Musim kemarau
telah kembali, sang gurun telah mengampar hingga melukis daratan dengan debu
yang menjadi kemelut bagi jiwa-jiwa yang sedang galau, meninggalkan masa lalu,
dalam musim yang lebih baik dari sekarang, orang-orang tersebut akan menjemput
hujan, lalu bernyayi diantara irama hujan, mengingatkan memori hingga
memunculkan romansa. Setelah hujan mereka akan menemukan sebuah jalan yang
menuju sebuah tujuan, ketika senja menguning cahaya itu akan segera lenyap
bersama kabar gembira yang akan mereka lalui.
Lelaki adalah
imam, imam bagi dirinya sendiri dan keluarga, pasangannya, dan anak-anaknya,
tak ada yang lebih dari soal cinta dan kehidupan, semestinya kini orang memilih
jalan untuk menjadi pemimpin ada juga yang memilih istirahat diantara taman
hijau, itu semua fatamorgana, delusi, dan imajinasi yang membunuh, lelaki perlu
realitas, lelaki harus punya banyak mimpi, lelaki harus memiliki eksistensi.
Ada lelaki yang
ku kenal bernama Harun, dia seorang pemimpi, banyak akal, dan pembicaraannya
gampang di cerna, selusin rencana pernah dia ungkapkan padaku, dia sobatku, dia
pasangan bisnisku, untuk hidup dan akhirat, sekarang sulit mencari lelaki seperti
itu, saat ini hanya kenangannya yang memanja, sketsa foto harun yang selalu
terpampang di meja kantorku.
*****
10 tahun yang
lalu
Perekonomian
indonesia lebih baik karena dipimpin Soeharto, segalanya aman dan terkendali,
akhirnya tiba pergerakan melengserkan soeharto karena sistem prpogandanya terhadap
kepemerintahan, gerakan pelengseran soeharto dominan dilakukan oleh mahasisiwa,
tragedi tersebut membuat sejarah bagi indonesia.
Periode baru dimulai, Habibie memegang kekuasaan dan pemerintah baru dimulai ,
kehidupan berangsur adanya. Gerakan
mahasisiwa era 90 an ramai sekali, ada yang pro ada yang kontra, ada yang
bersatu dan memisahkan diri, Universitas indonesia merupakan sarang dari Aktififis,
dan selanjutnya diikuti Trisakti, Trisakti dikenal bonafit, Universitas Indonesia
ladang orang pintar, dan target sebagian remaja untuk menggeluti dunia kampus
negeri. Paradigma masyarakat menjadi sebuah simbol bagaimana menjadi manusia
cerdas di negeri sendiri, mahasisiwa merupakann rangka bagian bawah untuk
membentuk sebuah fondasi, fondasi masa depan, ialah masa depan indonesia
Bergelut dengan
buku adalah tugas Mahasiswa, sampai kapanpun buku dan isinya akan menjadi tolak
ukur sebuah prestasi dan nilai, temanku banyak sekali yang cerdas namun tidak
memiliki mimpi yang berani dan beresiko, entah apa, ingin hidup aman, cepat
sampai tujuan dan menyingkatkan waktu, namaku Ramlan Mahasisiwa Hukum yang
paling tidak suka berdebat, Ayah dan Ibuku seorang Hakim di pengedilan negeri,
mereka menginginkan aku menjadi seorang yang tidak jauh dari hukum, padahal aku
membenci soal hukum , aku lebih senang sastra dan disinilah hidup yang
sebenarnya, aku mengenal Harun.
Jakarta era 90
masih terlihat kota metro yang tentram, sedikit masih mengingatkan sejarah yang
berlaku dalam masa lalu, dimanapun Indonesia akan dapat anugerah memiliki orang-
yang berpatriot tinggi seperti salah satunya Harun, seorang negarawan,
sastrawan, dan teman karibku, aku sedang berjalan-jalan di daerah tanah kusir
sambil meminta petuah padanya. Aku bisa dapat banyak ilmnu dari dia, soal karya
sastra, penulis, dan daya pikat terhadap karya tersebut, Harun memiliki
kegemaran membaca semua karya pramodya ananta tour, saat dia sedang membaca ,
kau tak akan pernah mendapat jawaban ketika kau bertanya sesuatu, itulah saat
dia terlihat skeptis, ketika selesai dia akan kembali berorasi tentang dunianya
dan sekitar.
Roman remaja
sedang gencar-gencarnya, ceritanya lumayan bagus ditambah proses-proses kocak,
kehidupan mahasiswa tidak jauh dari cinta dan berpikir, aku akan selalu membaca
novel dan cerpen, yang penting masih ada waktu yang mampu kugunakan, selebihnya
orangtuaku hanya tahu bahwa aku berkuliah di fakultas hukum dan mempelajari
hukum sesuai yang mereka inginkan. Harun pernah berkata jadilah diri sendiri
dan berkatalah sesuai hatimu, berarti logika buat apa, pernah kutanyakan
seperti itu, logika itu adalah senjata untuk bertarung, cetusnya Tempat paling
asik adalah dikampus, namun yang paling pertama memang di rumah, aku menempati
kamar kost yang lumayan nyaman di dekat kampusku Trisakti, tetangga yang tidak
rese, kritis dan penuh inspirasi, bagiku tempatku koot adalah rumah inspirasi
dari dalam maupun luar, untuk diri dan sosial, tempatku sementara demi mendapatkan
gelar, dan menelusuri hidup yang semakin dewasa, ada hal yang kuinginkan selama
disini, berkumpul dengan orang-orang yang sesuai denganku, mencintai sastra dan
kebebasan berkespresi.
Harun merupakan
mahasisiwa jurusan sastra indonesia di Universitas Indonesia, dan tempat
tinggalnya pun tak jauh dari kampus, dia memilih dekat kampus agar terjangkau
serta tidak terlalu mengeluarkan biaya untuk transportasi, Harun merupakan
perantau, asalnya darii makasar, orang makasar kuat-kuat tidak manja, beda
dengan orang jakarta, bagiku inilah pelajaran bermotivasi bukan tembok
penghalang kita bisa belajar dari satu sama lain, dalam dunia kampus tidak ada
hal yang begitu diskriminasi, api bisa jadi air, dan air bisa jadi api, semua
boleh berubah sesuai diri sendiri,
Sabtu dan minggu
aku sering meghabiskan waktu dengankawan-kawan sefakultas maupun membaca buku
seharian, banyak segudang novel di lemari, bagaikan hiasan yang tak terhingga,
masing-masing novel yang kubeli mempunyai sejarah yang tak berharga,
menyisihkan uang jajan,sampai membohongi orangtuaku untuk membeli benda tersebut
dengan jumlah banyak, bagiku waktu tak akan terbuang-buang dengan membaca
novel, dari sanalah aku dapat berbagai hal, yang tak kuketahui ketika hanya
berjalan mulus saja, suasana Jakarta sabtu dan minggu pagi cukup ramai, waktu
santai, ada meluangkan waktu berolah raga, berbelanja dan sebagainya,
Harun masuk dalam
himpunan mahasisiwa sastra, aku tidak begitu antusia menjadi aktifis, atau
melakukan kegiatan di kampus, malahan aku lebih senang berada di kampus Harun,
banyak orang hebat disana dan sesuai denganku, jika ku bertanya tatkala jawaban
aku dapat, aku mengenal Cepi, Galih, Rindra, dan Gusti, teman-teman yang paling
akrab dengan Harun, mereka ramah, supel dan tak begitu kehabisan bahan
percakapan. Saat ku selesai berkuliah secepatnya kau menuju kost Harun, membawa
makanan ringan untuk disantap saat mengobrol, sering aku tidak mendapatinya di
kamarnya, ketika ku tanya ke temannya, dia sedang dikampus. kadang aku malas
menyusulnya , kadang juga kau menghampirinya untuk menghabiskan waktu.
Liburan tiba dan
aku harus kembali ke rumahku di Bandung, kembali bersama orangtua, suasan rumah
yang membosankan, dan teman-teman yang sudah entah kemana, gara-gara rencana
hidupnya. Sepetinya mudah memutuskan pulang ke rumah, Jakarta lebih indah
sekarang dari pada Bandung, mungkin ketika sma, bandung itu memang indah karena
aku menjalani dengans sesuka cita tanpa mengenal hdiup yang sebenarnya, Jakarta
ibu kota yang ramah, tak ada pandangan ibukota lebih kejam dari ibu tiri , yang
perlu adalah kesadaran diri, untuk mengabdi pada negara..
Didalam perjalanan
menuju Bandung, aku teringat Harun, dia tidak pulang ke Makasar libur semester
ini, karena tidak punya ongkos kesana. Aku melihatnya kasihan, ketika sampai ke
daerah Bandung aku selalu memikirkannya.
Dalam ingatanku
adalah berencana pulang lagi ke Jakarta untuk menemani Harun, namun rasanya
orangtuaku sungguh rindu padaku, karena 6 bulan tidak bertemu, jadilah aku
hanya memberi kabar dengan menghubunginya lewat handphone, Harun senang mendapat perhatian dariku, walaupun dia
hanya bisa bersabar menahan rindu kepada orangtuanya.
Hari ini aku
berkeliling Bandung dengan santai , menjumpai sekolahku dulu, tempat bermain
dulu, dan kebiasaaan kenakalanku, semua kembali teringat, semua menyatu. Dengan
lancarnya sepeda motorku mengitari ruas-ruas jalan.,
*****
Harun terlihat
sangat gelisah, memandang isi dompetnya yang menipis, liburan ini menbuat
keuangannya menipis, tidak ada kegiatan, dan dia harus terperangkap di kostsan,
namun ketegarannya hanya bisa di rasasakan sendiri, dia tak pantang menyerah,
itulah dia, bisa dimana saja menantang alam. Harun keluar kamar
kost lalu menuju sesuatu, hingga sampai di tujuan dia membeli koran, yang ada
halaman lowongan kerja untuk part time,
wajahnya tak henti menatap kolom lowongan, demi mencari uang tambahan,
begitulah cara dia menghabiskan waktu libutran Harun tak akan
pernah mengalah pada keadaan, dalam segala kesedehaanaan mencoba menbangkitkan
semangat demi mengejar kesuksesan, remaja seperti dia jarang sekali ditemukan.
*****
Aku merasa jenuh
menghabiskan waktu berleha-leha pada liburan ini, namun apa yang harus kukerjakan,
aku tidak punya bisnis, temanku juga, semua sudah tersedia secara utuh
dihadapan.Terus kupikirkan perihal tersebut, bagaimana mengisi liburan ini
dengan berarti
Orangtuaku
tiba-tiba memutuskan pergi keluar kota karena ada acara dinas, akhirnya aku
ditinggal sendiri dengan Bi cicih, pembantu rumah tangga yang sudah bekerja 10
tahun. perasaanku ada yang berbeda, apa ini disebut kesempatan.
Sebelum
merencanakan yang ada dipikiranku, aku menghubungi harun dulu, namun sudah
berapa kali mengubungi harun tidak ada jawaban, aku menunggu kepastian, dan
terus menunggunya.
*****
Harun terlihat
sibuk di sebuah tempat, banyak tamu yang datang, dan banyak yang ingin
dilayani, Harun diterima kerja di sebuah rumah makan terkenal di jakarta,
menjadi salah satu pelayan, kabar ini belum dia sampaikan ke temannya, Dia tak tahu salah
satu temannya resah mendapat kabar darinya, namun pekerjaannya terus terpacu
oleh pelayanana yang harus selalu diberikan oleh tamu, semuanya harus tetap
terkendali dan tanggung jawab dalam pekerjaan.
Kerja seperti ini
memang memakan banyak tenaga, beda dengan menggunakan akal, namun Harun merasa
bimbang untuk mendapatkan pekerjaan secepatnya, apalagi dia selalu membutuhkan
uang, Harun selalu menikmatin hidupnya.
*****
Esoknya aku nekat
ke Jakarta menggunakan motor, untuk menemui Harun, tidak ada waktu lagi, percuma
jika harus menunggu , aku harus mencoba, Di dalam
perjalanan aku merasa bimbang akan mendapatkan harun, karena kemarin dia tidak
membalas panggilanku, aku akan merasa ini jalan yang sia-sia, namun sesekali ku
bertanya pada hati, usaha itu tidak akan sia-sia.
Sesampainya di
tempat Harun, benar dugaanku dia tidak ada di kamarnya, apa dia tiba-tiba
pulang ke Makasar, apa yang kuperkirakan bener-bnenar terjadi. Tiba-tiba
seseorang memanggilku dan mengatakan bahwa Harun sudah bekerja di rumah makan
di daerah perkotaan, akhiranya tanpa basa-basi aku langsung menuju tempat
bekerjanya.
*****
Bi cicih akhirnya
terkaget tidak menemukan majikannya, padahal dia harus menjaganya, bertanggung
jwab tentang keberadaannya, wajahnya terlihat pucat dan mencoba mengabari seseorang
*****
Harun disapa
lembut oleh seorang pria, dan dia terkaget ternyata itu temannya, lalu Harun
meminta maaf karena tidak mengabarinya, karena alasan sibuk, dan padat, lalu
temanya tersebut memesan menu makanan yang paling istimewa.
Harub diminta
menemani temannya sendiri mengobrol di meja tamu tersebut, namun dia menolak
dengan lembut karena alasan baru bekerja tidak ingin mengalami hari yang sulit,
tamu itu pun bersedia dan mengambil kesempatan nanti.
Harun memberikan
kunci kamarnya ke sahabatnya itu, lalu dia membayar pesanan, dan lekas pergi
menuju kamar kost
******
Aku sedang asik
membaca buku-buku Harun, di kamar kostnya, benar-benar pecinta sastra, tak asal
ku memilih kawan, dia sesuai denganku, hidupku tak akan sia-sia.
*****
Sodik dan Ida
terlihat khawatir karena mendapatkan anaknya tidak diketahui, mereka mencoba menghubungi
kerabat anaknya lalu menghubungi sanak saudara, orangtuanya mengherankan
anaknya pergi tanpa pesan, biasa anak tersebut memberi kabar sebelum keluar
rumah, inilah hal yang paling mencurigakan.
****
Sekarang saatnya
tiba, Harun dan aku berkumpul dalam satu ruangan di malam hari, Harun terlihat
lelah, karena menjadi pelayan rumah makan, dia sempat mengeluh, lebih enak jadi
aktifis, daripada pelayan, aku hanya memberikan kata sabar untuknya, dan
memberikan bantuan sedikit jika dia butuh pertolongan, aku sebgaai teman hanya
bisa seperti itu.
Setelah perbincangan
tersebut, kami tertidur dengan pulas, aku sempat menkhawatirkan kedatanganku
merepotkannya, jika mungkin esok aku kembali ke bandung, aku akan berangkat ke
bandung.
Pagi hari kami
terbanguun, ketika pukul 10 mulai terlampir di jam, harun bersiap-siap kembali
ke pekerjaannya, aku memberikan pernyataan bahwa aku akan pulang ke bandung siang
hari, harun teras tidak enak denganku, namun ku mencoba memberikan perumpamaan
bahwa ini akan baik-baik saja, lalu harun bergegas pergi.
*****
Ketika jam 8 aku
terbangun, aku menyalakan handphone-ku yang semalan tidak aktif,
aku mendapatkan banyak pesan masuk serta panggilan, dan aku mendapat segala
kekecewaan, orangtuaku mengetahui aku pergi dari rumah, bodohnya aku tidak memberi
tahu ke bibi, karena memang bibi tidak bisa dia ajak konspirasi.
*****
Kembali ke
bandung bukan hal yang aku sukai, hanya saja aku tidak ingin merepotkan harun
yang sedang mencari uang tambahan di liburan ini, sukarela lah aku menghentikan
liburan di jakarta, kini dalam perjalanan aku memikirkan rumah.
Sampai di rumah
orangtuaku sudah menunggu dan menaruh curiga, menatap berbeda terhadapku,
mereka menanyakanku dari mana, aku berusaha berkelak, namun semua sudah
ketahuan dulu, aku kena batunya karena perbuatanku, mereja mengetahui aku pergi
bandung, seseorang melihatku disana, dan itu orang dekat mereka.
Akibat kenekatan
itu, aku harus berada di rumah selama liburan ini, mendapat hukuman yang lebih
berat dari sekedar memotong uang jajan,
apa yang haru kukejarkan di dalam rumah.
*****
Harun terasa
rindu pada sahabatnya yang rela datang kesini tanpa konfirmasi darinya, harun
merasa dia sahabat yang benar-benar sejati,
sahabat dari tempat lain, sahabat yang datang mencarinya, mencoba melakukan
sesuatu, Harun merasa bersalah.
*****
Waktu liburan
habis, dan seluruh mahasisiwa di jakarta kemabali bertarung dengan sks dan
membenani waktu dengan tugas-tugas atau materi terkait, Aku dan harun kembali
berkumpul dan menjalani hidup sebagai mahasiswa yang berbeda namun memiliki
satu tujuan
*****
3 tahun kemudian.....
Acara wisuda
berlangsung meriah, seluruh peserta bersorak-sorak riang, bagaikan burung yang
dilepas ke udara, hari ini sangat bahagia, seperti mendapat kedewasaan dan
menantang hidup selanjutnya.
Harun berpotret
denganku di depan sebuah gedung, gedung dimana aku wisuda, harun datang dalam
acara wisudaku, bertemu kedua orangtuaku dan melihatku semangatku. Saat menghadiri wisudaku harun belum lulus, namun 6 bulan
kemudian dia berhasil sidang skripsinya dengan hasil memuaskan, aku datang
dengan senang hati, lalu memeluk temanku yang sukses tersebut. Kita akan saling
mengabari keadaan setelah lulus , hal alami bahwa kita akan berpisah demi mencari pekerjaan,
harun selalu menatapku tegas dan mengatakan jangan pernah putus asa, aku
berencana berkerja di bandung, dan harun masih memiliki kesempatan
dimana - mana, belum menentukan lokasi.
*****
4 tahun kemudian.....
Rezeki itu
dijemput bukan dicari, orangtua ku percaya bahwa rezeki sudah disiapkan oleh tuhan,
aku mendapatkan hal tersebut, aku menjemput mimpiku menjadi seorang dosen di fakultas
ilmu budaya di UI, aku menjadi seorang guru di kampus harun, namun keberadaan
harun lenyap begitu saja.
Aku mencoba
menghubungi kontaknya yang dulu namun tidak mendapat jawaban, aku mencoba
mencari kawan-kawannya, namun hasil nihil, aku hanya ingin memberitahukan bahwa
mimpiku telah tercapai.
*****
Terdengar kabar
bahwa harun sudah neikah dengan pasangannya di makasar, namun secepat itu dia
menikah, padahal orang seperti harun hanya ingin bermimpi, berusaha, dan
sukses, untyuk soal menikah bukan prioritas utama, di hadapan meja kantorku aku
berusaha berpikir untuk memastikan kabar tersebut.
*****
Sulit bagiku jika
hanya menunggu, aku kan berusaha, aku nekat ke makasar demi bertemu dengan
harun dan memastikan keadaannya, akua kan selalu berusaha untuk orang ini,
orang yang membuatku mengerti bahwa cita-cita yang kau impikan tidak pernah
jadi mimpi jika kau berusaha.
Aku melakukan
penerbangan ke makasar dengan mengantongi alamat lengkap harun di makasar,
sesampainya di bandara hasanudin, aku menumpangi taksi dan memberikan alamat harun,
sopir taksi akhirnya tahu alamat tersebut, perjalanan pun dimulai.
*****
Waktu tak akan
pernah bisa kita lepas, dia akan berusaha terus memeluk kita, memberi makna,
memberi pesan, untuk selalu melangkah tanpa henti.
Kita tak dapat
mematikan semangat orang-orang yang punya mimpi, orang orang yang mencari arti
sebenarnya, Sesuatu yang kita
cari akan muncul dengan sendirinya ketika kita mencoba menggali, begitukah
kita, beginilah hidup, Sosoknya akan
selalu ku kenang, namanya akan selalu kurindu, mimpiku dan mimpinya akan selalu
bertemu, dalam tanah dan udara yang berbeda
Namanya
terpampang dalam papan nisan ‘”harun bin iskandar” teman sekaligus pembimbing
hidup, yang selalu membantuku menyikapi hidupku sendiri, dialah yang mengubah
cara pandang hidupku, sosok yang datang dalam wisudaku, saat berpisah, dan
janji-janjinya untukbertemu ketika kami sudah sukses nanti.
Jatinangor, Jawa Barat

0 comments:
Post a Comment