Monday, August 5, 2013

LELAKI DALAM MIMPI (CERPEN)

Unknown

     Aku bertaruh bahwa setiap mimpi itu memiliki tafsir tertentu walau hanya beberapa persentase dari setiap realitanya, bahwa mimpi itu bunga tidur, lukisan bawah sadar, dan teman tidur yang sering datang tanpa diundang, serta  seberapa mungkinkah sebagian orang memiliki dunia sendiri yang kasat mata walaupun secara garis besar kita bisa menyimpulkan itulah “mimpi”.

       Beberapa orang memiliki tujuan, dimana mereka menghentikan  langkah, dan dimana mereka mencapai hasil akhir, sekian dari semangat mereka akan terkuras oleh sebuah “impin”, dan dikala mereka hidup kerasan didalamnya, mereka akan lalui perbedaan diantara kehidupan yang mereka sadari sebelumnya ‘it’s real world”, bukankah pemimpi itu dihargai sebagai dunia yang benar-benar berisi, tanpa mimpi hidup akan sia-sia.

     Hidup ini kian melesat, sejauh apa yang tidak bisa kita kira, hingga akan terus melangkah sampai kita kehilangan waktu dan jelas kita tidak dapat menghitung berapa langkah yang telah berlalu, mengartikan hidup itu benar-benar pakai logika, bisa kita cerna sebagai pedoman, seperti kita melayang di udara, melihat pelangi, atau berilusi di pagi hari lalu keluar dari logika kita sendiri.Sekali waktu berjalan  kita akan menyadari bahwa hidup itu asam, manis, dan kecut, dan akan terasa awet sampai pangkal lidah. “logic and dream”

      Jakarta, Oktober 2009 

    Hujan bulan ini mengingatkanku kepada seorang lelaki, lelaki yang mengirim hujan ini, berdiri di sisi kanan rumah sambil  memetik lalu menyulam sebuah romansa, kenangan yang tak pernah kembali, bagai mimpi di siang hari,  jarum jam bagai sebuah resolusi tahun kemarin yang gagal dicapai, setiap detiknya akan terus mencari bagian yang telah hilang hingga merakit sebuah tongkat yang akan terapung ke muara.
   Aku sedang menulis dairi, hari ini aku ulang tahun yang ke-21, sebagian impianku sudah tercapai, pergi ke amsterdam, melihat menara eiffel di paris, dan sukses masuk ke perguruan negeri sesuai jurusan yang ku minat, namun masalah datang ketika semua dinding seakan menyudutkanku, “umur lu sudah 21 kok, belum punya pacarku juga”, tukas Vera sohibku, “kamu  ini aneh”, ujar sang diplomat Budi, seakan aku menyambutnya dengan bertubi-tubi hingga membuatku tersiksa, secara bagiku inilah pesan dari neraka, “damn”

      Malam tahun baru 2010.....

  “Happy new year”, terdengar dari segala arah suara, “show time”, kita berkumpul diatas bukit Dago Bandung, kami merencanakan ini jauh-jauh hari, hingga rencana akhir ke kota kembang ini sukses berjalan, kelima sahabatku cair dalam suasana, malam itu seakan tiada akhir, seperti acara piknik, kita mengabiskan waktu diatas tikar gulung yang dibawa Henry,  berbagai macam snack disuguhkan di hadapan kita, ditambah obrolan suka cita.

“kapan neh, ngeliat lu punya pacar’, sahut Eddy bertanya padaku, air mukaku berubah menjadi tegang, “make a resolution”, tukas Vera, “that’s right”celoteh Budi, sisannya tersenyum dan memandangku.

   Pertanyaan itu merupakan pertanyaan yang paling sulit ku jawab, bagaimana ku harus menjawab tentang pacar, aku pun enggan mencarinya sampai sekaarang, “come on ka...jangan terus bermain dengan khayalanmu donk !”, ujar Vera,”aduh aku tak berminat punya pacar”, balasku, “Friska’, lu udah umur segini, gw pengen kita nge-date bareng-bareng gitu di akhir pekan”, Henry akhirnya meluap, “masa lu sama jeenan terus kalo kemana-mana,” tiba-tiba Gito berkaata, “dengan  Jeenan gue bisa nyaman to” ujarku, “hehehe,” ujar Jeenan terkekeh. Vera dengan budi, Gatot dengan Gadis, “it’s abnormal” aku dengan gadis kutu buku yang selalu mengahbiskan waktu bersama-sama yaitu Jeenan, “gue dukung loe punya pacar”, ujar Gadis.

     Jakarta, dua hari kemudian....

   Di dalam kamarku, aku terus memikirkan hal itu “punya pacar”, “nge date bareng”, sampai tolak ukur terhadap umurku yang sudah kepala dua, “its not priority”, aku hanya ingin mencapai mimpi-mimpiku secara sempurna, sedangkan kelima temanku tersebut sudah memaksaku punya pacar secepatnya, mungkin mereka care denganku, ataukah mengubah diriku yang secara pandangan mereka “Friska itu aneh”
*****
   Kegiatanku semakin padat seminggu kemudian, semester yang melelahkan, tidak ada kata bersantai demi mengejar  nilai yang memuaskan  atau  tidak orang rumah akan marah besar, sebisanya aku melakukan  kewajibanku, dan segala hal tentang kekasih seakan sudah larut dalam waktu bersama segala hal yang memusingkan pada akademikku.

   Secara besar konsentrasiku  ku biarkan  melaju pasti untuk impianku selama ini, keinginanku sederhana, ingin cepat selesai kuliah dan maju dalam dunia pekerjaan, untuk saat ini doa dan usahalah yang selalu kulekatkan setiap hari, apapun celoteh kawan-kawanku tentang memiliki pacar kuanggap berlalu, sekarang mereka lebih menyanyangiku karena ku punya rencana yang kuat, mereka teman sejatiku, disaat ku bimbang mereka selalu mengelilingiku, menjamu kehangat dan bagian untuk meneduhkan, mereka selalu menerima ku apa adanya.

   Tiga tahun kemudian....

  Terdengar suara sorak riuh di sebuah Aula, acara pelepasan wisudawan wisudawati sedang berlangsung, Friska maju untuk mendapat Izajah sementara yang akan diberika Rektor, seluruh kawan Friska melihat dari kursi yang ditunjukan untuk peserta, “akhirnya kita wisuda bareng ya”, tukas Vera, “ahhh..lega rasanya” Henry berkata, “nanti kita akan menghadapi kehidupan yang sebenarnya neh” tiba-tiba Gito meluap dengan  tegas, “asik kita bisa merayakan kebahagiaan bersama-sama”, akhirnya semua menatap Friska yang sedang melangkah turun dari Altar setelah menerima Izajah sementara dari Sang Rektor, “lihat Friska tuh, kawan kita satu ini mempunyai banyak mimpi...terlihat dari wajahnya”, serempak menyambut Friska saat tiba. Setelah itu Friska hanya memandang masa depan yang ingin dia raih dengan baik, soal pandamping baginya, akan datang dengan sendirinya.



                                                                                                                                 Jatinangor, Jawa Barat
                                                                                                                                 

About the Author

Unknown / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Post a Comment

Catatan Penulis & Arsip Pribadi

Powered by Blogger.

Instagram

Popular Posts

Contact Us

Name

Email *

Message *

Pages

Like us

http://melanialysandra.blogspot.com/

About me

Nama : Helmi Agusrizal Place/Date of Birth : Jakarta/august 02, 1988 Sex : Male Citizenship : Indonesia Marital status : Married Religion : Moslem E-mail address : Helmi.agusrizal@gmail.com Address : Pondok Budiasih (Saluyu), Jl. Ahmad Syam, Kampung Ciawi, Desa Cikeruh (RT/RW 02/04), Jatinangor – Sumedang, Jawa Barat. 45363 Phone : Mobile (081214613112) Formal Education : 2006 – 2010 IKOPIN, majoring in human resourch management, Jatinagor-Bandung 2003 – 2006 Senior High School in SMA YUPPENTEK 1 Tangerang, Banten-Serang 2001 – 2003 Junior High School in SMPN 19 Tangerang, Banten-Serang 1995 – 2001 Elementary School in SDN Dayung Tangerang, Banten-Serang 1993 - 1995 Kindergaten School in TK Nurul Islam Tangerang, Banten-Serang

Facebook

http://delighthomegarden.blogspot.com/

Entri Populer