Aku bertaruh bahwa setiap mimpi itu memiliki tafsir
tertentu walau hanya beberapa persentase dari setiap realitanya, bahwa mimpi
itu bunga tidur, lukisan bawah sadar, dan teman tidur yang sering datang tanpa
diundang, serta seberapa mungkinkah
sebagian orang memiliki dunia sendiri yang kasat mata walaupun secara garis
besar kita bisa menyimpulkan itulah “mimpi”.
Beberapa orang memiliki tujuan, dimana mereka
menghentikan langkah, dan dimana mereka
mencapai hasil akhir, sekian dari semangat mereka akan terkuras oleh sebuah
“impin”, dan dikala mereka hidup kerasan didalamnya, mereka akan lalui
perbedaan diantara kehidupan yang mereka sadari sebelumnya ‘it’s real world”,
bukankah pemimpi itu dihargai sebagai dunia yang benar-benar berisi, tanpa
mimpi hidup akan sia-sia.
Hidup ini kian melesat, sejauh apa yang tidak bisa kita
kira, hingga akan terus melangkah sampai kita kehilangan waktu dan jelas kita
tidak dapat menghitung berapa langkah yang telah berlalu, mengartikan hidup itu
benar-benar pakai logika, bisa kita cerna sebagai pedoman, seperti kita
melayang di udara, melihat pelangi, atau berilusi di pagi hari lalu keluar dari
logika kita sendiri.Sekali waktu berjalan kita akan menyadari bahwa hidup itu asam,
manis, dan kecut, dan akan terasa awet sampai pangkal lidah. “logic and dream”
Jakarta,
Oktober 2009
Hujan bulan ini mengingatkanku kepada seorang lelaki,
lelaki yang mengirim hujan ini, berdiri di sisi kanan rumah sambil memetik lalu menyulam sebuah romansa, kenangan
yang tak pernah kembali, bagai mimpi di siang hari, jarum jam bagai sebuah resolusi tahun kemarin
yang gagal dicapai, setiap detiknya akan terus mencari bagian yang telah hilang
hingga merakit sebuah tongkat yang akan terapung ke muara.
Aku sedang menulis dairi, hari ini aku ulang tahun yang ke-21,
sebagian impianku sudah tercapai, pergi ke amsterdam, melihat menara eiffel di paris,
dan sukses masuk ke perguruan negeri sesuai jurusan yang ku minat, namun masalah
datang ketika semua dinding seakan menyudutkanku, “umur lu sudah 21 kok, belum punya pacarku juga”, tukas Vera
sohibku, “kamu ini aneh”, ujar sang diplomat Budi, seakan
aku menyambutnya dengan bertubi-tubi hingga membuatku tersiksa, secara bagiku
inilah pesan dari neraka, “damn”
Malam
tahun baru 2010.....
“Happy
new year”, terdengar dari
segala arah suara, “show time”, kita
berkumpul diatas bukit Dago Bandung, kami merencanakan ini jauh-jauh hari,
hingga rencana akhir ke kota kembang ini sukses berjalan, kelima sahabatku cair
dalam suasana, malam itu seakan tiada akhir, seperti acara piknik, kita
mengabiskan waktu diatas tikar gulung yang dibawa Henry, berbagai macam snack disuguhkan di hadapan
kita, ditambah obrolan suka cita.
“kapan
neh, ngeliat lu punya pacar’,
sahut Eddy bertanya padaku, air mukaku berubah menjadi tegang, “make a resolution”, tukas Vera, “that’s right”celoteh Budi, sisannya
tersenyum dan memandangku.
Pertanyaan itu merupakan pertanyaan yang paling sulit ku
jawab, bagaimana ku harus menjawab tentang pacar, aku pun enggan mencarinya
sampai sekaarang, “come on ka...jangan
terus bermain dengan khayalanmu donk !”, ujar Vera,”aduh aku tak berminat punya pacar”, balasku, “Friska’, lu udah umur segini, gw pengen kita nge-date bareng-bareng
gitu di akhir pekan”, Henry akhirnya meluap, “masa lu sama jeenan terus kalo kemana-mana,” tiba-tiba Gito
berkaata, “dengan Jeenan gue bisa nyaman to” ujarku, “hehehe,” ujar Jeenan terkekeh. Vera
dengan budi, Gatot dengan Gadis, “it’s
abnormal” aku dengan gadis kutu buku yang selalu mengahbiskan waktu
bersama-sama yaitu Jeenan, “gue dukung
loe punya pacar”, ujar Gadis.
Jakarta,
dua hari kemudian....
Di dalam kamarku, aku terus memikirkan hal itu “punya pacar”, “nge date bareng”,
sampai tolak ukur terhadap umurku yang sudah kepala dua, “its not priority”, aku hanya ingin mencapai mimpi-mimpiku secara
sempurna, sedangkan kelima temanku tersebut sudah memaksaku punya pacar
secepatnya, mungkin mereka care denganku,
ataukah mengubah diriku yang secara pandangan mereka “Friska itu aneh”
*****
Kegiatanku semakin padat seminggu kemudian, semester yang
melelahkan, tidak ada kata bersantai demi mengejar nilai yang memuaskan atau
tidak orang rumah akan marah besar, sebisanya aku melakukan kewajibanku, dan segala hal tentang kekasih
seakan sudah larut dalam waktu bersama segala hal yang memusingkan pada akademikku.
Secara besar konsentrasiku ku biarkan melaju pasti untuk impianku selama ini,
keinginanku sederhana, ingin cepat selesai kuliah dan maju dalam dunia
pekerjaan, untuk saat ini doa dan usahalah yang selalu kulekatkan setiap hari,
apapun celoteh kawan-kawanku tentang memiliki pacar kuanggap berlalu, sekarang
mereka lebih menyanyangiku karena ku punya rencana yang kuat, mereka teman
sejatiku, disaat ku bimbang mereka selalu mengelilingiku, menjamu kehangat dan
bagian untuk meneduhkan, mereka selalu menerima ku apa adanya.
Tiga
tahun kemudian....
Terdengar suara sorak riuh di sebuah Aula, acara
pelepasan wisudawan wisudawati sedang berlangsung, Friska maju untuk mendapat
Izajah sementara yang akan diberika Rektor, seluruh kawan Friska melihat dari
kursi yang ditunjukan untuk peserta,
“akhirnya kita wisuda bareng ya”, tukas Vera, “ahhh..lega rasanya” Henry berkata, “nanti kita akan menghadapi kehidupan yang sebenarnya neh” tiba-tiba
Gito meluap dengan tegas, “asik kita bisa merayakan kebahagiaan bersama-sama”,
akhirnya semua menatap Friska yang sedang melangkah turun dari Altar setelah
menerima Izajah sementara dari Sang Rektor, “lihat
Friska tuh, kawan kita satu ini mempunyai banyak mimpi...terlihat dari wajahnya”,
serempak menyambut Friska saat tiba. Setelah itu Friska hanya memandang masa
depan yang ingin dia raih dengan baik, soal pandamping baginya, akan datang
dengan sendirinya.
Jatinangor, Jawa Barat
Jatinangor, Jawa Barat

0 comments:
Post a Comment