Dirman bergegas pergi seperti
sedang terburu buru, meninggalkan rumah menuju mushola, sebentar lagi ashar
menjelang, dia harus mengumandangkan adzan untuk memanggilkan para warga agar
bergegas shalat ashar ke mushola bersama sama. Dirman duduk di sajadah urutan
depan setelah mengumandangkan adzan muka dirman tertunduk mulut komat kamit
tapi tidak keras, Dirman sedang berdoa saat warga belum ada yang datang.
Dirman memimpin shalat ashar,
dengan bacaan shalat lengkap, para warga senang kalau dirman selalu menjadi
imam shalat, selain dia hapal semua surat al quran , cara menyampaikannya juga
membuat tenang, shalat menjadi khidmat dan semua menjadi nikmat, sehabis shalat
para warga mengobrol dengan Dirman, para warga senang mengobrol dengan Dirman
karena dia bisa menghasilkan solusi setiap masalah para warga, dia punya bakat
menjadi konsultan, caranya begitu lembut hingga sehabis kita bercerita solusi datang dan masalah perlahan ada jalan keluar, Dirman seorang
merbot tapi seperti sunan atau kyai yang menjadi pemuka agama di sekitar
Desa Jeruk, semua datang padanya.
Kehidupan dirman cukup sederhana,
selain jadi merbot dia juga berdagang di rumahnya, warung sederhana tapi
banyak pembeli, selain di jaga kebersihannya, banyak juga yang datang hanya
mengobrol, seiring mengobrol perut lapar dengan itu mereka membeli makanan yang
dijual.
Istri Dirman sudah lama meninggalkannya,
karena alasan ekonomi Susi rela meninggalkan dimana dengan anak satu satunya Wati,
masa masa sulit itu sudah dialami Dirman 2 tahun yang lalu, tak ada jalan lain kecuali
bertahan hidup, dia harus menghidupi anak paling disayanginya, agar kelak dia
lebih baik dari nasib ayahnya.
Kehidupan desa jeruk di pinggir
kota Jakarta lumayan tenang, mayoritas pekerjaan para warga adalah pedagang,
biasanya pagi pagi sekali beberapa warga yang mencari pendapatan di Kota,
berangkat bersama bersama ketika pagi maupun yang lebih awal, suara adzan subuh
yang terlantun dari suara Dirman sepertinya menyemangati mereka satu persatu
seperti udara yang dihirup dan tulang kaki mereka.
Kadang kadang Dirman selalu
mengingat susi ketika dia bangun subuh hari, mengingat senyumnya mengingat
perjuangan, mengingat saat dia mengawininya di kampung, dan bersama bersama
pergi ke kota atas persetujuan bersama, Dirman pergi kekota membawa istrinya
karena alasan ekonomi, dia berpikir Ibukota mungkin akan membuatnya bahagia,
dia tidak meminta lebih pada Tuhan, dia meminta agar istrinya dan kelak anaknya
berkecukupan, tapi Tuhan berkata lain, Dirman memiliki rintangan yang luar
biasa selama di jakarta, sangat berat bagi Dirman kalau diketahui, tapi dari
kesehariannya seperti selalu optimis saja.
Ingat kampung Dirman selalu
mengirim surat kepada orang tuanya disana, beberapa rupiah selalu dia kirimkan,
dari hasil berdagangnya, selalu mensyukuri selalu mensyukuri itu Ucap Dirman,
tak banyak harapan juga dari dirinya, seiring ekonomi sulit dari tahun ke
tahun, tidak ada pilihan selain hidup bermandiri dan berusaha, Dirman yang
lulusan Smp ini tak tahu lagi mau bekerja apa, dia hanya bisa berdagang kecil
kecilan, lapangan pekerjaan juga tidak ada yang menjanjikan untuknya, banyak
orang pintar yang menguasai ibukota, Dirman akan ditendang hingga laksana
menjadi tanah yang kering tak berguna.
Desa jeruk bersampingan dengan Komplek
mawar putih, dimana tinggal para warga kelas atas, ada kelas menengah, keduanya dibatasi oleh sebuah
tembok beton yang tidak terlalu tinggi, namun ada sebuah pintu agak besar yang
mnghubunginya, itu hasil para warga yang bermusyawarah kepada para pengusaha
agar bisa berjualan kepada warga Komplek mawar putih juga, warga mawar putih
ada yang keberatan dan juga ada yang setuju. Akhirnya hasil mufakat warga desa
jeruk boleh berjualan , namun warga siap dengan aturan aturannya, disiapkan pos
satpam tidak jauh dari pintu tersebut.
Mushola desa jeruk yang bernama
Al-ikhlas berdiri kokoh, mushola yang berdiri karena swadaya warga desa jeruk
dan di bantu warga komplek mawar putih yang baik hati ini, tidak terlalu besar
tapi amat berguna. Warga desa jeruk rutin membersihkan mushola setiap hari
dengan kesadaran sendiri.
Sekian dari masalah para warga adalah
hak kewarganegaaran, 3 hari yang lalu, datang bos besar dengan ajudannya yang kekar
datang ke desa jeruk menemuni kepala warga, Bos tersebut mengatakan tanah desa
jeruk adalah milik Negara, warga pun kaget mendengarnya, padahal mereka sudah
20 tahun lebih tinggal disini, warga senior yang sudah lama tinggal, mengatakan
kita menang di pengadilan untuk kepemilikan desa jeruk. Mbah parto
mengatakannya dengan tegas, salah satu kepala mushola Al-ikhlas ini, dengan
berapi api menatap para Bos tersebut, para Bos berkelak dengan keterangan Mbah Parto,
“tanah ini milik Negara, tanah ini akan dibangun tamam rekrersi untuk warga
ibukota, kalian para warga yang tidak jelas akan dipindahkan”, Jelas Si Bos, “dipindahkan
kemana pak ?” salah satu warga membalas, “bukan kami yang urus, ada yang urus
nanti” ucap Bos berkumis tebal tersebut didekatnya ada ajudannya menatap tajam.
Hari itu jadi bagian tersedih
bagi para warga desa jeruk, dirman menuduk sepi, dia memkirkan anaknya,
memikirkan pekerjaan, memikirkan tetangganya, sulit sekali mendapatkan keadilan
sebagai warga, Dirman bercerita mendapatkan kartu kependudukan saja sulit, dia
harus berembuk bersama warga dengan modus berbohong dengan mengatas namakan
alamat palsu agar mendapatkan kartu penduduk, Dirman tak bisa apa apa, ikut
saja, hal itu terjadi 2 tahun yang lalu. Menjadi warga pinggiran memang
dirasakan Dirman dan warga lain,
******
Kehidupan warga komplek mawar
putih kontras dengan desa jeruk, penuh berkecukup dengan kemewahan, tak peduli
hasil dari mana, terpenting perut dan keluarga senang, ada salah satu pemuka
agama yang tinggal disitu yaitu Pak Broto biasanya dipanggil Pa Haji Bro
senengnya dipanngi itu, haji 5 kali selalu dia banggakan kepada warga lain, Istrinya
yang parlete selalu memakai kalung dan gelang yang berselimut emas, secara
percaya diri memakainya ketika arisan warga, gaya bicaranya yang sok menunjukan
pengeluarannya dan pemasukannya secara umum membuatnya terlihat “wah” bagi para
warga mendengarnya, sesama parlete mungkin Siska bisa diterima.
Para warga desa jeruk sedang
rapat kecil kecilan di rumah Pak Godek, Pak Godek dipercaya para warga menjadi
ketua rukun warga, rukun tetangga dipercaya Pak Bontot, keduanya baik hati,
jujur dan selalu mikirkan warga. Pak Bontot mengusulkan untuk meminta bantuan
kepada Pa Haji Bro, karena alasan dia seorang pekerja politik, dia seorang
anggota DPRD. Para warga yang datang meresapi ide Pak Bontot sejenak, ada yang
menceloteh memang bisa seorang Pa Haji Bro menolong kita, lihat istrinya yang
belagu sepertinya dia lebih senang mengurus pribadinya dari pada kita. Pak Bontot
membalas tidak ada yang salah toh kalau kita datang ke pa haji dan menceritakan
keluhan kita, dulu yang begitu menolong kita masalah pembatas tersebut kan
paling vocal pa haji, dan urusan kartu penduduk kita sebagian pa haji juga.
Siapa tahu ?.
Setelah berdebat lama, dengan
beberapa ide yang memusingkan kepala RT dan RW yang harus mengambil keputusan,
akhirnya para warga tidak ada jalan lain selain meminta tolong kepada pa haji Bro.
2 hari yang akan datang, perwakilan desa jeruk akan datang kerumah Pa Haji Bro.
Dirman yang datang di rapat
tersebut, hanya bisa terdiam, mungkin dia tidak mengerti apa yang harus dia
pikirkan tentang masalah itu, Dirman banyak diminta solusi tapi dia padam,
lukisan wajahnya suram dan hanya mengingatnya anaknya kalau ini terjadi, Dirman
tak mau kembali lagi ke kampung, di kampung lebih lagi tidak harapan disana.
Ingin mandiri rasanya dia.
******
Setelah melaksanakan shalat subuh
Dirman bergegas pergi ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan yang kurang, “Wati
ayah pergi ke pasar dulu, kebutuhan ayah ada yang kurang” Wati yang masih
mengantuk tersebut, mengiakan niat Ayahnya, wajah Wati yang bersiram air wudhu
semakin manis saja dipandangnya.
Dirman harus melewati Komplek
mawar putih untuk menuju pasar, Dirman bersapa dengan Satpam yang berjaga, “mau
kemane bang dirman” sahut Soleh yang berjaga di Pos, “ini bang mau belanja,
masih jaga bang?” “ie neh masih jaga ampe jam 6 nanti,”. Setelah bercakap cakap
dengan para Satpam, Dirman melewati rumah warga yang megah, Dirman menelan
ludah saat melewatinya satu persatu, dia berkhayal kapan punya rumah gedong
tersebut, makan aja kadang kadang sulit, cuma mimpi, apalagi sebagian
kepikirannya sudah terisi oleh desa jeruk yang ingin dijadikan taman rekreasi.
Di pasar sudah ramai dengan para
warga yang ingin membeli beberapa kebutuhan untuk berdagang, Dirman menyapa
beberapa warga yang dia kenal, satu blok dari sana, dia berjumpa Nyonya Ling,
pengusaha keturunan Tionghoa ini merupakan pribadi yang baik hati menurut Dirman,
dia mata Dirman Nyonya Ling tidak membeda bedakan orang, santun, dan peduli
sekitar, salah satu karyawannnya adalah teman akrab Dirman, dia mengatakan Nyonya
Ling pernah membantu para orang tua tidak mampu secara ekonomi pergi haji, dan
membuat masjid di kampungnya, walaupun Nyonya Ling bukan muslim, tapi dia
seorang yang baik hati.
“Nyonya Ling” sahut Dirman, Nyonya
Ling menoleh dan melungsungkan senyumnya kearah Dirman, “eh Dirman elo belanja
juga”, “iya Nyonya ada yang kurang”, “elo masih dagang”, “masih nyonya”, “panggil
saja oe Ibu”, “jangan Nyonya”, “ah gak enak Bos besar dipanggil Ibu, panggil
nyonya biar enak”, “ah elu ada ada aja”, “elu mau beli apa aja”, Dirman
menjelaskan bawang, cabai dan beberapa bumbu instant yang ingin dibelinya, “elu
beli aja ntar gue yang bayar”, “ah tidak usah nyonya”, “udah jangan malu malu
luh, gw yang bayar”, Dirman lebih senang lagi Nyonya ing dermawan, rezeki yang
tidak terduga. Akhirnya mereka berdua larut dalam suasan pasar.
Sepulangnya Dirman ikut dengan
mobil Nyonya Ling atas bujukan, “aduh Nyonya Ling di mobil ada sejuk dan wangi
tidak seperti rumah saya panas dan bau karena dekat waduk”, “jangan panggil gue
nyonya panggil saja gue Ibu”, “oh iya saya lupa Bu”, Nyonya Ling melungsukan
pertanyaan, “Man muka lu keliahatan lecek kenape”, “heheh memang begini Bu muka
saya dari dulu”, “ah beda aja”. Dirman tak kuasa ingin menceritakan keluhan
terbesar itu, ini loh Bu ada masalah di desa jeruk, “masalah ape” balas Nyonya,
2 hari yang lalu datang orang orang yang mengaku bahwa tanah desa jeruk punya
Negara, dan akan dibangun taman rekereasi, tapi kami berontak bahwa kamilah
yang sah memiliki desa ini.
Sesampainya di rumah Nyonya Ling
, Dirman dipaksa ikut kerumah dan menceritakan dengan detail bagaimana
peristiwa tersebut, Dirman datang kerumah Nyonya Ling dengan hati kecil, malu
malu melihat isi rumah, sepertinya bukan tempatnya, Nyonya Ling mengajaknya ke
ruang tamu, menyodorkan teh hijau dan bapao, “nih Man, buat elu, tenan aja gak
ada babinya kok”, Dirman cengangas cengenges. “nah sekarang ceritain deh itu
peristiwannya gimana?”.
Bapak bapak yang mengaku dari pemerintahan
tersebut, datang kepada kami, mengatakan jika sebulan lagi para warga tidak
mengosongkan lahan ini, warga akan diusir paksa, beliau juga melampirkan surat
jalan, dengan begitu para warga campur aduk. Lekaslah diadakan rapat dirumah Pa
Rw di hasil rapat itu para warga setuju meminta bantuan kepada Pa Haji Bro
untuk meminta bantuan, karena dia seorang anggota DPRD, begitu Bu ling, saya
sendiri sejujurnya tidak begitu yakin kepada keputusan, tapi suara yang
mendukung banyak sekali, jadi saya ikut
ikut saja, sambil mencicipi bapao.
Nyonya Ling berpikir sejenak sambil
menatap lukisannya dibelakangku, saya pernah mengalami kejadian kayak gini,
orang kecil lagi yang menderita, orang orang kaya yang senang, dalam kehidupan
saya fakta tersebut selalu terjadi, tuhan gak adil apa manusianya tidak punya
tuhan lagi di hati dan pikiran mereka. “Terus elu mau kemana man kalau diusir”,”
ya kalau saya mentok mentok balik ke kampung”.
Dirman meningglakan rumah Nyonya
Ling dengan perasaan belum lega, dia berharap Nyonya baik hati bisa mambantu
masalah desa jeruk tersebut, rumahnya yang gede terlihat dibelakangku, hasil
kerja kerasnya berbuah hasil.
*****
Hari yang diputuskan sudah datang,
dengan wakil dari desa jeruk menemui Pa Haji Bro untuk bertandang ke rumahnya
bersama beberapa warga, disana Pa Haji ramah dan menyuguhkan beberapa minuman
dan makanan kecil yang belum pernah dicicipi para warga, istrinya yang belagu
diam saja duduk disampingnya. “Maksud kedatangan kami kesini untuk meminta
bantuan kepada bapak masalah lahan kami pak” ucap Kepala RW, “saya sudah tahu
dari beberapa pihak bahwa lahan desa jeruk mau di gusur dan dijadikan taman
rekreasi, mungkin saya bisa bantu kalau para warga punya bukti kuat”, balas Pa
Haji, kami punya bukti kuat pak kami menang di pengadilan atas kepemilikan
lahan tersebut. Itu bisa jadi bukti buat menolong desa jeruk boleh saya minta,
boleh pak, fotokopi saja nanti kasih ke saya , simple kan !!.
Sambil tertawa pa haji berkata, “6
bulan lagi, pemilihan Walikota neh, para warga jeruk pilih saya ya”, sambil
bercanda.
******
Harapan para warga desa jeruk
tidak sepenuhnya berjalan mulus, tetap saja pergusuran tersebut terjadi.
Dijalan raya menuju desa, mobil Satpol PP dengan gagah melaju dan petugas
petugasnya yang sudah di doktrin otakknya, suasana tersebut terlihat oleh salah
satu warga desa jeruk, lalu dengan bergegas menuju lokasi, di lokasi terlihat
gemuruh setelah mendapat laporan tersebut, seperti terbit tenggelam, semua warga
mengunci setiap rumah masing masing, ada yang ber ide melawan dengan berbekal
kayu balok, linggis, ataupun parang. “mana neh Pa Haji Bro katanya mau bantu
kita tetap saja kita digusur”, “sepertinya pa haji sedang di kantornya yang ber
AC dan menikmati teh manis hangat sambil menonton tv”.
Suara keras Mobil Mobil Petugas
Satpol PP melewati rumah rumah megah di Kompleks mawar putih, ada yang mendengar
tapi acuh diam saja didalam rumah, adapun yang keluar memastikan apa yang
terjadi. Sampai di lokasi pertengkaran dimulai, adu bicara dan kekerasan
bercampur aduk, tak mungkin para warga menang , petugas lebih banyak. Tanah merah
bercampur angin, ayam ayam berlarian, dan suara suara mengerikan menerjang bagai badai hati yang berkemelut.
Nyonya Ling mendengar bahwa desa
jeruk di bantai, dengan wajah emosi dan menantang, dia menuju desa jeruk dengan
kedua anak lelakinya yang baru lulus kulih di Kanada, “Mamah mau apa kesana”, “mamah
kan lagi sakit”, “udah jangan banyak bacot lu”, “Gue mau nolongin orang kecil”,
kedua anaknya terdiam. Disana keadaan begitu mengerikan sebagian rumah sudah
hancur rata dengan tanah, para warga yang tak bisa apa apa, hanya menatap
kosong di pinggir pinggir. Terdengar suara keras meneriaki para petugas yang
bermuka galak, “eh bego berhenti loh ngejejah orang kecil”, sebagian terdiam,
petugas Satpol PP menghampiri Nyonya Ling, “ada masalah bu, “ tukas komandan
Satpol PPnya “eh gendut lu yang cari masalah“ , “ memang saya salah apa bu” , “siapa
yang suruh elo ratain neh lahan” , “
saya dapat tugas , ya saya kerjain “, “dasar robot lu gak ada hati nurani”, “eh
ibu siapa ya tiba tiba datang gerutu saya”, “saya peduli mereka, siapa yang
suruh elo” , “pemerintah yang suruh saya ci”, “maksud elu apa manggil gw ci ”, “mata
Ibu sipit, ya saya panggil ci “, “wah lu nantang gw gendut ?“.
Suasana semakin rumit, adu debat
beraksi dan bereaksi, para warga semakin emosi, karena para Petugas Satpol PP
mulai memaki dan menekan Nyonya Ling dan anak anaknya, tiba tiba Dirman
menantang Kepala Petugas Satpol PP tersebut dengan bicara di depan mukanya,
“pak jangan rasis, dia lebih baik dari Bapa yang orang asli, dia punya hati dan
tekad yang lebih kuat untuk menolong sesama secara ikhlas, dari pada Bapa hati
dan pikiran bapa gak ada karena disetir sama duit dan jabatan untuk kepentingan
perut Bapa sendiri “.
Jatinangor, Jawa Barat

0 comments:
Post a Comment