Pagi yang hangat, sinar mentari menyoroti daratan yang
indah, sebegitunya hari yang ku kenal sangat misteri, banyak rasa, banyak nada
yang kudengar dalam hidup, gamang, suka cita maupun pengendalian terhadap
keseimbangan, aku tinggal di sebelah barat Kota Jakarta, disana harmonis,
tetangga yang baik, serta lingkungan
yang asri walau tak begitu elit namunku bahagia disini.
Impianku ke depan
sangatlah sederhana, duduk di depan sebuah komputer dengan meja untuk pribadi dan
setumpuk tugas yang datang, sehabis kuliah ku ingin lekas mendapatkan
pekerjaan, aku tak bisa berdiam diri, inginnya melakukan sesuatu. namaku Cahyadi orang bilang aku berasal dari Madura, identik dengan tukang sate yang biasa
dipanggil “cak” dengan salah arti “cah”,
aku penikmat sate, nasi goreng dan sayur lodeh, bagiku ketiga makanan itu
merupakan makanan yang paling aku suka,
ketiganya aku tulis di “makanan
favorit”, dalam biodata murid di buku
kenangan sekolah yang di organisasi
masing-masing kelas.
Selepas sma aku mengambil jurusan manajemen di perguruan tinggi swasta di Jakarta, jelas kemacetan, panas, dan kesibukan yang tiada henti itu mutlak berlangsung, bagiku Kota Jakarta seperti sebuah toko kecil yang banyak pembeli mensesaki di dalamnya, bisa dilihat mereka lalu-lalang sepanjang waktu, lagi pula dimana lagi Indonesia bisa mempunyai sebuah Ibukota yang sangat modern, walau sering banjir dan banyak tindak kejahatan, kesabaran warga jakarta memang sebagai bukti bahwa mereka cinta akan negaranya.
Terdengar suara kendaraan menghampiri sebuah rumah, Aku mendengar itulah ayahku, yang sehari-hari berangkat ke
kantor dengan mobil Rover yang satu-satunya aku miliki, Ayah memberikanku sebuah sepeda motor, lumayan sangat
memudahkanku untuk pergi ke kampus dan mencari data untuk tugas kuliah. Ayah
datang dengan terlihat letih, dia melewati ruang tamu, lalu ruang keluarga
sebagai ajang nonton televisi, makan
bersama, dan berkumpul untuk bercerita, saat ayah melewati, aku sedang asik
memainkan Playstation, game yang saat itu sedang efektif untuk menghibur penggila game, harganya lebih
terjangkau dari pada membeli PSP
(Playstation Portablle) namun beliau bisa dibawa kemana-mana, lebih fleksibel.
Ayah menanyakan Ip-ku, aku mencoba memberi jawaban yang
pasti, “belum kelur yah !”, lalu ayah mencoba berpikir ulang, “masa belum
keluar, ini kan sudah awal semester 2”, “mungkin pihak universitas sedang sibuk
memilih rektor baru”, “memang rektor yang dahulu kemana”, “sudah pensiun yah”,
lagi-lagi ku harus berbohong pada Ayah, aku sangat menyesal Ip-ku hanya 2.67 di semester pertama yang lalu, nilai
yang sangat tidak bisa diterima Ayah, Ayahku
sangat mengutamakan pendidikan, bagi Ayahku, sebisanya anaknya lebih pintar
darinya, menurut Ibuku, ayah seorang yang bekerja keras dan mau mengalah untuk anaknya.
Ini hari jumat, aku harus sholat jumat, ayahku sudah
menelpon Ibu, untuk kepastian aku datang ke Masjid, hari ini aku libur, jadi
aku bisa seharian tinggal di rumah,
namun ada tugas untuk hari senin, dan itu sangat mengganggu.
Seusai pulang shalat jumat, tiba-tiba aku melirik ke
sebelah rumah, rumah yang telah lama kosong, sekarang terlihat beberapa orang
sedang membereskannya, kemudian aku kembali ke dalam rumah.
“Bu,
rumah sebelah sudah ada yang menempati”
“Wah
bagus donk, kita punya tetangga baru”
Sebelumnya kita memang agak ngeri dengan rumah sebelah
yang sudah lama kosong, banyak warga sekitar menyebut rumah
itu angker, sebab tidak ada yang
mau menempatinya, aku terus
memikirkannya karena rumahku bersebelahan.
Malamnya aku ada acara bersama kawan sefakultas, Cuma
acara sederhana, ngumpul di rumah temanku, lalu bakar ayam atau bermain gitar,
hanya sekedar ajang cuap-cuap. Sebelum berangkat aku memanaskan motor, biasanya
aku memanaskan motor pagi hari sebelum berangkat ke kampus, namun sepanjang
hari ini aku tidak kemana-mana, sesaat mencuri pandangan ke arah penghuni rumah
tersebut, terlihat seperti sebuah keluarga sedang sibuk hilir mudik, antusiasku
untuk menyapa tergerak, tiba-tiba suara handphone ku berdering, dan teman-temanku
tak sabar menungguku, jadilah kunyalakan
sepeda motorku, menuju 7 km lagi.
Sampai disana aku bercerita tentang tetangga baruku itu, orang yang baru menempati rumah angker
tersebut, “wah akhirnya citra rumah
angker tersebut musnah sudah ya di”, “memang.. namun aku belum mengenal
tetangga baruku”, “wah jangan-jangan tetanggamu adalah kelompok pemuja setan” Singgih mencoba menakutiku, “jaman sekarang kelompok kaya gitu masih
ada”, “masihlah di”, “dimana”, “aku melihatnya di film Jeniffer body aktrisnya
Megan Fox “, “hah !!”
Malam itu sangatlah meriah, kita membakar beberapa ekor
ayam, yang sudah dicabut bulu-bulunya, dengan suara-suara standar dari beberapa
penyanyi amatir ditambah rembulan bulat terang telanjang, menghanghangatkan
sekaligus melepaskan penat sejenak.
Hari senin, telah datang dan aktifitas kembali dimulai,
aku melihat tetanggaku memanaskan mobil di depan rumahnya, tidak sengaja ada
yang menegurku, “selamat pagi, dek” aku
menoleh ke samping dan ternyata seorang bapak memanggilku “kenalkan kami tetangga baru, kami lupa mengenalkan diri karena kemarin
sangat sibuk membereskan rumah”, aku membalas dengan ramah “oh ya’ pa,
tidak apa-apa, kenalkan juga saya Cahyadi, panggil saya adi saja”, “namamu
keren”, “panggil saja Pak Petra”. Akhirnya percakapan tersebut berakhir,
kemudian ku melanjutkan aktifitasku kembali.
Di dalam kelas aku memikirkan sebuah nama “Petra”,
nama itu sangat asing ku dengar, aku pernah mengenal nama itu, tapi dimana aku mendapatkannya,
aku sangat lupa. Kira-kira 15 menit setelah mata kuliah dimulai, datanglah
seorang perempuan ke kelas kemudian menghampiri Pak Gumelar yang saat itu
sedang mengajar “kenalkan ini Ruth
Evelyn, Mahasiswi pindahan dari Kalimantan”, menyapa semua penghuni yang ada di depannya,
kemudian perempuan itu mencari bangku yang kosong dan dia mendapatkannya,
sebelah paling kanan disamping tembok, “Ruth
Evelyn....nama itu sangat keren”
Kuliah hari ini sudah selesai, aku langsung pulang ke
rumah, sesampainya di rumah aku menceritakan tentang tetangga baru tersebut ke
Ibu, “Bu tadi pagi aku disapa tetangga
baru itu”, “oh iya, Ibu tidak melihatnya sepanjang ini” , “ada seorang Bapak
namanya “Petra”, “Petra” nama itu terlihat unik”, “Iya Adi juga pernah mendegar
nama itu, namun tak bisa mengingatnya”, kemudian kami berhenti membahasnya,
lalu ibu menyuguhkan makan siang untukku.
Membahas mata kuliah di jurusan Manajemen, bukanlah hal mudah,
apalagi tidak terlalu gemar membaca, mengatasinya memang dengan gembira,
gembira disana-sini, serta melaluinya dengan optimis, bagaikan mengalir seperti
air tapi jangan hanyut bisa-bisa hanya ikut aliran yang menyesatkan, dengan
begitu aku sedang di temani cahaya lampu serta sebuah buku di hadapanku, membaca
dan membaca, Ayah menyuruhku, kalau sampai terlihat bermain Playstation lagi,
uang jajanku dipotong beberapa persen.
Kembali pagi menyambut, aku tak sengaja menatap Mahasiswa
baru pindahan dari Kalimantan tersebut, aku melihatnya di sekitar rumah
tersebut, “Ruth...ya ?”, dia menoleh
ke arah suara sapaan, “eh....kamu teman
sekelasku ya”, “Iya...Cahyadi neh, kita belum berkenalan sebelumnya” kita
saling menghampiri lalu bercakap-cakap, tiba-tiha ibu muncul kemudian melihatku
dengan Ruth, “Ibu kenalkan ini tetangga
baru kita” Ibu menghampiri kita, “panggil
saja Bu Wiwid, “ tukas ibu, “nama
saya Ruth..bu”, “wah nama yang indah”,
dua orang keluar karena mendengarkan percakapan kita, ternyata itu adalah
orangtuanya ruth, akhirnya, Ibu dan aku saling mengenal tetangga baru, “Pak
Petra, Bu Natalia, dan Ruth” Hanya ayah yang belum mengenal tetangga baru, ayah selalu
pulang sore dan selalu melihat rumah tetangganya kosong, jadi belum sempat ayah
berkenalan, namun ayah selalu bertanya pada Ibu dan Aku, bagaimana tetangganya,
aku berkata mereka sangat ramah, dan ibu
merasa sebegitu, Ayah bergegas ke kamarnya kemudian mandi untuk menyegarkan
diri.
Aku kembali bertemu Ruth dikampus, dia sangat baik dan
juga pintar, dia mudah sekali berorientasi dengan lingkungan, dan teman-teman menyukainya,
saat ini aku sedang mendengar cerita tentangnya di Kantin Fakultas, Ruth lancar bercerita, dan aku setia mendengarnya,
bagaikan seorang yang menunggu kereta tujuannya datang.
Ibu dan Ayah Ruth berasal dari Kalimantan, mereka pindah ke
Jakarta karena Mutasi dari kantor sebelumnya, sebenarnya Ruth tidak setuju
tentang hal tersebut, namun Ayahnya mencoba mencari kehidupan yang lebih baik,
ibunya selalu mendukung Ayahnya serta menjelaskan kepada Ruth agar di terima dengan baik, itulah penjelasan umum dari cerita Ruth yang
kutangkap, sekarang Ruth hanya tinggal mencoba berkenalan dengan suasana Jakarta
yang jauh berbeda dari kota sebelumnya.
Pada suatu kesempatan akhirnya ayah berkenalan juga dengan tetangga sebelah, keluarga Ruth datang ke rumah kami dengan membawa buah-buahan segar, Ibu dan Ayah merasa sungkan menerima karena merepotkan, datang bertamu merupakan sesuatu yang baik, menjaga kerukunan, seharusnya pihak rumah lah yang menyuguhkan sebagaimana sunnah Nabi Muhammad saw.
Lain kesempatan, aku mendapatkan waktu berjalan-jalan
dengan ruth, hubungan kami menjadi akrab selama satu minggu berlalu, kesempatan
ke kampus bersama jika orangtuanya tidak
memungkinkan untuk mengantar Ruth ke kampus, kadang hari libur Ruth mengajakku
lari pagi, dan aku menerima tawaran itu dengan mata sedikit ngantuk.
*****
Dosen mata kuliah pagi ini tidak hadir, jadi kami menghabiskan 2 sks
untuk bercanda, dan ribut di dalam kelas, ruth tak tampak di kelas, aku
mengobrol dengan Fandy, Jone, Poe, Hanun, mereka semua menyenangkan, jika
diajak ngobrol gak karuan seperti ini, mereka sangat antusias, lain hal jika
diajak kerja kelompok ogah-ogahan, jadilah aku meminta bantuan Keyla, teman
wanita yang baik hati, sering mengajariku Akuntansi dan rela berbagi jawaban
tugas kuliah.
Awalnya Fandy membuka topik tentang kawan baru kita,
siapa lagi Ruth, Ruth menjadi tokoh dalam cerita Fandy, dia menceritakan kalau Ruth
adalah gadis katholik, aku terkejut, aku tetangganya saja, tak tahu menahu
tentang hal tersebut, “aku melihat
biodata ruth saat meminta krs di biro” celetuk fandy,” terus gimana lagi” tukas poe, “saat aku lihat, ayahnya seorang pastur, dan ibunya adalah...”,
fandy mencoba menelusuri ingatannya, “....ah
aku lupa”, saat itu aku terdiam, memikirkan sesuatu.
Dalam perjalanan ke tempat Keyla, untuk bertanya tentang
kuliah statistik, aku terus memikirkan Ruth,
baru kusadari Ruth beragama katholik, sudah seminggu aku mengenalnya dan jalan dengannya, namun perasaanku ada yang
berubah setelah mendengar pernyataan Fandy. Sesampainya di rumah Keyla, aku
disambut gadis berkerudung dan periang itu, Ibunya yang asli Betawi mempunyai
banyak banyolan, aku sempat dijadikannya teman ngobrol rutin ketika berkunjung,
dengan upah pisang goreng dan wedang jahe, kalau bapaknya keyla adalah camat’ “Statistik itu membosankan ‘ la !”, ujar diriku
karena sangat terganggu, “semua pelajaran
gak ada yang mudah jika kita tidak pelajari” jawab rendah keyla, hatiku
terketuk, jawaban itu dapat kugunakan dalam memberi alasan terhadap Ayahku.
Hari ini selesai juga tugas Praktikum Statistik,
yang di kerjakan bersama-sama.
Aku pulang kerumah menjelang mahgrib Melihat Ruth dengan wajah asam membuatku terangsang untuk
mendekatinya, “hai Ruth, asem bangat tuh muka”. Ruth menatap lalu tersenyum, “pulsa yang ku beli di depan jalan, tidak
terkirim”, “orangtuamu belum pulang”, “nah..itu alaasannnya aku sebal, aku
ingin menghubungi mereka”, akhirnya kami berdua ngobrol di teras rumah Ruth,
setengah jam kemudian Orangtuanya datang, dan aku berpamitan untuk melaksanakan
shalat maghrib.
Setelah shalat maghrib, aku mendengar Ibu dan Ayah sedang mengobrol tentang tetangga sebelah, aku mendengarnya di balik pintu kamar mereka, dan ternyata mereka mengetahui kalau keluarga tersebut beragama katholik, perasaanku semakin berdebar, apalagi Ruth sudah akrab denganku, semua ini akan berubah, orangtuaku adalah orang yang taat beragama, bagaimaan pandangan mereka dengan agama yang lain.
Bersambung...............................

0 comments:
Post a Comment