Monday, August 5, 2013

RUMAH SEBELAH BAG 1 (CERBUNG)

Unknown
  Pagi yang hangat, sinar mentari menyoroti daratan yang indah, sebegitunya hari yang ku kenal sangat misteri, banyak rasa, banyak nada yang kudengar dalam hidup, gamang, suka cita maupun pengendalian terhadap keseimbangan, aku tinggal di sebelah barat Kota Jakarta, disana harmonis, tetangga yang baik, serta  lingkungan yang asri walau tak begitu elit namunku bahagia disini.

   Impianku  ke depan sangatlah sederhana, duduk di depan sebuah komputer dengan meja untuk pribadi dan setumpuk tugas yang datang, sehabis kuliah ku ingin lekas mendapatkan pekerjaan, aku tak bisa berdiam diri, inginnya melakukan sesuatu. namaku  Cahyadi orang bilang aku berasal dari  Madura, identik dengan tukang sate yang biasa dipanggil “cak” dengan  salah arti “cah”, aku penikmat sate, nasi goreng dan sayur lodeh, bagiku ketiga makanan itu merupakan  makanan yang paling aku suka, ketiganya aku  tulis di “makanan favorit”, dalam biodata murid di  buku kenangan sekolah yang di organisasi  masing-masing kelas.

  Selepas sma aku mengambil jurusan manajemen di perguruan tinggi swasta di Jakarta, jelas kemacetan,  panas, dan kesibukan yang  tiada henti itu mutlak berlangsung, bagiku Kota Jakarta seperti sebuah toko kecil  yang banyak pembeli mensesaki di dalamnya, bisa dilihat mereka lalu-lalang sepanjang waktu, lagi pula dimana lagi Indonesia bisa mempunyai sebuah Ibukota yang sangat modern, walau  sering banjir dan banyak tindak kejahatan, kesabaran warga jakarta memang sebagai bukti bahwa mereka cinta akan negaranya.

    Terdengar suara kendaraan  menghampiri sebuah rumah, Aku mendengar  itulah ayahku, yang sehari-hari berangkat ke kantor dengan mobil Rover yang satu-satunya aku miliki, Ayah memberikanku  sebuah sepeda motor, lumayan sangat memudahkanku untuk pergi ke kampus dan mencari data untuk tugas kuliah. Ayah datang dengan terlihat letih, dia melewati ruang tamu, lalu ruang keluarga sebagai ajang nonton  televisi, makan bersama, dan berkumpul untuk bercerita, saat ayah melewati, aku sedang asik memainkan Playstation, game yang saat itu sedang efektif untuk  menghibur penggila game, harganya lebih terjangkau  dari pada membeli PSP (Playstation Portablle) namun beliau bisa dibawa kemana-mana, lebih fleksibel.

   Ayah menanyakan Ip-ku, aku mencoba memberi jawaban yang pasti, “belum kelur yah !”, lalu ayah mencoba berpikir ulang, “masa belum keluar, ini kan sudah awal semester 2”, “mungkin pihak universitas sedang sibuk memilih rektor baru”, “memang rektor yang dahulu kemana”, “sudah pensiun yah”, lagi-lagi ku harus berbohong pada Ayah, aku sangat menyesal Ip-ku hanya  2.67 di semester pertama yang lalu, nilai yang  sangat tidak bisa diterima Ayah, Ayahku sangat mengutamakan pendidikan, bagi Ayahku, sebisanya anaknya lebih pintar darinya, menurut Ibuku, ayah seorang yang bekerja keras dan  mau mengalah untuk anaknya.

    Ini hari jumat, aku harus sholat jumat, ayahku sudah menelpon Ibu, untuk kepastian aku datang ke Masjid, hari ini aku libur, jadi aku bisa seharian  tinggal di rumah, namun ada tugas untuk hari senin, dan itu sangat mengganggu.

   Seusai pulang shalat jumat, tiba-tiba aku melirik ke sebelah rumah, rumah yang telah lama kosong, sekarang terlihat beberapa orang sedang membereskannya, kemudian aku kembali ke dalam rumah.
“Bu, rumah sebelah sudah ada yang menempati”
“Wah bagus donk, kita punya tetangga baru”
Sebelumnya kita memang agak ngeri dengan rumah sebelah yang sudah lama kosong, banyak warga sekitar menyebut  rumah  itu angker, sebab  tidak ada yang mau menempatinya,  aku terus memikirkannya karena rumahku bersebelahan.

   Malamnya aku ada acara bersama kawan sefakultas, Cuma acara sederhana, ngumpul di rumah temanku, lalu bakar ayam atau bermain gitar, hanya sekedar ajang cuap-cuap. Sebelum berangkat aku memanaskan motor, biasanya aku memanaskan motor pagi hari sebelum berangkat ke kampus, namun sepanjang hari ini aku tidak kemana-mana, sesaat mencuri pandangan ke arah penghuni rumah tersebut, terlihat seperti sebuah keluarga sedang sibuk hilir mudik, antusiasku untuk menyapa tergerak, tiba-tiba suara handphone ku berdering, dan teman-temanku  tak sabar menungguku, jadilah kunyalakan sepeda motorku, menuju 7 km lagi.

   Sampai disana aku bercerita tentang tetangga baruku  itu, orang yang baru menempati rumah angker tersebut, “wah akhirnya citra rumah angker tersebut musnah sudah ya di”, “memang.. namun aku belum mengenal tetangga baruku”, “wah jangan-jangan tetanggamu adalah kelompok pemuja setan” Singgih mencoba menakutiku, “jaman sekarang kelompok kaya gitu masih ada”, “masihlah di”, “dimana”, “aku melihatnya di film Jeniffer body aktrisnya Megan Fox “, “hah !!”
Malam itu sangatlah meriah, kita membakar beberapa ekor ayam, yang sudah dicabut bulu-bulunya, dengan suara-suara standar dari beberapa penyanyi amatir ditambah rembulan bulat terang telanjang, menghanghangatkan sekaligus melepaskan penat sejenak.

   Hari senin, telah datang dan aktifitas kembali dimulai, aku melihat tetanggaku memanaskan mobil di depan rumahnya, tidak sengaja ada yang menegurku, “selamat pagi, dek” aku menoleh ke samping dan ternyata seorang bapak memanggilku “kenalkan kami tetangga baru, kami lupa mengenalkan diri karena kemarin sangat sibuk membereskan rumah”, aku membalas dengan ramah “oh  ya’  pa, tidak apa-apa, kenalkan juga saya Cahyadi, panggil saya adi saja”, “namamu keren”, “panggil saja Pak Petra”. Akhirnya percakapan tersebut berakhir, kemudian ku melanjutkan aktifitasku kembali.

  Di dalam kelas aku memikirkan sebuah  nama “Petra”, nama itu sangat asing ku dengar, aku pernah mengenal nama itu, tapi dimana aku mendapatkannya, aku sangat lupa. Kira-kira 15 menit setelah mata kuliah dimulai, datanglah seorang perempuan ke kelas kemudian menghampiri Pak Gumelar yang saat itu sedang mengajar “kenalkan ini Ruth Evelyn, Mahasiswi pindahan dari Kalimantan”,  menyapa semua penghuni yang ada di depannya, kemudian perempuan itu mencari bangku yang kosong dan dia mendapatkannya, sebelah paling kanan disamping tembok, “Ruth Evelyn....nama itu sangat keren”

 Kuliah hari ini sudah selesai, aku langsung pulang ke rumah, sesampainya di rumah aku menceritakan tentang tetangga baru tersebut ke Ibu, “Bu tadi pagi aku disapa tetangga baru itu”, “oh iya, Ibu tidak melihatnya sepanjang ini” , “ada seorang Bapak namanya “Petra”, “Petra” nama itu terlihat unik”, “Iya Adi juga pernah mendegar nama itu, namun tak bisa mengingatnya”, kemudian kami berhenti membahasnya, lalu ibu menyuguhkan makan siang untukku.

  Membahas mata kuliah di jurusan Manajemen, bukanlah hal mudah, apalagi tidak terlalu gemar membaca, mengatasinya memang dengan gembira, gembira disana-sini, serta melaluinya dengan optimis, bagaikan mengalir seperti air tapi jangan hanyut bisa-bisa hanya ikut aliran yang menyesatkan, dengan begitu aku sedang di temani cahaya lampu serta sebuah buku di hadapanku, membaca dan membaca, Ayah menyuruhku, kalau sampai terlihat bermain Playstation lagi, uang jajanku dipotong beberapa persen.

  Kembali pagi menyambut, aku tak sengaja menatap Mahasiswa baru pindahan dari Kalimantan tersebut, aku melihatnya di sekitar rumah tersebut, “Ruth...ya ?”, dia menoleh ke arah suara sapaan, “eh....kamu teman sekelasku ya”, “Iya...Cahyadi neh, kita belum berkenalan sebelumnya” kita saling menghampiri lalu bercakap-cakap, tiba-tiha ibu muncul kemudian melihatku dengan Ruth, “Ibu kenalkan ini tetangga baru kita” Ibu menghampiri kita, “panggil saja Bu Wiwid, “ tukas ibu, “nama saya Ruth..bu”, “wah nama yang indah”, dua orang keluar karena mendengarkan percakapan kita, ternyata itu adalah orangtuanya ruth, akhirnya, Ibu dan aku saling mengenal tetangga baru, “Pak Petra, Bu Natalia, dan Ruth” Hanya ayah yang belum mengenal tetangga baru, ayah selalu pulang sore dan selalu melihat rumah tetangganya kosong, jadi belum sempat ayah berkenalan, namun ayah selalu bertanya pada Ibu dan Aku, bagaimana tetangganya, aku berkata mereka sangat ramah, dan  ibu merasa sebegitu, Ayah bergegas ke kamarnya kemudian mandi untuk menyegarkan diri.

  Aku kembali bertemu Ruth dikampus, dia sangat baik dan juga pintar, dia mudah sekali berorientasi dengan lingkungan, dan teman-teman menyukainya, saat ini aku sedang mendengar cerita tentangnya di Kantin Fakultas, Ruth  lancar bercerita, dan aku setia mendengarnya, bagaikan seorang yang menunggu kereta tujuannya datang.

  Ibu dan Ayah Ruth  berasal dari Kalimantan, mereka pindah ke Jakarta karena Mutasi dari kantor sebelumnya, sebenarnya Ruth tidak setuju tentang hal tersebut, namun Ayahnya mencoba mencari kehidupan yang lebih baik, ibunya selalu mendukung Ayahnya serta menjelaskan  kepada Ruth agar di terima dengan baik,  itulah penjelasan umum dari cerita Ruth yang kutangkap, sekarang Ruth hanya tinggal mencoba berkenalan dengan suasana Jakarta yang jauh berbeda dari kota sebelumnya.

  Pada suatu  kesempatan  akhirnya ayah berkenalan juga dengan tetangga sebelah, keluarga Ruth datang ke rumah kami dengan membawa buah-buahan segar, Ibu dan Ayah merasa sungkan menerima karena merepotkan, datang bertamu merupakan sesuatu yang baik, menjaga kerukunan, seharusnya pihak rumah lah yang menyuguhkan sebagaimana sunnah Nabi Muhammad saw.

 Lain kesempatan, aku mendapatkan waktu berjalan-jalan dengan ruth, hubungan kami menjadi akrab selama satu minggu berlalu, kesempatan ke  kampus bersama jika orangtuanya tidak memungkinkan untuk mengantar Ruth ke kampus, kadang hari libur Ruth mengajakku lari pagi, dan aku menerima tawaran itu dengan mata sedikit ngantuk.

                                                                       *****

   Dosen mata kuliah pagi  ini tidak hadir, jadi kami menghabiskan 2 sks untuk bercanda, dan ribut di dalam kelas, ruth tak tampak di kelas, aku mengobrol dengan Fandy, Jone, Poe, Hanun, mereka semua menyenangkan, jika diajak ngobrol gak karuan seperti ini, mereka sangat antusias, lain hal jika diajak kerja kelompok ogah-ogahan, jadilah aku meminta bantuan Keyla, teman wanita yang baik hati, sering mengajariku Akuntansi dan rela berbagi jawaban tugas kuliah.

  Awalnya Fandy membuka topik tentang kawan baru kita, siapa lagi Ruth, Ruth menjadi tokoh dalam cerita Fandy, dia menceritakan kalau Ruth adalah gadis katholik, aku terkejut, aku tetangganya saja, tak tahu menahu tentang hal tersebut, “aku melihat biodata ruth saat meminta krs di biro” celetuk fandy,” terus gimana lagi” tukas poe, “saat aku lihat, ayahnya seorang pastur, dan ibunya adalah...”, fandy mencoba menelusuri ingatannya, “....ah aku lupa”, saat itu aku terdiam, memikirkan sesuatu.

   Dalam perjalanan ke tempat Keyla, untuk bertanya tentang kuliah statistik, aku terus memikirkan  Ruth, baru kusadari Ruth beragama katholik, sudah seminggu aku mengenalnya dan  jalan dengannya, namun perasaanku ada yang berubah setelah mendengar pernyataan Fandy. Sesampainya di rumah Keyla, aku disambut gadis berkerudung dan periang itu, Ibunya yang asli Betawi mempunyai banyak banyolan, aku sempat dijadikannya teman ngobrol rutin ketika berkunjung, dengan upah pisang goreng dan wedang jahe, kalau bapaknya keyla adalah camat’Statistik  itu membosankan ‘ la !”, ujar diriku karena sangat terganggu, “semua pelajaran gak ada yang mudah jika kita tidak  pelajari” jawab rendah keyla, hatiku terketuk, jawaban itu dapat kugunakan dalam memberi alasan terhadap Ayahku. Hari ini selesai juga tugas Praktikum  Statistik, yang di kerjakan bersama-sama. 

    Aku pulang kerumah menjelang mahgrib Melihat Ruth dengan wajah asam membuatku terangsang untuk mendekatinya, “hai Ruth, asem bangat tuh muka”. Ruth menatap lalu tersenyum, “pulsa yang ku beli di depan jalan, tidak terkirim”, “orangtuamu belum pulang”, “nah..itu alaasannnya aku sebal, aku ingin menghubungi mereka”, akhirnya kami berdua ngobrol di teras rumah Ruth, setengah jam kemudian Orangtuanya datang, dan aku berpamitan untuk melaksanakan shalat maghrib.

   Setelah shalat maghrib, aku mendengar Ibu dan Ayah sedang mengobrol tentang tetangga sebelah, aku mendengarnya di balik pintu kamar mereka, dan ternyata mereka mengetahui kalau keluarga tersebut beragama  katholik, perasaanku semakin berdebar, apalagi Ruth sudah akrab denganku, semua ini akan berubah, orangtuaku adalah orang yang taat beragama, bagaimaan pandangan mereka dengan agama yang lain.



Bersambung...............................

About the Author

Unknown / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Post a Comment

Catatan Penulis & Arsip Pribadi

Powered by Blogger.

Instagram

Popular Posts

Contact Us

Name

Email *

Message *

Pages

Like us

http://melanialysandra.blogspot.com/

About me

Nama : Helmi Agusrizal Place/Date of Birth : Jakarta/august 02, 1988 Sex : Male Citizenship : Indonesia Marital status : Married Religion : Moslem E-mail address : Helmi.agusrizal@gmail.com Address : Pondok Budiasih (Saluyu), Jl. Ahmad Syam, Kampung Ciawi, Desa Cikeruh (RT/RW 02/04), Jatinangor – Sumedang, Jawa Barat. 45363 Phone : Mobile (081214613112) Formal Education : 2006 – 2010 IKOPIN, majoring in human resourch management, Jatinagor-Bandung 2003 – 2006 Senior High School in SMA YUPPENTEK 1 Tangerang, Banten-Serang 2001 – 2003 Junior High School in SMPN 19 Tangerang, Banten-Serang 1995 – 2001 Elementary School in SDN Dayung Tangerang, Banten-Serang 1993 - 1995 Kindergaten School in TK Nurul Islam Tangerang, Banten-Serang

Facebook

http://delighthomegarden.blogspot.com/

Entri Populer