Sekiranya mereka tahu apa tujuanku belajar disini “bukan terus bermain dan membuang waktu” kalau saja tak ada iman di dalam hati, mungkin sekarang aku sudah menjadi manusia kotor yang menjilati dosa-dosa yang tersaji begitu memesona
“kau yakin tujuanmu, belajar ?”
“sedikit saja kau nikmati kepuasaan dan kenikmatan”
“aku tak mau, justru hal itu yang akan kuhindari”
Percakapan itu terjadi ketika sore yang hangat dan banyak layang-layang di langit…
Justru aku senang ada teman yang sependapat denganku dan saling menjaga kesucian, dalam sebuah kamar kost yang tak begitu luas aku terus bergelut dengan buku, tugas kuliah yang menumpuk, dan ujian-ujian yang menguras akalku. Temanku yang baik itu tinggal dikamar sebelah namanya Beni, dia anak seorang guru ngaji, cita-citanya untuk terus belajar sangat tinggi, ketika keadaan keluarga yang tak mampu untuk meneruskan ke perguruan tinggi dan tak mungkin mengandalkan gaji seorang guru ngaji dan ibunya penjahit, dia berusaha mencari beasiswa disana-sini dengan giat dan kemauan yang keras serta agama dan ibadahnya yang sering kupuji-puji. Karena itulah Beni ini yang sering kupercaya untuk menyetir diriku agar kuat akan godaaan dan hasutan setan.
Berkali-kali teman-teman sefakultasku mencoba menggodaku untuk menenggak minuman keras dan datang ke klub malam sambil melihat wanita-wanita seksi kesanakemari, ini sebuah kehidupan para pelajar perguruan tinggi yang kasat mata, dan mungkin menjadi budaya yang tak akan pernah bisa tergantikan, kesenangan, kenikmatan, hura-hura, itulah yang ibuku bilang, godaan dimana pun akan berlangsung disela-sela hidup yang akan terus kita jalani.
“Teman-temanku tak ada yang benar”
“mengapa kau bicara seperti itu”
“aku melihat langsung kedua temanku bercumbu di toilet kampus”
“astaghfirulloh”
Percakapan aku dengan Beni dimalam sebelum ujian akhir semester, saat itu langit mendung dan udara panas didalam…
Beni merasa aku perlu dibimbing, soalnya aku masih belum cukup iman dan pengetahuan agama, Islam itu berkah, banyak anugerah, dan indah. Keyakinanku memeluk agama islam karena apa ?, agama ini yang mampu menentramkan hatiku dan seisi rumah, jika ada lantunan ayat-ayat suci yang terdengar didalam rumah, seakan kepalaku penuh panorama-panorama yang sungguh sejuk.
“tapi sekarang aku menerima tantangan”
“kalah atau menang ?”
“kuyakin aku berhasil mendapatkan gelar sarjana tanpa ada yang tidak halal di dalam diriku”
Aku berbicara sendiri sambil menatap foto kedua orangtuaku dan adik lelakiku…
Ini hari sabtu tak ada perkuliahan, jadilah aku bangun siang dan sangat siang sekali, aku mengira pagi ini tak ada sebuah aktifitas namun saat kubuka pesan di handphone ku, Beni mengajakku untuk melihat obral buku murah di toko dekat kampus yang baru saja buka. Sepertinya aku mengecewakan Beni, dan yang kubayangkan Beni kecewa padaku, sepertinya juga dia mengetuk-ngetuk pintu tapi entah aku belum tersadar.
Sore hari Gilang datang ke kamar kost ku, dia berniat meminjam catatan padaku, aku menyambutnya dengan senang, Gilang suka hura-hura dan penuh dengan kehidupan seks, namun dia tak pernah mencoba menjerumuskanku, prinsipnya dosa yang dilakukan ditanggung sendiri, tak mau mengajak dan dinasehati untuk meninggalkan dunia itu, serta dia melakukan hal-hal seperti itu seakan tercipta rasa lega di hatinya seperti obat penenang dalam saku. Mungkin dia memiliki banyak beban dan masalah namun tak sedikitpun dia bercerita atau meminta solusi, Gilang seperti jiwa yang menjadi puing dan berserakan di jalan yang bernanah, pikirannya minimalis untuk hidup. “Datang dan senang”, aku tak tahu mengapa dia memilih jalan itu sebagai pelariannya, padahal dunia ini luas banyak hal yang lebih positif dari pada kesenangan semu yang kerugiaannya sangat besar.
Sekitar duniaku saat ini, seperti kertas yang bertebaran ditiup angin sore, melayang layang tak tentu, tak ada tulisan dalam secarik kertas, putih, bersih, ku harap kertas itu tak terbakar karena angin-angin pun tak tentu juga arahnya, akankah terbawa sampai neraka ? atau hilang bersama tenggelamnya matahari ?...Kuharap agamaku dapat menolongku, sebagai petunjuk arah atau navigator yang setia, aku hanya ingin sukses dan menjadi manusia berakhlak.
Sudah semester lima, saat ini tak ada yang berubah pesat, segalanya masih hura-hura dan belajar, semua teman-temanku pun tak ada yang berubah, tetap pada aktifitasnya yang buang-buang waktu. Rasa rinduku terus terobati ketika pulang liburan hingga sampailah menemui keluarga, ayah, ibu, adik, “aku rindu kalian”, aku ingin menceritakan tentang kehidupan pelajar di kota, tak seperti disini, aku menemukan kesejukan di kampungku, cahaya malam yang merasuk kalbu, anak-anak yang berangkat mengaji, suara adzan yang lembut, dan pastinya, suara-suara lantunan ayat suci dari ibuku. Pada suatu hari Beni tak ada dikamarnya dalam kurun waktu seminggu, tak ada kabarpun yang sampai ketelingaku, dimana sahabat setia itu, aku resah mencari sambil bertanya ke teman-temannya. Akhirnya keluarga Beni pun ikut-ikut resah dengan hilangnya Beni.
“kukira dia datang ke pondok pesantren AL-HUDA”
“untuk sekedar menenangkan diri”
“mungkin ada kesulitan dalam akademiknya ataupun masalah lain”
Aku harap-harap cemas tentang Beni, Keluarganya di Klaten mencoba menghubungiku, dan minta penjelasan, dan berusaha menenangkan mereka. Tak ada kabar apapun tentang kejelasan Beni, polisi setempat sudah berusaha semaksimal mungkin, dan harapan tinggal harapan, keluarganya pun seakan pasrah.
Sosok Beni tak ada lagi didekatku, aku seakan terombang-ambing, kemana kesucianku yang dulu, islam yang kupeluk tak ada lagi, pesona metropolis mengangkat keingintahuanku akan sebuah kenikmatan masa muda, gairahku meningkat bersama kepingan-kepingan dosa yang kumakan dengan sadarnya. Mereka senang aku ikut dalam irama mereka, aku duduk diantara remang cahaya, wanita-wanita silih berganti dipandanganku, “itu sangat minim, cantik, bergairah, sensual” , aku merasa terobati akan beni yang telah meninggalkanku, aku masih butuh dia untuk melindungiku dari hal-hal tak ku inginkan dan tak ingin kuketahui. Aku seperti menemukan…..kehidupan…..sebuah hidup yang sempit….layaknya didalam botol alkohol yang kuminum
Rasanya ingin terbang keluar, tapi terlalu tinggi, aku hanya berputar-putar didalamnya, jenuh, pusing, namun membara. Seakan ada sensasi yang muncul dari dalam… Kehidupan ku berubah semenjak kehilangan sahabat setiaku, kuliahku tak efektif, prestasiku menurun, dan agamaku pudar, sembayang, membaca ayat al quran tak terlaksana lagi, aku hanya tertawa terbahak-bahak dalam kerumunan orang-orang yang mencintai kesenangan tanpa kewajiban, inilah awal dan akhir dari cita-cita kedua
orangtuaku dan harapan-harapannya Dosa itu terus membisik dari dalam dan luar, aku hanya melamun dan segan mengatakan “tidak lagi”…
Semoga saja aku tak terlalu dalam jatuh ke lubang ini, aku masih berharap dari hati kecilku untuk sembuh dan menjalani hari-hari biasanya yang sering dilalui dengan Beni, aku merindukannya sangat merindukannya, aku terus memikirkan perkuliahanku, prestasiku turun drastis sengaja aku tak laporkan kepada orangtuaku, aku malu sekali, dan ini ujianku untuk memperbaikinya satu persatu. Sekarang suara adzan itu masih terdengar setiap fajar, siang, petang, dan malam. Di kamar ini aku menerawang jauh dan serius menjelajahinya “akankah tuhan marah padaku”...
Sambil mengingat masa dulu dan menyesali saat ini, kuambil sebuah botol di bawah tempat tidur dan meminumnya. Saat itu yang kurasakan kenyamanan yang tiada tara…
Jatinangor, Jawa Barat.

0 comments:
Post a Comment