                                                                                    Jatinangor, Jawa Barat 

About the Author

Unknown / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Post a Comment

Catatan Penulis & Arsip Pribadi

Powered by Blogger.

Instagram

Popular Posts

Contact Us

Name

Email *

Message *

Pages

Like us

http://melanialysandra.blogspot.com/

About me

Nama : Helmi Agusrizal Place/Date of Birth : Jakarta/august 02, 1988 Sex : Male Citizenship : Indonesia Marital status : Married Religion : Moslem E-mail address : Helmi.agusrizal@gmail.com Address : Pondok Budiasih (Saluyu), Jl. Ahmad Syam, Kampung Ciawi, Desa Cikeruh (RT/RW 02/04), Jatinangor – Sumedang, Jawa Barat. 45363 Phone : Mobile (081214613112) Formal Education : 2006 – 2010 IKOPIN, majoring in human resourch management, Jatinagor-Bandung 2003 – 2006 Senior High School in SMA YUPPENTEK 1 Tangerang, Banten-Serang 2001 – 2003 Junior High School in SMPN 19 Tangerang, Banten-Serang 1995 – 2001 Elementary School in SDN Dayung Tangerang, Banten-Serang 1993 - 1995 Kindergaten School in TK Nurul Islam Tangerang, Banten-Serang

Facebook

http://delighthomegarden.blogspot.com/

Entri Populer