Entah bagaimana
diriku membuatnya bisa bercerita siang dan malam, semenjak masa berpacaran
selalu saja orang yang selalu ku cintai ini tak pernah sedikit pun berkisah
maupun berdiskusi, tatapan tajam dan gerakannya tidak lelet untuk seorang
lelaki, hal ini bukan termasuk golongan yang bisa dicemoohkan sekitar, kalau
begitu bagaimana aku tahu apa yang ada di hatinya saat ini ?,
Bagaimana bisa
aku mengira dia bisa sangat sayang padaku, tak sedikit pun kata romantis
tersuar dari mulutnya, jika suatu hari dia berucap saja masih terbata-bata,
padahal ada maksud dalam niatnya itu untuk berkisah maupun meminta solusi, apa
lelaki ini sangat angkuh, dan tidak mau meminta pendapat seorang gadis kampung,
padahal aku sendiri ini sarjana, menyerap ilmu yang kudapat maupun prestasiku
menjulang tinggi.
Sulit mengungkap
lelaki ini, datang lalu diam, hanya sekedarnya berbicara, lelaki yang ku dekap,
ku manja, ku belai, dan kupercaya untuk menjadi pendamping hidupku bagaikan
lelaki misterius yang selalu berpapasan dalam taman. Jika aku memiliki mata
batin, lekas ku terawang isi hatinya, aku ingin tahu apa saja prioitas dalam
hidupnya.
Perempuan
sepertiku harusnya bersabar hidup dengan lelaki ini, apa dunia keperempuanan
identik dengan kesabaran yang tiada henti, aku sangat mencinta Bayu, tak ada
lelaki di hatiku selain Bayu, dia selalu membantuku saat masa-masa sulit dalam
hidupku dahulu kala, diusir keluarga karena memilih agama lain, kemudian aku
berpikir untuk hidupku seterusnya, keuangan dan segalanya, waktu itu aku masih
berkuliah semester akhir dan sangat membutuhkan biaya yang cukup banyak, dan
begitulah Bayu membantuku secara moril dan imoril, namun ku sungguh percaya,
dia ingin bercerita lekas padaku.
Kami menikah dua
tahun yang lalu, dilema keluarga pernah membuat gelombang dalam hubungan kami,
keluarga Bayu yang tak suka mempunyai menantu keturunan cina sehingga
orangtuanya melarang hubungan kami, jika Bayu tak menyadarkan mereka tentang
kemualafanku, hari ini, tahun ini aku tak bersama Bayu, dan Bayu sendiri entah
dimana. Mungkin kami akan kawin lari, karena kami saling menyayangi.
Aku pernah
mempelajari lelaki ini, pernah merasakan kecupannya, kasih sayangnya, dan
beribu ucapan puitis dalam pesan di hanphone-ku, itu cukup membuatku
senang, namun belum bisa membongkar baju besi yang dipakainya, aku tak
bisa melihat ke dalam, seorang istri harusnya mendapat segalanya dari seorang
suami, tak cukup hanya datang dan pergi dari rumah, hanya mendengar aku
berkisah sedangkan dia selalu menjadi pendengar yang baik, apakah itu berat
sebelah, jika perlu aku akan memaksa Bayu berbicara dengan menendang anunya
atau pantatnya.
Pada suatu hari,
aku melihat bayu seperti orang bingung, terlihat dari wajahnya yang bimbang,
duduk di kursi dekat meja telepon dan bersandar hening disana, seperti biasa
tak ada ucapan yang keluar walau hanya “aku ada beberapa masalah”, aku
menanti sikap dia yang terbuka, tidak diam misteri seperti ini, aku hanya
memandangnya tak berani mendekat, jika aku kesana pasti Bayu akan mengusirku
lalu menyibukan diri.
Esoknya lelaki
itu, berangkat ke kantor seperti biasa dengan selalu menggunakan topeng di
wajahnya….aku mengantarnya sampai garasi mobil, disana sudah menunggu mobil
sedan yang berhasil kita beli dari uang tabungan selama setahun, cukup bangga
meskipun begitu kita tak akan pernah melupakan masa-masa sulit di kuliah dulu.
Bayu berlalu kemudian aku akan bergegas pergi ke kantor dan rumah seperti biasa
akan kosong ketika kami berdua bekerja.
Rumah kami
terletak di ujung barat daya kota Jakarta, tak pernah kami mengeluh untuk
bekerja keras, setelah kami menikah kami sudah tinggal di rumah ini yang cukup
sederhana namun indah, karena kami mengisinya…., kemungkinan rumah ini memang
jodoh kami, segalanya mudah terurus, dari modal sampai surat-menyurat, aku
ingat acara pernikahan kami di Bandung, meriah, sederhana, hasil jerih payah
kami berjuang demi masa depan dan hubungan kami akhirnya menghasilkan sesuatu
yang bahagia.
“Belum tentu
juga Bayu mencintaimu”, kata-kata itu terus terbisik di kepalaku, kadang
aku bangga dengannya kadang aku curiga pada Bayu, selama dia tetap membisu dari
sepanjang hubungan kami. Padahal aku sangat kenal dengan adiknya, sangat
komunikatif dan ekspresif, kenapa dia tak mengaliri darah ibunya, ayahnya sangat
ku kenal, tegas, jarang bicara, namun jujur. Mungkin Bayu mengatakan sesuatu
kejujuran, namun….apakah hal itu akan mengganggu hubungan kami, ataupun
cintanya sudah pudar dan tumbuh cinta baru di lingkungan dia bekerja, aku tak
bisa kehilangan Bayu yang kucinta, meskipun sulit aku ingin mengubah keadaan.
Suatu malam di
musim hujan, aku mencoba duduk di dekat bayu kemudian mencoba menciptakan
keharmonisan yang sudah sedikit jarang karena kami sibuk bekerja,
“neh,..aku
bikinkan kopi”
Berkata
dengan manja kepada Bayu
“terimakasih sayang”
Sambil
menatapku manis lalu kembali mengotak-ngatik laptop tersebut
Aku mencoba
bertanya padanya, mengapa dia jarang sekali bicara, adakah masalah dalam
hidupnya, serta aku….aku selalu berbicara apapun tanpa membohonginya, aku ingin
jujur padanya tak ada yang disembunyikan karena aku…aku mencintai Bayu, Bayu
hanya tersenyum dan kembali hampa, memandang kembali laptopnya lalu berkata
“aku tidak ada masalah, cuma butuh berlibur” , kemudian kami berdua pergi
ke ranjang untuk tidur.
Tatap saja bayu
memakai topeng…topeng itu akan selalu melekat padanya, jika dia tak berusaha
mencoba melepaskannya dan memberikan wajahnya yang asli kepadaku, mungkinkah
memang itu Bayu sebenarnya, aku selalu melihat dia senang saja, tanpa berpikir
dia sedang sedih ataupun berkemelut dalam hatinya, aku hanya ingin mencintainya
penuh, tanpa ada yang disembunyikan satu hal pun. Bagaimana dengan topeng
itu….topeng kayu yang selalu dia pakai kemana pun, saat duduk, ngobrol,
bekerja, maupun tidur denganku, dan…baju besi itu juga selalu dia pakai.
Esok hari ulang
tahunya, aku mencoba membuat surprise untuknya, aku datang lebih awal
dan mempersiapkan kebutuhan, sudah kurencanakan aku akan bersikap skeptis
sepanjang hari iniI, tak memberi kabar, tak berkunjung ke kantornya untuk makan
siang, dan berusaha membuatnya marah. Kemudian dini hari nanti, aku akan
mengucapkan sesuatu yang berharga semoga Bayu menjadi bahagia lalu bercerita
yang sebenarnya dari hari-hari dia lalui.
Kemudian….
Munculah
kabar hari ini, tak bisa pulang ke rumah untuk menghadiri rapat kerja sama
dengan perusahaan lain, kemudian dia akan pulang lusa hari.
Aku
memberingas di hadapan lilin, malam itu mati lampu dengan berjuta kekesalan aku
tak membalas sms-nya, sekalipun tidak…
Setelah lampu
menyala….
Aku berkata
sendiri pada foto pernikahan kami
Topeng sialan
!!….
Lusa hari dia
datang ke rumah, dan aku terus terdiam membisu, suaminya mencoba menyapa namun
istrinya tetap saja membisu seperti ulat yang berjalan di tangkai kering pada
musim panas, dan Bayu melata di bawah batang tersebut, lalu berlanjut ke kamar
mandi, segeralah dia membersihkan diri kemudian aku berkunci diri di kamar
tidur kami. Ketika itu Bayu mencoba masuk namun tak ada jawaban, pintu tetap
terkunci, dan Bayu mencoba berbicara “apa masalahmu ?” , tetap tak ada
jawaban.
Kemudian
hari-hari kita saling berdiam diri, tak ada tegur sapa sedikitpun, tidur pun
terpisah kemudian tak ada yang saling memberi tahu, aku sudah cukup sabar
dengannya, aku akan mencoba pakai topeng dan baju besi…dan lihat nanti…siapa
yang menyesal.
Bayu mencoba
merasakan ada yang salah dengan hari-harinya, dia memikirkan istrinya yang
tidak biasa, biasanya dia berbicara, sekarang tersadar mirip dirinya sendiri, apa
perlu dia berbicara pada isrinya, kemungkinan itu satu-satunya obat perangsang
keharmonisannya kembali, namun terpikir
tentang istrinya kembali, Bayu melemparkan diri ke ranjang dan memukul-mukul
bantal dan guling, ketika itu wajah istrinya dan isi hatinya terlihat saling ingin
menerobos masuk di tempat utama.
Akhir pekan yang
membosankan, Bayu berdiam diri di kamarnya, dan aku pergi ke rumah orangtuaku
di Bandung, aku nekat pergi karena kesal dengan Bayu, jika niat ini
sungguh-sungguh aku akan menetap lama di Bandung dan bekerja disini, jika Bayu
cinta padaku dia akan menyusulku ke Bandung, kalau tidak menyusul berarti dia
merasa hebat dengan dirinya sendiri serta tidak membutuhkan istrinya lagi.
Dulu Bayu memang
manis, memperlakukanku bagai seorang ratu, tujuh tahun kami berpacaran, dua
tahun kami menikah, berarti kami saling mengenal sembilan tahun, lalu topeng
dan baju besi itu belum bisa ku lepaskan, jika aku mendekat berarti aku
memiliki masalah, dan aku hidup di duniaku sendiri tak bisa berbagi di dunia
milik seseorang yang ku cinta.
Bayu memang
lelaki pekerja keras, tekun dan rajin, apa yang dia peroleh sekarang hasil
usaha sendiri dengan usaha yang begitu tulus mencintaiku, aku sangat hanyut
dibuainya, setiap langkahnya ku rindu, ke romantisan masa-masa pacaran seperti
hilang di kelambu pernikahan ini, serta begitu keanggunan sebuah hubungan yang
luas maupun intim bagiku hanya bintang-bintang di langit, hanya ada disana, dan
tak bisa digenggam. Baru saja aku mendapatkan pesan dari Bayu, katanya dia
rindu aku, sambil bercanda, dan mengatakan kegelisahannnya seorang diri di
rumah, lalu aku…aku mengatuk dan pergi tidur.
Seminggu
berlalu, aku tetap saja pada pendirian, tinggal di rumah orangtuaku dan
menangis sepanjang malam, menahan rindu yang sebenarnya tertuju pada Bayu,
namun ku gengsi untuk memberitahukan pada suamiku, dia sudah mengecewakanku,
dalam surprise ulangtahun tersebut, dan juga sikap-sikapnya. Sudah beberapa
kali orangtuaku menyuruhku pulang, “kasian suamimu neng, pasti rindu dia” ujar
ibuku, “aku sama sekali tak rindu dengannya” mencoba mengelak, “berarti
kau simpan air matamu sepanjang malam” ibuku mencoba menggoda, “mmm”
Dalam hari-hari
yang malas, aku selalu menonton, makan,
dan buang air besar, seperti itu pekerjaanku di rumah, aku seorang anak malas,
memang sudah sewajarnya mereka menyuruhku pulang, karena mungkin, jika di rumah
suaminya akan menegurnya. “Bagaimana kabar Bayu ?” terbisik dalam
hatiku, saat menonton acara ketoprak humor di televisi, dan disana terlitas
wajah yang sama “bayu yang memakai topeng dan para pemain serupa” ku teringat kata almarhun ayahku “katakan
dengan jujur walau itu pahit”, setelah itu wajah Bayu menghilang disana dan
kembali ke acara ketoprak tersebut bersama para pemain yang memakai topeng kayu
tersebut.
Minggu kedua,
aku ingin pulang, sudah tak betah disini, memang enak dirumah sendiri, mau apa
saja leluasa, tak dapat komentar atau sindiran, jadi aku mau pulang saat ini.
Ibuku mengizinkanku pulang, aku memeluknya sambil menagis “Bandung-Jakarta,
tak terlalu jauh sering kamu menengok ibu ya neng !” ibu dengan suara halus,
“ pasti, apalagi kalau mas Bayu sedang menyebalkan, neng akan tinggal
beberapa hari disini”. Ibuku sudah menerimaku kembali di rumah ini, sudah
menjadikan anaknya seutuhnya, walau berat rasanya, dia menginginkan anaknya
hidup di hatinya dan dunia sebenarnya, perempuan itu sudah rela melepaskanku
sesuai jalan hidup yang kusuka.
Sampai dirumah, keadaan rumah terkunci, seperti terlihat tidak ada penghuni, aku mencoba menelepon Bayu, namun tak diangkat-angkat, kekesalanku kembali memuncak, ku perkirakan Bayu pasti sudah pulang, karena ini sore hari, sengaja aku pulang siang hari dari Bandung, supaya sampai Jakarta sore hari. Tak sengaja aku menginjak kertas, kemudian ku ambil selembar kertas tersebut, disana sudah tertulis pesan untukku :
Untuk :
Liaku sayang…
Kunci
pintu di tetangga kita, aku merasa suntuk dengan pekerjaanku, sudah kubilang
aku butuh liburan, aku pergi beberapa hari, aku pergi ke Bali bersama teman
kerja di kantorku, titip rumah,
Setelah membaca
pesan itu, aku langsung meremas kertas tersebut, dengan gumpalan tangan yang
kuat dan memaki seseorang dengan nada keras,
“topeng
sialan !!”
Jatinangor, Jawa Barat

0 comments:
Post a Comment