Tuesday, August 27, 2013

KOMA (CERPEN)

Unknown


 Setelah Koma yang kualami, semua berubah 180 derajat, tak seimbang dengan apa yang kualami sebelum ini, tabrakan maut itu merenggut semua yang kumiliki, anak, istri, dan harta, aku tak perdaya dibuat oleh kuasa tuhan, demi yang lalu aku merasa berdosa, orang-orang yang kutipu, orang orang yang kukuras, dan janji yang sudah kuingkari.

 Hasil Rontgen dari pihak rumah sakit, kepalaku terbentuk keras pada Dashboard mobil, sehinnga batok kepalaku retak, aku harus mengalami tak sadarkan diri selama 3 bulan penuh, disana yang kualami adalah pengalaman mendekati mati, suara suara masa lalu, merintih tangis istriku, anakku yang gontai tak mengerti, dan gambaran gambaran akhirat, aku tak tahu apa itu artinya, semua terasa hening, sepi, dan seketika aku menyadari segalanya yang ada padaku.

 Ada sesuatu yang kuingat saat masih menjabat di Kantor Bupati, ada banyak yang menghinaku sangat keras, menyudutkanku masalah korupsi hingga pecat dari jabatan. Aku merasa tak peduli saat itu, para polisi dan petugas keamanan huru hara menjaga ketat di depan gerbang masuk, para pendemo memintaku untuk turun dari jabatan Bupati, karena ricuh adanya Anggaran Daerah yang disikat oleh kami. Apa benar bukti yang mereka adili kepada kami ?

  Tahun 2001, aku terpilih menjadi Bupati dengan politik uang, menghipnotis para masyarakat agar memilih kami, pihak kami datang ke desa desa menjanjikan kesejahteraan dengan uang muka secara rahasia, kami merekrut orang orang yang sepemikiran untuk menjalankan tugas ini, mudah mencari orang orang yang merelakan apapun demi uang di negeri ini dalam status atapun, gejolak kami saat itu membara, rasa optimis akan menang tak lagi bimbang. 

  Aku tahu apa yang aku kerjakan selama ini, aku sadar betul seorang Ayah yang ingin membahagiakan Istri dan anak-anaknya, perlu mati matian membanting tulang membangun dari fondasi bawah sampai atas, cara yang kukerjakan mungkin perlu jalan pintas agar kemakmuran cepat selesai, aku sadar betul, aku bermain main dengan amanat dan konstitusi, sekejap semua itu tergantikan oleh ambisi untuk merauk keuntungan besar, keuntungan pribadi dan tim, hingga kujalankan semua pekerjaan menjadi Bupati secara “benar” .

 Wakilku adalah salah satu pemikir untuk hal curi mencuri uang rakyat, bekerjasama mengangkat nama satu dan yang lainnya demi duduk disini, tidak mudah untuk seseorang duduk disini, pertarungan jiwa dan materi telah berlangsung selama ini. Gedung ini meyakinkanku bahwa semua yang kukerjakan tak akan sia sia, jika sampai aku habis masa jabatan, kekayaan akan terus mengaliri kami.
Teori itu benar benar terjadi namun sesekali ada yang beruntung ada yang tidak beruntung, berakhirnya di penjara. Penjara satu satunya tempat paling menakutkan di dunia ini, tak kalah dengan rumah hantu berisi 1000 jin jahat, penjara adalah nereka kehidupan di dunia, “itu logis”.

 Mengingat kembali kejadian tersebut, akan mengungkap lirih kecelakaan tersebut, masyarakat yang datang memaksa masik ke kantor untuk menghakimi kami, membuatku memutuskan untuk menghidari dengan menyulinap keluar lewat pintu belakang, ajudanku membawa kami menuju mobil dinas untuk mengamankan kami.

 Di perjalanan nasib kami tidak beruntung, mobil yang melaju kencang tidak menyadari bahwa lampu merah menyala, mobil terus melaju karena orang orang yang mengatas namakan “peduli rakyat kecil” sudah ingin mengeroyoki kami, akhirnya tabrakan tidak bisa dicegah, hingga truk pembawa pasir itu menabrak sisi kanan mobil kami, terombang ambih lah kami disana seperti kapal yang terserang badai, dan pasir pun bertaburan di jalan karena guncangan, pasir itu ibarat ingin mengubur kami disini.

 Kabar terdengar hingga kerumah kami, istri Bupati beserta istri Wakil Bupati pingsan ditempat masing masing sebab terkejut medengar. Sirene ambulance terdengar lantang di jalan raya menuju rumah sakit, aku sempat berbicara kepada petugas medis yang membawaku, “bilang pada rakyat yang berdemo “maafkan kami”, kata kata itu terakhir yang kuucap dengan sadar, setelah itu aku berbicara dengan seseorang yang tak kukenal dengan sekeliling gambaran gambaran masa lalu.

 Nasib wakil bupati tidak beruntung, beliau meninggal di tempat karena pendarahan yang begitu banyak, ajudan yang ikut mengalami patah tulang, supir mobil yang kami tumpangi tewas juga. Kejadian siang itu disaksikan para warga pendemo juga, entah apa yang mereka pikirkan.

 Media setempat memberitakan kami, kecelakaan kami jadi rubrik terdepan, dan laba harian berbagai harian umum melonjak drastis karena berita kecelakaan kami, makian makian kepada kami terlontar di surat kabar, di berbagai penggalan berita, kecelakaaan ini satu satunya yang bukan berita duka, tetapi seperti kabar gembira bagi para pembaca.

 Perombakan kepemerintahan sedang berlangsung, Bupati dan Wakil Bupati sedang diseleksi, warga setempat berantusias memilih calon yang jujur dan anti korupsi, bagaimanapun era sekarang ingin sekali memperbaiki pemerintahan, tidak adanya kecolongan kecolongan agar tidak adanya pemimpin yang hanya memikirkan diri sendiri, pemimpin adalah yang punya hati nurani, yang peduli masyarakat, yang peduli sama perkembangan daerah, dan lagi “nggak rakus” begitu teriakan beberapa warga.

 Hari demi hari Bupati dan Wakil Bupati sebelumnya terlupakan oleh warga, semua mengamati kepemimpinan yang baru, ternyata yang baru jauh lebih baik dari kami. Bupati sebelumnya ternyata bersalah dengan adanya bukti dan oknum oknum yang tertangkap basah membantu. Pihak kepolisian belum bisa menahan Bupati, karena saat itu masih keadaan koma, apalagi Wakil Bupati, beliau sudah dimakan cacing.

 Semua kekayaan kami disita oleh pemerintahan, kala itu Istriku tak sanggup menahan derita itu, dia membawa anak anaknya pergi kerumah orangtuanya, disana lebih baik lagi pula dia tidak punya apa apa lagi, tempat berteduh pun tidak ada, dia bisa melupakan semua hal terjadi di rumah orang tuanya. Istriku yang malang mungkin tak kuasa mencurahkan emosi, karena semua ini terjadi karena ulah seorang suami yang serakah. Tidak ada pertimbangan kadang kadang dia melampiaskan emosinya pada anak anakku, ibunya yang selau meredam saat sedang kesetanan, Apalagi ditambah hujatan warga pun tak bisa dia elakan, kadang malam hari dia menagis karena mengingat ingat.

 Setelah pulih dari koma aku dijemput kepolisian yang ingin memasukan ke kandang, kandang penjara yang bau semerawut. Aku tidak mungkin diadili di pengadilan, aku akan dibakar hidup hidup jika terlihat ke publik. Penjara tempatku selanjutnya, tidak ada yang lebih baik selama berbuat dosa.

 Penjara adalah pembalasan berarti bagiku, disana aku temukan beberapa penerimaan yang tidak enak, tak mampu kuungkapkan, aku hanya memaksa diri untuk kerasan tinggal disini, begitu juga yang lain, kasus kasus bervariasi berkumpul semua di penjara ini, tidak ada kehormatan, tidak hak, meskipun meronta, petugas seperti malaikat pencabut nyawa, tak ada belas kasihan bagi kami, jika begini aku ingin sekali kembali koma.

 Di penjara kerjaanku hanya menulis surat untuk istriku setiap hari, meminta kertas dan pulpen kepada pihak penjara, untungnya ada toleransi, kutulis semua yang kurasakan setiap hari, kutulis begitu saja, rasa rindu, rasa benci, rasa berdosa, ironi sekali bercampur saat menulis.

 Aku tak bisa mengharapkan semua surat terkirim, hanya saja harapan bisa langsung diterima tangan istriku yang lembut, semoga pihak penjara memiliki hati nurani bagi diriku yang telah merugikan semuanya, sambil mengingat anak anakku yang masih lugu, mereka korban korban kekuasaan yang majemuk, rasa sesal tak bisa lagi kuhilangkan, sebagai seorang ayah yang melindungi semua keluarganya tak lagi aku lakukan.

 Kepermintahan yang baru disanjung sanjung oleh masyarakat, menemukan tokoh kepemimpinan yang bersih, adil, dan peduli daerahnya, dari bukti di lapangannya dan segala aspek yang ada memang berkembang secara pesat, kinerja pemimpin yang baru bisa dikatakan sukses, adanya kabar bahwa Bupati yang baru akan maju dalam sebagai Gubernur tahun depan diangkat ke publik secara panas, menjadi topik pembicaraan yang tinggi. Para warga banyak yang mendukung kabar tersebut, semoga Provinsi tersebut menjadi lebih baik merata sampai ke sudut sudut daerah, layaklah Bupati yang baru tersebut maju ke jenjang lebih tinggi.

 Dalam sambutan Bupati yang baru saat saat acara ulang tahun Kabupaten, Bupati menyunjung tinggi pemerintahan yang bersih dan peduli masyarakat, lagi lagi masyarakat bersorak, “hidup Pak Bupati”, ada juga yang meminta air dan makanan, sambutan Bupati seperti Euforia bersama gabungan suara rakyat yang hadir. tak lagi ada kalut didalam hati para warga semua antusias memilih lagi jika Bupati ini mencalonkan lagi periode akan datang. Optimis datang di berbagai pihak, tak ada lagi pemimpin yang curang dan maruk. Kabupaten menjadi berkembang tak kalah dengan lainnya. “hidup Pak Bupati”

 Tak satupun yang menjengukku dipenjara, melihat keadaanku disini, besar hasrat ingin bercerita berbagi keluh kesah dengna sanak saudara, setiap pagi, siang , dan malam ibadahku dibuat lebih baik lagi, lantunan doa yang hening bergumam dimulutku, tak ada yang mendengar doaku hanya aku yang mengerti, aku memerlukan tuhan saat ini, dengan kuasanya pasti semua bisa berubah, mana mungkin dengan secepat itu, penebusan dosa perlu untuk mendapat hidayah, aku tak kuasa merasakannya, sulit bagiku menerimanya, pikiranku rumit, aku tak tahu apa yang terjadi, keputusan belum final.

 Di pengadilan akhirnya aku diadili, disodorkan bukti bukti kelam ketika aku menjabat, para saksi duduk terpaku dengan wajah pucat pasi, dari sudut dibelakang terlihat Ayahku dan Ibuku yang sudah renta tak tahan menahan air mata, disampingnya ada Istriku tercinta beserta anak anakku.

 Setelah lama proses pengadilan, kunjunglah keputusan hakim diketuk, seumur hiduplah aku dipenjara, wajahku yang pasrah dan kepalan tanganku yang kuat sebagai saksi lain saat itu, tak berdaya duduk menghadap meja keadilan, Keluarga mulai menguncurkan air mata dengan deras, beberapa Wartawan meminta pernyataan kepada Keluarga, ada yang memotret suasana pengadilan dengan Focus Utama Diriku dan Keluargaku. 

 Usai dengan keputusan tersebut aku dibawa petugas kembali ke penjara, dan Keluargaku pulang ke rumah masing masing, tak henti wartawan meminta pernyataan keluarga sampai ke lahan parkir.

 Sampai kembali ke penjara wajahku semakin suram, duduk tersudut bersampingan dengan sebuah tembok, aku sempat menatap, saat keras dengan coretan acak, sempat berbicara dengan bahasa ketakutan, tak sampai hati mengambil jalan pintas yang ada di kepalaku.

 Istriku akhirnya mendapatkan beberapa surat dariku dipenjara, istriku sebenarnya enggan membuka surat tersebut, karena akan menimbulkan rasa sedih sekaligus rasa benci yang memuncak, setelah pertimbangan yang memakan beberapa detik akhirnya istriku membaca suratku.
Isi suratku begini :

Untuk Maya Istriku tercinta beserta anak anakku

Aku tak tahu apa yang harus kutulis, semua ini salahku dan aku sadar harus menerimanya walaupun ini sangat pahit dan berat. Dalam surat ini aku hanya meminta maaf kepada kamu dan lainnya walaupun kesalahannku sangat besar hingga berhasil membuat keluarga hancur berantakan. 

Kamu harus tahu, aku sudah merasakan penyiksaan yang amat besar di penjara, kalau aku mengambil jalan pintas, janganlah kau sesali dan tangisi itu, kamu bebas mencari kehidupan baru lagi, aku sudah tidak berguna.

Aku menulis surat ini beberapa kali dengan isi yang sama dengan kata yang sama pula, aku tak tahu lagi harus mengatakan apa.

 Periode selanjutnya Bupati yang sebelumnya sukses lagi memimpin Kabupaten kami, dengan desakan permintaan dari banyak pihak, beliau tidak mencalonkan menjadi Gubernur, dan sukses menata Kabupatennya lagi.




Jatinangor, Jawa Barat


About the Author

Unknown / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Post a Comment

Catatan Penulis & Arsip Pribadi

Powered by Blogger.

Instagram

Popular Posts

Contact Us

Name

Email *

Message *

Pages

Like us

http://melanialysandra.blogspot.com/

About me

Nama : Helmi Agusrizal Place/Date of Birth : Jakarta/august 02, 1988 Sex : Male Citizenship : Indonesia Marital status : Married Religion : Moslem E-mail address : Helmi.agusrizal@gmail.com Address : Pondok Budiasih (Saluyu), Jl. Ahmad Syam, Kampung Ciawi, Desa Cikeruh (RT/RW 02/04), Jatinangor – Sumedang, Jawa Barat. 45363 Phone : Mobile (081214613112) Formal Education : 2006 – 2010 IKOPIN, majoring in human resourch management, Jatinagor-Bandung 2003 – 2006 Senior High School in SMA YUPPENTEK 1 Tangerang, Banten-Serang 2001 – 2003 Junior High School in SMPN 19 Tangerang, Banten-Serang 1995 – 2001 Elementary School in SDN Dayung Tangerang, Banten-Serang 1993 - 1995 Kindergaten School in TK Nurul Islam Tangerang, Banten-Serang

Facebook

http://delighthomegarden.blogspot.com/

Entri Populer