Lagi-lagi Awan terbangun kesiangan, meskipun hari ini perkuliahan di mulai jam 8 tepat, Awan tetap saja setia hinggap di alam mimpinya, padahal jam pertama akan diisi oleh Pa Hidayat Dosen yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan dan tepat waktu, saat ini menunjukan pukul 08 15 pada jam dinding Awan tepat di atas meja belajarnya. Bagaimanakah nasib Awan selanjutnya ?
Hanya Mahasiswanya yang berani dan berjiwa batu jika datang ke kelas Pa Hidayat dengan terlambat lalu rambut masih berantakan, pada kenyataannya satu-satunya Mahasiswa langganan terlambat hanya Awan seorang, “lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali” inilah semboyan Awan jika dia mulai bergurau dengan pandangan mata yang melihat samar-samar jarum jam dindingnya. Awan datang ke kelas pukul 09 : 15, disana semua Mahasiswa dan Mahasiswi melihatnya terpukau dengan aksi nekat - nya itu, mata Pa Hidayat memandangnya sinis serta guratan wajahnya meradang melesat menyusuri udara-udara menuju cahaya mata Awan, dan.....Awan dengan wajah polosnya belum bernyawa penuh menghampiri beliau.
“kamu…ada perlu apa kesini ?”
Ujar Pa Hidayat dengan tatapan kasar
“saya kuliah Bapak hari ini”
“kuliah saya jam 8 tepat”
Ketus Pa Hidayat
“jadi…Pa ?”
“Kamu ngigo kali”
“kamu…ada perlu apa kesini ?”
Ujar Pa Hidayat dengan tatapan kasar
“saya kuliah Bapak hari ini”
“kuliah saya jam 8 tepat”
Ketus Pa Hidayat
“jadi…Pa ?”
“Kamu ngigo kali”
Seluruh yang ada di kelas tertawa tertahan menyaksikan orang gila di muka kelas dengan wajah polos seperti tak punya satu kesalahan pun pagi ini. Akhirnya Awan tak di berikan izin masuk dan dia harus menerima konsekuensinya, jadi Bagaimanakah nasib Awan selanjutnya ?, ya…dia tak bisa masuk mata kuliah Pa hidayat pagi ini, sambil mengira-ngira dia memprediksi apakah dia bisa ujian akhir mata kulia Pa Hidayat lalu duduk di kantin kemudian memesan kopi hangat dan nasi uduk. Anggun mencari Awan, gadis ini adalah teman satu-satunya yang care dengan Awan, rela berbagi catatan dan jawaban ujian jika malamnya Awan asik dengan Facebook-nya. Anggun menyusuri selatsar kampus menuju fakultas lain, dia terus mencari Awan yang bagai hilang di telan waktu, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Anggun dari belakang, dan ternyata itu Awan, akhirnya mereka bertemu juga lalu membicarakan sesuatu di Perpustakaan.
Tiga hari yang lalu…..
Munculah sebuah Inbox dari Account seseorang di Facebook Anggun, seseorang yang tidak anggun kenal begitu juga isi pesan yang dia tidak paham “Anggun tiga hari berikutnya aku tunggu kamu di kantin Fakultas Ekonomi jam 1 siang ya !!!” tertanda pengirim “Seno Ajah”, Anggun bingung lalu mencoba melihat Account - nya, tak ditemukan satu foto pun yang bisa Anggun kenali untuk kepastian, hanya foto Profil – nya yang bergambar sketsa bermotif hati yang semakin membuat orang ini misterius lalu anggun semakin bingung. Di perpustakaan, hari ini…
Anggun terus gelisah membicarakan masalahnya pada Awan, dia menunggu Awan untuk memberi solusi lalu Anggun terus saja ketakutan. Hal yang serupa di sampaikan Awan pada Anggun adalah satu-satunya pikiran tentang Secret Admirer, dan mereka berdua memiliki pikiran sama tentang itu, ada seseorang yang diam-diam menyukai Anggun, namun tak berani tampil di depannya, jadi dia menggunakan cara misterius untuk menutupi identitasnya, mungkin kesimpulan Awan ada benarnya, namun Anggun terusterusan bertanya pada Awan siapakah yang memberi pesan tersebut ?, Awan hanya diam bersandar pada kursi “entahlah” “katanya jam 1 siang” Anggun berkata penuh kebingungan, apakah dia akan menerima undangan tersebut atau bersikap skeptis saja, Awan mencoba memutar otaknya sambil menggaruk-garuk kepalanya, untuk mencari ide. “bagaimana kalau kita pergi berdua saja” Awan berkata dengan bangganya, “ide bagus Wan !!”, namun mereka masih memikirkan matang-matang apakah Anggun akan pergi sendiri lalu Awan mengamati dari jauh untuk menjaga Anggun, atau mereka akan pergi bersama, saat ini mereka masih belum menemukan jawabannya.
Seminggu sebelumnya….
Terlihat Awan sore ini datang dengan terpaksa ke salah satu mall di kota Jakarta untuk membeli sebuah buku mata kuliah Bu Wanda, dosennya yang menghukumnya tidak ikut kuis karena alasan terlambat, Bu Wanda memberi sangsi agar dia membeli buku namun kuis – nya akan tetap dilangsungkan dengan sebelumnya diatur oleh Bu Wanda sendiri.
Di perjalanan menuju toko buku dia bertemu Gilang teman sma – nya yang sedang asik berbelanja dengan keluarganya, mereka saling bercakap bersama keriangan mengenang masa-masa dulu, “bagaimana kau bisa sampai sini lang ?“ “keluargaku mengajak berlibur di Jakarta” ujar gilang menatap ke belakang yang sedang ada ayah, ibu, adik lelakinya asik melihat-lihat pakaian – pakaian yang berdiri di etalase toko, “memang kau
sekarang tinggal dimana lang ?” “semanjak lulus dari sma ayahku di mutasi pekerjaannya jadi kami sekeluarga pindah ke Bandung”, “wow!, Bandung kota yang indah ya, lang”, “nggak juga, Jakarta juga indah namun Cuma beda cuaca aja” kami berdua tertawa terbahak, sama-sama saling merindu suasana yang pernah tercipta dulu, “kapan-kapan kau ku ajak main ke Bandung ya ?”, “dengan senang hati” Kami
meninggalkan tempat itu, kemudian mencari barang yang dituju.
sekarang tinggal dimana lang ?” “semanjak lulus dari sma ayahku di mutasi pekerjaannya jadi kami sekeluarga pindah ke Bandung”, “wow!, Bandung kota yang indah ya, lang”, “nggak juga, Jakarta juga indah namun Cuma beda cuaca aja” kami berdua tertawa terbahak, sama-sama saling merindu suasana yang pernah tercipta dulu, “kapan-kapan kau ku ajak main ke Bandung ya ?”, “dengan senang hati” Kami
meninggalkan tempat itu, kemudian mencari barang yang dituju.
Awan akhirnya menemukan buku tersebut, lalu membawanya menuju kasir, disana sudah menunggu gadis cantik bermata indah dengan senyuman manis yang selalu Awan lihat wajahnya tanpa kedip, segera dia membayar dan bergegas pergi, sempat menoleh kebelakang demi melihat gadis itu lagi, lalu terpikirkan sejenak wajah seseorang sebelum menuju pintu keluar, sampai di rumah dia menghubungi seseorang.
*****
Anggun terus melihat bintang di taman rumahnya, pada malam ini, dia seperti malas ada di dalam rumah, terus memandangi sambil sedikit menikmati chocolat cake buatan ibunya, kemudia terlintas dalam pikirannya untuk jalan-jalan bersama Awan, Anggun dan Awan sudah bertetangga kira-kira sudah 10 tahun, dan mereka bersahabat sejak sekolah dasar. Anggun coba menghubungi Awan, namun tak ada jawaban, lalu dia mencoba mendatangi rumahnya yang tak begitu jauh, ditemukanlah Awan sedang membaca buku di teras rumah.
“woy !, jalan yuu sumpek di rumah”
“ah !, baru saja aku dari mall”
“ayolah wan, bosen neh”
“mau kemana kita”
“monas, kemang, ancol, atau cafe ?”
“kalau begitu…come on!”
Anggun terus melihat bintang di taman rumahnya, pada malam ini, dia seperti malas ada di dalam rumah, terus memandangi sambil sedikit menikmati chocolat cake buatan ibunya, kemudia terlintas dalam pikirannya untuk jalan-jalan bersama Awan, Anggun dan Awan sudah bertetangga kira-kira sudah 10 tahun, dan mereka bersahabat sejak sekolah dasar. Anggun coba menghubungi Awan, namun tak ada jawaban, lalu dia mencoba mendatangi rumahnya yang tak begitu jauh, ditemukanlah Awan sedang membaca buku di teras rumah.
“woy !, jalan yuu sumpek di rumah”
“ah !, baru saja aku dari mall”
“ayolah wan, bosen neh”
“mau kemana kita”
“monas, kemang, ancol, atau cafe ?”
“kalau begitu…come on!”
mereka berdua berlalu menggunakan motor bebek milik AwanMereka melewati ruas jalan di Jakarta, keduanya terlihat asik menikmati angin yang menerpa dan lampu-lampu kota yang membangkitkan eksotisme urban hari ini.
Sebetulnya mereka belum menentukan kemana mereka akan pergi, namun dari tingkahnya mereka sudah menimatinya sebelum sampai tujuan, “wan !, lihat banyak banci” ternyata taman lawang tak pernah menutup dirinya untuk waria. Sampailah mereka di Monas, tempat pemberhentian sementara, sambil menikmati kacang rebus dan bajigur hangat, mereka memandangi keadaan sekitar “akhirnya malam ini bisa pergi juga” celoteh Anggun dengar riang, “memang kau sebelumnya sedang apa ?” ujarku dengan penasaran, “di taman melihat-lihat bintang di langit”, “hahaha”, Awan tertawa lalu diiringi Anggun ikut-ikutan menjahili Awan dengan melemparkan kulit kacang, malam itu keduanya saling gembira “aku rindu berada di taman rumahku melihat-lihat bintang,.”memang perasaanmu bagaimana”. “Bilaku gundah aku selalu disana”, “bagaimana kau melakukannya”, “dengan hati yang tenang aku menikmatinya”, “nanti ku coba”, “kau harus merasakannya wan“ .
Pukul 12 30 siang, hari ini setelah mata kuliah kedua…..
Menit-menit yang menggelisahkan bagi keduanya, perasaaan meraka saling tak tertata, Anggun terliah bingung kemudian Awan melihat sekeliling sapa tahu ada yang mencurigakan berkaitan dengan hal yang sedang menggalaukan mereka. “jadi bagaimana ini ?”, “aku belum menentukan rencana !”
Sehari sebelumnya….
Di dalam sebuah kamar, suara lagu rock terdengar keras, sampai ke kamar orangtuanya, malam ini kedua orangtuanya harus datang ke kamar Awan untuk meghentikan suarasuara itu, ternyata di dalam kamar Awan sedang asik-asiknya on-line, kemudian orangtuanya mememarahinya karena suara-suara itu, “wan !!, sudah malam ini…, kamu gak tahu waktu, putar lagu keras-keras” , akhirnya Awan dengan terpaksa mematikan radionya, dan menuju ke ranjang tidurnya kemudian dia tersenyum sendiri sambil membayangkan sesuatu, entah apa yang sedang dipikirkan anak muda itu.
*****
Anggun terlihat gelisah, tidak on-line sejenak ataupun melihat bintang di langit, menggulung-gulung ujung rambutnya lalu memikirkan sesuatu, matanya tetap tak bisa di pejamkan, sedangkan malam sudah semakin meninggi, lalu waktu dia baru dapat tidur jam 12 malam, rutinitas yang tiada bisa di lakukan Anggun untuk tidur malam, bersama mimpinya tak ada satupun gambaran yang datang. Pukul 01 00, saatnya tiba…. Anggun dan Awan berjalan dengan langkah lamban dan tidak yakin menuju Fakultas Ekonomi, memutuskan untuk menemui orang tersebut, “kau amati dari jauh ya wan ?”, Anggun berkata pada Awan, “santai saja gun, jangan grogi”, “siapakah yang grogi, Cuma penasaran !!” ketus Anggun, “santai dong !!” , anggun cemberut dan kikuk.
Sampai disana, kondisi kantin tidak ada seorang pun, hanya ada pucuk-pucuk bunga mawar merah jambu berserakan di lantai namun tertata rapih di pinggir sebuah ruas kosong seperti bentuk jalan menuju sebuah meja dengan dua kursi diatasnya berada lilin yang menyala bersama dua mangkok puding berbentuk hati dan berwarna merah muda, letaknya tidak jauh dari Anggun, banyak balon warna-warni yang melekat di langitlangit kemudian hatinya semakin berdebar, tidak ada seorang pun disana… Anggun menuju tempat tersebut lalu mengambil sebuah surat di atas meja kemudian membukanya…. “terimakasih telah datang dalam acara yang sederhana ini, aku akan hadir sesaat lagi ke hadapanmu setelah kau baca surat ini….tertanda dibawahnya, Seno Ajah” Lalu ada yang memegang bahu anggun dengan lembutnya dari belakang, dan ternyata dialah……
Pukul 06 00 pagi, hari ini, sebelumnya…. Dalam sebuah percakapan di telepon, dua orang sedang mengkondisikan sesuatu yang sebelumnya telah mereka rencanakan, dan salah satu dari mereka lalu kembali tertidur.
*****
“Gilang……kamu ?” Anggun terkaget ketika menatap kebelakang, “iya aku yang membuat acara ini” Ujar Gilang, “tapi…bagaimana kau bisa melakukan ini”, “kamu tak akan pernah merasakan cinta yang nyata hadir dalam celah-celah kecil yang menganggapmu bagai ratu sebuah istana di hati seseorang”, “aku tak mengerti ucapanmu lang!!”,” kenyataannya seperti itu”, ujar Gilang dengan mimik romantis Seseorang kembali menyentuh bahunya dari sisi lain, dan ternyata itu Awan, semakin bingung perasaan Anggun sekarang, lalu apa yang terjadi. “Hai, Anggun Sulistiawati bagaimana kabarmu ?”, “apa sih Wan, gak lucu deh !”, “boleh aku ngomong beberapa kata”, “jangan aneh-aneh deh”.
Sebuah tirai terbuka dari gulungan lalu bertuliskan cetak tebal “I LOVE U ANGGUN”, Anggun jelas melihatnya, datanglah semua Mahasiswa dan Mahasiswi dari berbagai penjuru bersama teman-teman sekelas Anggun, lalu mereka bersorak “tembak sekarang Wan”. Kemudian Anggun tercengang. “Awan..kamu ?” ujar Anggun dengan kaget, Awan berkata lalu memegang tangan Anggun dengan perlahan dia mengucapkan kata-kata dari bibirnya “Hehe, aku sayang kamu, aku yang merencanakan ini semua, dengan dibantu Gilang teman sma kita bersama kawan yang lain” Anggun terdiam sejenak, lalu situasi menghening, menunggu kata-kata yang keluar dari mulutnya. “bagaimana bisa Wan, kita sudah berteman lama, aku baru sadar bahwa kamu suka aku ?”, “selama itu aku selalu memperhatikan hari harimu, aku menyimpan lama perasaan ini” “tapi wan..” “tapi kenapa ?” ….
Malam harinya……
Anggun berjalan-jalan di taman sesekali dia menengadah ke atas, melihat langit yang malam itu tak ada bintang, mungkin malam ini akan hujan, di dalam rumah terlihat sibuk para keluarga merapihkan barang-barang mereka, memasukan ke dalam kotak-kotak besar maupun kecil bersama mobil-mobil yang menanti barang bawaan di depan rumah, sepertinya keluarga ini akan pindah rumah. Seorang Ibu melihat anaknya di taman rumahnya, “Anggun ayo cepat tidur besok kita akan berangkat ke Makasar untuk menempati rumah baru” Tak jauh dari sana, di dalam sebuah kamar laki-laki, terlukis kesedihan dan kawanan air mata yang sesaat lagi akan jatuh, malam ini tanpa bintang di langit, suasana yang sendu dimanapun, dan seorang perempuan tetap saja berdiri sunyi di taman rumahnya sambil melihat ke langit, lalu dengan telunjuknya dia ingin menciptakan bintang sendiri.
Jatinangor, Jawa Barat

0 comments:
Post a Comment