Thursday, August 22, 2013

NYONYA BAIK HATI (CERPEN)

Unknown


 Dirman bergegas pergi seperti sedang terburu buru, meninggalkan rumah menuju mushola, sebentar lagi ashar menjelang, dia harus mengumandangkan adzan untuk memanggilkan para warga agar bergegas shalat ashar ke mushola bersama sama. Dirman duduk di sajadah urutan depan setelah mengumandangkan adzan muka dirman tertunduk mulut komat kamit tapi tidak keras, Dirman sedang berdoa saat warga belum ada yang datang.

 Dirman memimpin shalat ashar, dengan bacaan shalat lengkap, para warga senang kalau dirman selalu menjadi imam shalat, selain dia hapal semua surat al quran , cara menyampaikannya juga membuat tenang, shalat menjadi khidmat dan semua menjadi nikmat, sehabis shalat para warga mengobrol dengan Dirman, para warga senang mengobrol dengan Dirman karena dia bisa menghasilkan solusi setiap masalah para warga, dia punya bakat menjadi konsultan, caranya begitu lembut hingga sehabis kita bercerita solusi datang dan masalah perlahan ada jalan keluar, Dirman seorang merbot tapi seperti sunan atau kyai yang menjadi pemuka agama di sekitar Desa Jeruk, semua datang padanya.

  Kehidupan dirman cukup sederhana, selain jadi merbot dia juga berdagang di rumahnya, warung sederhana tapi banyak pembeli, selain di jaga kebersihannya, banyak juga yang datang hanya mengobrol, seiring mengobrol perut lapar dengan itu mereka membeli makanan yang dijual.

  Istri Dirman sudah lama meninggalkannya, karena alasan ekonomi Susi rela meninggalkan dimana dengan anak satu satunya Wati, masa masa sulit itu sudah dialami Dirman 2 tahun yang lalu, tak ada jalan lain kecuali bertahan hidup, dia harus menghidupi anak paling disayanginya, agar kelak dia lebih baik dari nasib ayahnya.

  Kehidupan desa jeruk di pinggir kota Jakarta lumayan tenang, mayoritas pekerjaan para warga adalah pedagang, biasanya pagi pagi sekali beberapa warga yang mencari pendapatan di Kota, berangkat bersama bersama ketika pagi maupun yang lebih awal, suara adzan subuh yang terlantun dari suara Dirman sepertinya menyemangati mereka satu persatu seperti udara yang dihirup dan tulang kaki mereka.

 Kadang kadang Dirman selalu mengingat susi ketika dia bangun subuh hari, mengingat senyumnya mengingat perjuangan, mengingat saat dia mengawininya di kampung, dan bersama bersama pergi ke kota atas persetujuan bersama, Dirman pergi kekota membawa istrinya karena alasan ekonomi, dia berpikir Ibukota mungkin akan membuatnya bahagia, dia tidak meminta lebih pada Tuhan, dia meminta agar istrinya dan kelak anaknya berkecukupan, tapi Tuhan berkata lain, Dirman memiliki rintangan yang luar biasa selama di jakarta, sangat berat bagi Dirman kalau diketahui, tapi dari kesehariannya seperti selalu optimis saja.

 Ingat kampung Dirman selalu mengirim surat kepada orang tuanya disana, beberapa rupiah selalu dia kirimkan, dari hasil berdagangnya, selalu mensyukuri selalu mensyukuri itu Ucap Dirman, tak banyak harapan juga dari dirinya, seiring ekonomi sulit dari tahun ke tahun, tidak ada pilihan selain hidup bermandiri dan berusaha, Dirman yang lulusan Smp ini tak tahu lagi mau bekerja apa, dia hanya bisa berdagang kecil kecilan, lapangan pekerjaan juga tidak ada yang menjanjikan untuknya, banyak orang pintar yang menguasai ibukota, Dirman akan ditendang hingga laksana menjadi tanah yang kering tak berguna.

 Desa jeruk bersampingan dengan Komplek mawar putih, dimana tinggal para warga kelas atas, ada  kelas menengah, keduanya dibatasi oleh sebuah tembok beton yang tidak terlalu tinggi, namun ada sebuah pintu agak besar yang mnghubunginya, itu hasil para warga yang bermusyawarah kepada para pengusaha agar bisa berjualan kepada warga Komplek mawar putih juga, warga mawar putih ada yang keberatan dan juga ada yang setuju. Akhirnya hasil mufakat warga desa jeruk boleh berjualan , namun warga siap dengan aturan aturannya, disiapkan pos satpam tidak jauh dari pintu tersebut.

 Mushola desa jeruk yang bernama Al-ikhlas berdiri kokoh, mushola yang berdiri karena swadaya warga desa jeruk dan di bantu warga komplek mawar putih yang baik hati ini, tidak terlalu besar tapi amat berguna. Warga desa jeruk rutin membersihkan mushola setiap hari dengan kesadaran sendiri.

  Sekian dari masalah para warga adalah hak kewarganegaaran, 3 hari yang lalu, datang bos besar dengan ajudannya yang kekar datang ke desa jeruk menemuni kepala warga, Bos tersebut mengatakan tanah desa jeruk adalah milik Negara, warga pun kaget mendengarnya, padahal mereka sudah 20 tahun lebih tinggal disini, warga senior yang sudah lama tinggal, mengatakan kita menang di pengadilan untuk kepemilikan desa jeruk. Mbah parto mengatakannya dengan tegas, salah satu kepala mushola Al-ikhlas ini, dengan berapi api menatap para Bos tersebut, para Bos berkelak dengan keterangan Mbah Parto, “tanah ini milik Negara, tanah ini akan dibangun tamam rekrersi untuk warga ibukota, kalian para warga yang tidak jelas akan dipindahkan”, Jelas Si Bos, “dipindahkan kemana pak ?” salah satu warga membalas, “bukan kami yang urus, ada yang urus nanti” ucap Bos berkumis tebal tersebut didekatnya ada ajudannya menatap tajam.

  Hari itu jadi bagian tersedih bagi para warga desa jeruk, dirman menuduk sepi, dia memkirkan anaknya, memikirkan pekerjaan, memikirkan tetangganya, sulit sekali mendapatkan keadilan sebagai warga, Dirman bercerita mendapatkan kartu kependudukan saja sulit, dia harus berembuk bersama warga dengan modus berbohong dengan mengatas namakan alamat palsu agar mendapatkan kartu penduduk, Dirman tak bisa apa apa, ikut saja, hal itu terjadi 2 tahun yang lalu. Menjadi warga pinggiran memang dirasakan Dirman dan warga lain,  

******

 Kehidupan warga komplek mawar putih kontras dengan desa jeruk, penuh berkecukup dengan kemewahan, tak peduli hasil dari mana, terpenting perut dan keluarga senang, ada salah satu pemuka agama yang tinggal disitu yaitu Pak Broto biasanya dipanggil Pa Haji Bro senengnya dipanngi itu, haji 5 kali selalu dia banggakan kepada warga lain, Istrinya yang parlete selalu memakai kalung dan gelang yang berselimut emas, secara percaya diri memakainya ketika arisan warga, gaya bicaranya yang sok menunjukan pengeluarannya dan pemasukannya secara umum membuatnya terlihat “wah” bagi para warga mendengarnya, sesama parlete mungkin Siska bisa diterima. 

  Para warga desa jeruk sedang rapat kecil kecilan di rumah Pak Godek, Pak Godek dipercaya para warga menjadi ketua rukun warga, rukun tetangga dipercaya Pak Bontot, keduanya baik hati, jujur dan selalu mikirkan warga. Pak Bontot mengusulkan untuk meminta bantuan kepada Pa Haji Bro, karena alasan dia seorang pekerja politik, dia seorang anggota DPRD. Para warga yang datang meresapi ide Pak Bontot sejenak, ada yang menceloteh memang bisa seorang Pa Haji Bro menolong kita, lihat istrinya yang belagu sepertinya dia lebih senang mengurus pribadinya dari pada kita. Pak Bontot membalas tidak ada yang salah toh kalau kita datang ke pa haji dan menceritakan keluhan kita, dulu yang begitu menolong kita masalah pembatas tersebut kan paling vocal pa haji, dan urusan kartu penduduk kita sebagian pa haji juga. Siapa tahu ?.

  Setelah berdebat lama, dengan beberapa ide yang memusingkan kepala RT dan RW yang harus mengambil keputusan, akhirnya para warga tidak ada jalan lain selain meminta tolong kepada pa haji Bro. 2 hari yang akan datang, perwakilan desa jeruk akan datang kerumah Pa Haji Bro.

 Dirman yang datang di rapat tersebut, hanya bisa terdiam, mungkin dia tidak mengerti apa yang harus dia pikirkan tentang masalah itu, Dirman banyak diminta solusi tapi dia padam, lukisan wajahnya suram dan hanya mengingatnya anaknya kalau ini terjadi, Dirman tak mau kembali lagi ke kampung, di kampung lebih lagi tidak harapan disana. Ingin mandiri rasanya dia.

******

 Setelah melaksanakan shalat subuh Dirman bergegas pergi ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan yang kurang, “Wati ayah pergi ke pasar dulu, kebutuhan ayah ada yang kurang” Wati yang masih mengantuk tersebut, mengiakan niat Ayahnya, wajah Wati yang bersiram air wudhu semakin manis saja dipandangnya.

 Dirman harus melewati Komplek mawar putih untuk menuju pasar, Dirman bersapa dengan Satpam yang berjaga, “mau kemane bang dirman” sahut Soleh yang berjaga di Pos, “ini bang mau belanja, masih jaga bang?” “ie neh masih jaga ampe jam 6 nanti,”. Setelah bercakap cakap dengan para Satpam, Dirman melewati rumah warga yang megah, Dirman menelan ludah saat melewatinya satu persatu, dia berkhayal kapan punya rumah gedong tersebut, makan aja kadang kadang sulit, cuma mimpi, apalagi sebagian kepikirannya sudah terisi oleh desa jeruk yang ingin dijadikan taman rekreasi.

  Di pasar sudah ramai dengan para warga yang ingin membeli beberapa kebutuhan untuk berdagang, Dirman menyapa beberapa warga yang dia kenal, satu blok dari sana, dia berjumpa Nyonya Ling, pengusaha keturunan Tionghoa ini merupakan pribadi yang baik hati menurut Dirman, dia mata Dirman Nyonya Ling tidak membeda bedakan orang, santun, dan peduli sekitar, salah satu karyawannnya adalah teman akrab Dirman, dia mengatakan Nyonya Ling pernah membantu para orang tua tidak mampu secara ekonomi pergi haji, dan membuat masjid di kampungnya, walaupun Nyonya Ling bukan muslim, tapi dia seorang yang baik hati.

 “Nyonya Ling” sahut Dirman, Nyonya Ling menoleh dan melungsungkan senyumnya kearah Dirman, “eh Dirman elo belanja juga”, “iya Nyonya ada yang kurang”, “elo masih dagang”, “masih nyonya”, “panggil saja oe Ibu”, “jangan Nyonya”, “ah gak enak Bos besar dipanggil Ibu, panggil nyonya biar enak”, “ah elu ada ada aja”, “elu mau beli apa aja”, Dirman menjelaskan bawang, cabai dan beberapa bumbu instant yang ingin dibelinya, “elu beli aja ntar gue yang bayar”, “ah tidak usah nyonya”, “udah jangan malu malu luh, gw yang bayar”, Dirman lebih senang lagi Nyonya ing dermawan, rezeki yang tidak terduga. Akhirnya mereka berdua larut dalam suasan pasar.

  Sepulangnya Dirman ikut dengan mobil Nyonya Ling atas bujukan, “aduh Nyonya Ling di mobil ada sejuk dan wangi tidak seperti rumah saya panas dan bau karena dekat waduk”, “jangan panggil gue nyonya panggil saja gue Ibu”, “oh iya saya lupa Bu”, Nyonya Ling melungsukan pertanyaan, “Man muka lu keliahatan lecek kenape”, “heheh memang begini Bu muka saya dari dulu”, “ah beda aja”. Dirman tak kuasa ingin menceritakan keluhan terbesar itu, ini loh Bu ada masalah di desa jeruk, “masalah ape” balas Nyonya, 2 hari yang lalu datang orang orang yang mengaku bahwa tanah desa jeruk punya Negara, dan akan dibangun taman rekereasi, tapi kami berontak bahwa kamilah yang sah memiliki desa ini.

 Sesampainya di rumah Nyonya Ling , Dirman dipaksa ikut kerumah dan menceritakan dengan detail bagaimana peristiwa tersebut, Dirman datang kerumah Nyonya Ling dengan hati kecil, malu malu melihat isi rumah, sepertinya bukan tempatnya, Nyonya Ling mengajaknya ke ruang tamu, menyodorkan teh hijau dan bapao, “nih Man, buat elu, tenan aja gak ada babinya kok”, Dirman cengangas cengenges. “nah sekarang ceritain deh itu peristiwannya gimana?”.

 Bapak bapak yang mengaku dari pemerintahan tersebut, datang kepada kami, mengatakan jika sebulan lagi para warga tidak mengosongkan lahan ini, warga akan diusir paksa, beliau juga melampirkan surat jalan, dengan begitu para warga campur aduk. Lekaslah diadakan rapat dirumah Pa Rw di hasil rapat itu para warga setuju meminta bantuan kepada Pa Haji Bro untuk meminta bantuan, karena dia seorang anggota DPRD, begitu Bu ling, saya sendiri sejujurnya tidak begitu yakin kepada keputusan, tapi suara yang mendukung banyak sekali,  jadi saya ikut ikut saja, sambil mencicipi bapao.

 Nyonya Ling berpikir sejenak sambil menatap lukisannya dibelakangku, saya pernah mengalami kejadian kayak gini, orang kecil lagi yang menderita, orang orang kaya yang senang, dalam kehidupan saya fakta tersebut selalu terjadi, tuhan gak adil apa manusianya tidak punya tuhan lagi di hati dan pikiran mereka. “Terus elu mau kemana man kalau diusir”,” ya kalau saya mentok mentok balik ke kampung”.

 Dirman meningglakan rumah Nyonya Ling dengan perasaan belum lega, dia berharap Nyonya baik hati bisa mambantu masalah desa jeruk tersebut, rumahnya yang gede terlihat dibelakangku, hasil kerja kerasnya berbuah hasil.

*****

  Hari yang diputuskan sudah datang, dengan wakil dari desa jeruk menemui Pa Haji Bro untuk bertandang ke rumahnya bersama beberapa warga, disana Pa Haji ramah dan menyuguhkan beberapa minuman dan makanan kecil yang belum pernah dicicipi para warga, istrinya yang belagu diam saja duduk disampingnya. “Maksud kedatangan kami kesini untuk meminta bantuan kepada bapak masalah lahan kami pak” ucap Kepala RW, “saya sudah tahu dari beberapa pihak bahwa lahan desa jeruk mau di gusur dan dijadikan taman rekreasi, mungkin saya bisa bantu kalau para warga punya bukti kuat”, balas Pa Haji, kami punya bukti kuat pak kami menang di pengadilan atas kepemilikan lahan tersebut. Itu bisa jadi bukti buat menolong desa jeruk boleh saya minta, boleh pak, fotokopi saja nanti kasih ke saya , simple kan !!.

 Sambil tertawa pa haji berkata, “6 bulan lagi, pemilihan Walikota neh, para warga jeruk pilih saya ya”, sambil bercanda. 

******

 Harapan para warga desa jeruk tidak sepenuhnya berjalan mulus, tetap saja pergusuran tersebut terjadi. Dijalan raya menuju desa, mobil Satpol PP dengan gagah melaju dan petugas petugasnya yang sudah di doktrin otakknya, suasana tersebut terlihat oleh salah satu warga desa jeruk, lalu dengan bergegas menuju lokasi, di lokasi terlihat gemuruh setelah mendapat laporan tersebut, seperti terbit tenggelam, semua warga mengunci setiap rumah masing masing, ada yang ber ide melawan dengan berbekal kayu balok, linggis, ataupun parang. “mana neh Pa Haji Bro katanya mau bantu kita tetap saja kita digusur”, “sepertinya pa haji sedang di kantornya yang ber AC dan menikmati teh manis hangat sambil menonton tv”. 

  Suara keras Mobil Mobil Petugas Satpol PP melewati rumah rumah megah di Kompleks mawar putih, ada yang mendengar tapi acuh diam saja didalam rumah, adapun yang keluar memastikan apa yang terjadi. Sampai di lokasi pertengkaran dimulai, adu bicara dan kekerasan bercampur aduk, tak mungkin para warga menang , petugas lebih banyak. Tanah merah bercampur angin, ayam ayam berlarian, dan suara suara mengerikan menerjang bagai badai hati yang berkemelut. 

  Nyonya Ling mendengar bahwa desa jeruk di bantai, dengan wajah emosi dan menantang, dia menuju desa jeruk dengan kedua anak lelakinya yang baru lulus kulih di Kanada, “Mamah mau apa kesana”, “mamah kan lagi sakit”, “udah jangan banyak bacot lu”, “Gue mau nolongin orang kecil”, kedua anaknya terdiam. Disana keadaan begitu mengerikan sebagian rumah sudah hancur rata dengan tanah, para warga yang tak bisa apa apa, hanya menatap kosong di pinggir pinggir. Terdengar suara keras meneriaki para petugas yang bermuka galak, “eh bego berhenti loh ngejejah orang kecil”, sebagian terdiam, petugas Satpol PP menghampiri Nyonya Ling, “ada masalah bu, “ tukas komandan Satpol PPnya “eh gendut lu yang cari masalah“ , “ memang saya salah apa bu” , “siapa yang suruh elo ratain neh lahan” ,  “ saya dapat tugas , ya saya kerjain “, “dasar robot lu gak ada hati nurani”, “eh ibu siapa ya tiba tiba datang gerutu saya”, “saya peduli mereka, siapa yang suruh elo” , “pemerintah yang suruh saya ci”, “maksud elu apa manggil gw ci ”, “mata Ibu sipit, ya saya panggil ci “, “wah lu nantang gw gendut ?“.

  Suasana semakin rumit, adu debat beraksi dan bereaksi, para warga semakin emosi, karena para Petugas Satpol PP mulai memaki dan menekan Nyonya Ling dan anak anaknya, tiba tiba Dirman menantang Kepala Petugas Satpol PP tersebut dengan bicara di depan mukanya, “pak jangan rasis, dia lebih baik dari Bapa yang orang asli, dia punya hati dan tekad yang lebih kuat untuk menolong sesama secara ikhlas, dari pada Bapa hati dan pikiran bapa gak ada karena disetir sama duit dan jabatan untuk kepentingan perut Bapa sendiri “.




                                                                                                                                  
                                                                                                                                 Jatinangor, Jawa Barat


About the Author

Unknown / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Post a Comment

Catatan Penulis & Arsip Pribadi

Powered by Blogger.

Instagram

Popular Posts

Contact Us

Name

Email *

Message *

Pages

Like us

http://melanialysandra.blogspot.com/

About me

Nama : Helmi Agusrizal Place/Date of Birth : Jakarta/august 02, 1988 Sex : Male Citizenship : Indonesia Marital status : Married Religion : Moslem E-mail address : Helmi.agusrizal@gmail.com Address : Pondok Budiasih (Saluyu), Jl. Ahmad Syam, Kampung Ciawi, Desa Cikeruh (RT/RW 02/04), Jatinangor – Sumedang, Jawa Barat. 45363 Phone : Mobile (081214613112) Formal Education : 2006 – 2010 IKOPIN, majoring in human resourch management, Jatinagor-Bandung 2003 – 2006 Senior High School in SMA YUPPENTEK 1 Tangerang, Banten-Serang 2001 – 2003 Junior High School in SMPN 19 Tangerang, Banten-Serang 1995 – 2001 Elementary School in SDN Dayung Tangerang, Banten-Serang 1993 - 1995 Kindergaten School in TK Nurul Islam Tangerang, Banten-Serang

Facebook

http://delighthomegarden.blogspot.com/

Entri Populer