Monday, August 5, 2013

La, La, La, La (CERPEN)

Unknown
      Apa hantu itu ada ???????????????????????

     Sungguh dua minggu sebelumnya, sahabatku kerasukan oleh setan yang dikirim dari seseorang yang ingin memanfaatkan kakaknya, sebab itu aku ingin menelusuri ruang logikaku, apa hantu itu ada dan mampu mengelola raga seseorang menjadi seperti rumit, mengaung, melotot, dan berkata aneh-aneh dengan logat bahasa daerah, pikiranku belum sempat membeku sepenuhnya namun dari mana asalnya hantu ?, yang aku ketahui manusia itu sungguh makhluk yang paling canggih sekalipun dari pada hantu.Kecuali tuhan, aku sangat sangat percaya tuhan itu ada, tuhan itu menciptakan bumi dan seluruhnya yang bersifat menakjubkan, merencanakan sepenuhnya atas apa yang telah diciptakan, kitab suci, khotbah, obrolan dari sarjana teologi, orangtua, pendeta, kyai, apapun itu, tuhan seperti sesuatu yang besar, agung dan mulia, namun mengapa tuhan menciptakan hantu yang begitu memuakan namun lebih canggih dari manusia “Setan dapat mengelola raga manusia”
   Masalahnya aku belum tahu filosofi hantu, struktur, dan tujuan mereka berkeliaran di bumi, namun mereka sangat keren, masuk ke raga manusia dan membuat mereka “rumit” “Saat ini perasaan sahabatku diguncang oleh hantu yang akan menerornya” Wajah sahabatku itu, semakin mengikis, tak lagi ceria, gundah gulana, rasanya dia ingin segera datang ke Abah Anom untuk meminta solusi tentang masalahnya tersebut, “Abah Anom” satu lagi nama yang tenar di antara teman-temanku, beliau bisa menyembuhkan gunaguna, kerasukan, ataupun memberi solusi kehidupan, pada dasarnya memberikan jasa yang aneh-aneh, aneh bagiku aneh bagi teman-temanku, karena temanku yang satu inilah, aku mengenal dunia mistis, satu-satunya yang kutemukan hanyalah “kerumitan” “Temanku kambuh lagi”
    Abah Anom segera datang menolongnya, malam ini malam jumat tepat bulan bundar telanjang benderang terang, namun malam ini udara hangat tak dingin lagi, ramai-ramai di dalam sebuah rumah pondokan, dipenuhi teman-teman yang ingin melihat hantu dikeluarkan dari raga seseorang, Abah Anom komat-kamit tanganya seperti mengangkat benda berat dari punggung temanku, pasiennya melotot tajam ke arah langit-langit, seluruh yang menyaksikan mengubah wajahnya menjadi tertarik dan penasaran ada yang ngeri. Kata Abah Anom jangan kelilingi dia, mengharapkan para penonton agak menjauh dari tempat kejadian, aku di dekat Abah Anom dengan kedua temanku, mataku tak berkedip, kedua temanku saling bertatap pandang, hatiku gemetar melihat sahabat karib seperti tersiksa dengan gangguan tersebut.
“Ada yang mengincar harta keluarga !”
   Cerita demi cerita diceritakan di antara kami, ketika sahabatku pulih, Abah menceritakan maksud lebih terperinci dari sebelumya terikat hantu itu terus meneror tiada henti,
“Kakakmu sudah terkena pelet!”
“Pelet !!”
   Mukanya berubah menjadi kelabu, aku mengenalnya sangat mengenalnya, inikah cobaan baginya. Aku tahu kata itu “pelet”, saat smp aku membaca sebuah majalah tentang mistis, ketika kuketahui kata “pengasihan” di salah satu rubrik pembaca, pelet dapat menghancurakan keluarga yang telah lama dibangun.
“Abah bagaimana mencegah peletnya”
“Nanti Abah akan menceritakannya”
“Sekarang kau mandi dulu dengan air kembang”
“Untuk apa ?”
“Untuk menetralisir”
  Ketika malam sudah meninggi, tercatum jam 12 dini hari akankah malam ini gangguan tersebut akan berakhir, seluruh teman-teman bertanya dalam hati kemudian mencoba memastikan ke Abah, kemudian Abah hanya menyuruhnya mandi.
                                                                          *****
   Cerah kini telah kembali, hari-hari tak berkemelut, cuaca seakan bersenandung, rasa was-was tak lagi meradang di hati temanku ini, upayaku menolong sampai kapanpun teman adalah teman, merekalah yang akan membantu ketika ku kesulitan sesuatu, karena orangtuaku jauh di pulau lain, insting persahabatan harus dipegang teguh, dan teman-temanku cukup membuatku nyaman, walau perselisihan pasti ada. Seminggu setelah kejadian, kami kembali melakukan aktifitas dengan tenang sebagai mahasiswa yang bergelut dengan buku dan logika dikuras terus menerus. 
“Kabar kakakmu bagaimana”
“Mungkin sudah ada kemajuan”
“Maksudmu ?”
“Aku selalu berkonsultasi dengan Abah Anom”
“Kau yakin dengannya ?”
“Ya !, beliau ikhlas menolongku”
“Bagaimana kau tahu ?”
“Dari cara Abah menyambutku dan kepeduliannya”
“Oh !”
   Apa peduliku dengan paranormal, peduliku dengan temanku satu ini, aku tak akan pernah menyarankan dia berkonsultasi kepada orang pintar, dukun, atau paranormal, kurasa mereka itu justru penyebab adanya hantu, meskipun ulah mereka tak kentara dibelakang. Mungkin dan kemungkinan hanyalah satu, tuhan memberi cobaan lalu bagaimana seseorang tersebut menyikapinya. “Sama saja dengan dungu”.
  Rekan sekampus menyebutnya itu hal yang tak masuk akal, tak sanggup ku jelaskan ketika mereka memaki dengan kata kotor, atau acuh tak acuh dengan dunia hantu dan keterkaitannya dengan kerasukan, meskipun ada yang mempercayainya namun tak dibesarbesarkan, aku sanggup menceritakan secara relevan, namun yang kudapat, mereka hanya skeptis adapula yang menjauh dariku, “tertarik dengan cerita seru, datanglah padaku, “L....L....L....L....L”
   Sekelumit apapun masalah seseorang pasti ada jalan keluar, ibuku pernah berkata “tuhan tidak memberi cobaan kepada umatnya diluar kemampuan umat tersebut”, ada pula yang membalasnya seperti ini, “hidup itu rumit jika kita berpikir rumit, dan hidup akan mudah jika kita berpikir sederhana”, aku lupa dari siapa balasan ini tercipta.
   Hari ini aku mencoba datang ke temanku itu, ingin bercerita apa yang mungkin masih janggal di hatinya selama ini, lekas aku menemuinya, dia sehat, aktif, energik, masih seperti dulu. Pertemuan itu diawali dengan percakapan ringan, kemudian berlanjut ke pra topik utama, kemudian sampailah ke topik utama,
“Bagaimana sekarang keadaanmu ?”
“Sebenarnya masih rumit”
“Kenapa ?”
“Aku bingung apa harus diceritakan”
“Ceritakanlah”
  Cerita itu dimulai....
  Setelah kejadian itu, aku tak tahu menahu wajah Abah Anom selalu terbayang setiap malam ketika ingin tidur, perasaan ngeri, seperti ada yang mengawasi namun ini apa aku tak tahu menahu, aku resah sendiri, sejujurnya aku ingin bercerita, tapi..... “Tapi....!” Aku takut ini kesalahpahaman saja.
                                                                          *****
   Sudah kusuruh dia melupakannya, jauhi dunia mistis, perbanyak ibadah, dan jalani hari dengan berpikir positif, lagi pula lebih penting mengurusi perkuliahannya yang hampir selesai ketimbang menguras cerita dunia abnormal, aku selalu menekankan seperti itu, dia sangat lemah, aku ingin menjadikannya kuat, aku ingin dia berpikir dengan logikanya bukan dengan organ lain. Aku tahu masalah di dalam keluarganya sangat sulit, namun dekatkan dirilah kepada tuhan, baiknya seperti itu, tuhan yang menciptakan hantu, jadi jika kita yang meminta tolong padanya pasti tuhan akan mengusirnya atau memusnahkannya, sekaligus tak ada lagi namanya hantu, setan, jin di bumi ini.
  Teori yang kudapat jauh-jauh hari, “hantu bisa merasuk melalui pikiran, tanpa kita sadari mereka bisa memerintahkan kita untuk berbuat jahat, dan itulah tugasnya, mereka mencari teman-teman untuk menemaninya di neraka”, aku lupa kembali siapa yang memberikan teori itu.
   Konyol sekali aku harus bersusah payah mencari informasi tentang dunia mistis, hal itu tidak terkait dengan jurusanku di perkuliahan, yang harus kutanamkan berpikir positif dan melakukan kegiatan yang berguna, sungguh temanku itu bisa jadi lebih baik sekarang dengan senyum yang ceria, dan tak lupa ibadah sesuai kepercayaannya.
     Suatu hari....

   Aku sendirian di suatu ruangan dimana aku tidur, belajar, dan bermain-main, aku sedang membaca sebuah buku yang sangat bagus tentang sebuah fantasi, perasaanku seakan mencekam seperti ada beberapa orang disekitarku, aku mencoba lebih merasakan keadaan, berpikir positif, terbelesit apa hanya perasaan, perasaan bisa menipu, justru akal lah sumber kebenaran.
  Tiba-tiba munculah dari luar kaca jendela yang tak ada tirai, sebuah penampakan yang menyeramkan dengan gaun putih, rambut tergulai panjang menutupi wajahnya, aku segera berlari keluar kamar, dan memaksa masuk kamar temanku yang sedang belajar untuk ujian besok, temanku kaget, kemudian dia mencoba menenangkanku. “Kau kenapa ?”
  Esoknya setelah perkuliahan selesai, teman-temanku mencoba menanyakan tentang kejadian semalam yang menimpa diriku, mereka seakan tertarik dengan kronologis kejadian tersebut, aku masih saja syok dengan kejadian semalam, justru itu yang sekarang mengubahku,
“Kau berjumpa dengan hantu”
“Ya !!”
(Dengan wajah pucat pasi)




                                                                                                                                 Jatinangor, Jawa Barat

About the Author

Unknown / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Post a Comment

Catatan Penulis & Arsip Pribadi

Powered by Blogger.

Instagram

Popular Posts

Contact Us

Name

Email *

Message *

Pages

Like us

http://melanialysandra.blogspot.com/

About me

Nama : Helmi Agusrizal Place/Date of Birth : Jakarta/august 02, 1988 Sex : Male Citizenship : Indonesia Marital status : Married Religion : Moslem E-mail address : Helmi.agusrizal@gmail.com Address : Pondok Budiasih (Saluyu), Jl. Ahmad Syam, Kampung Ciawi, Desa Cikeruh (RT/RW 02/04), Jatinangor – Sumedang, Jawa Barat. 45363 Phone : Mobile (081214613112) Formal Education : 2006 – 2010 IKOPIN, majoring in human resourch management, Jatinagor-Bandung 2003 – 2006 Senior High School in SMA YUPPENTEK 1 Tangerang, Banten-Serang 2001 – 2003 Junior High School in SMPN 19 Tangerang, Banten-Serang 1995 – 2001 Elementary School in SDN Dayung Tangerang, Banten-Serang 1993 - 1995 Kindergaten School in TK Nurul Islam Tangerang, Banten-Serang

Facebook

http://delighthomegarden.blogspot.com/

Entri Populer