Monday, August 5, 2013

GENERASI KUNTI, KARIKATUR CERITA MANUSIA (CERPEN)

Unknown
    Petir menyambar-nyambar di negeri pandawa, selimut mimpi tak lagi menjadi harapan para raja-raja, selir-selir berlari dan meminta tolong pada dewa-dewi. Perjuangan hidup kerajaan yang agung runtuh karena adanya hubungan gelap antara raja dan jongos (babu), pembantu yang molek merayu sang raja agar lekas tahta dan kekayaan jatuh kepada anaknya. Usut demi usut anak itu bernama Kunthi tinggal di dataran langit dengan periperi yang kalah cantik dengan ibu kandungnya.
 
     Kunthi menyusu pada payudara peri.

   Hidupnya enak-kepenak sekali, menyusu dengan susu yang sungguh luar biasa, bukan susu dari payudara seorang wanita namun dari peri, peri-peri yang menjaganya, membesarkannya, dan memberikan kehidupan yang layaknya mimpi-mimpi seorang bocah ingusan.
“kau dengarkan aku Kunthi” 
Kunthi menatap peri yang bercahaya itu
“ibumu saat ini dalam keadaan bahaya” 
Kunthi hanya melemparkan senyuman
 
    Negeri langit tak seindah dibawahnya, tak kan mampu mereka-reka musim yang akan datang setiap bulannya, dan disini suasana hati penghuninya akan berubah-ubah setiap menitnya, sungguh aneh namun inilah kenyataan dalam keterbatasan seorang anak yang tak dinginkan. Pernah mendengar matahari yang tersenyum, bulan yang tertidur, serta bintang-bintang yang menari kemudian bagaimanakah kemampuan luarbiasa negeri langit membangkitkan hal-hal tersebut.
 
    Tahun-tahun demi tahun Kunthi dititipkan disini, ibunya tak kunjung menjenguknya, mungkin sibuk mengurus birahi sang raja, ataukah menjadi tahanan kerajaan kelak akan dihukum gantung akibat skandalnya itu. Kunthi yang girang melihat bintang-bintang menari lalu tertawa terbahak-bahak lalu tak ada maksud hati memeluk sang ibu kemudian menyusu padanya, dia lupa akan orang yang melahirkannya, dia lupa jasa orangtuanya, bagaimana ibunya seorang diri memperjuangkan bayinya agar hidup enak kepenak di negeri langit dengan sejuta fasilitas mengagumkan yang tak di miliki manusia biasa, sampai saat ini kabar tentang Ibu Kunthi tak terdengar lagi setelah kejadiaan di negeri pandawa.
 
    Raja negeri langit yang bernama Sastranagara berceramah di depan Kunthi, Kunthi dengan baik mendengarnya semua khotbah sang raja dari awal sampai akhir, Raja yang baik hati, merupakan penyair besar di negerinya, serta pemimpin yang arif dan bijaksana salah satu keturunan terakhir dari penguasa jagad raya, tanah dan langit, angin dan hujan, dialah Raja Cakrabilawa yang sekarang sudah tertimbun di tanah kekuasaannya sendiri, merupakan ayah kandung dari Raja Sastranagara, kemudian di tangan yang benar negeri ini satu-satunya yang dapat percaya paling damai, sejahtera, segala penghidupan teratur dan kekuasaan stabil berjalan,. Tak ada korupsi, kekerasan, tindak kejahatan, maupun segala bentuk pemberontakan karena diskriminasi ras, budaya, atau warna kulit.
 
     Srikandi, peri yang paling cantik di negeri langit

    Wajahnya anggun, lekukan tubuhnya gemulai ketika dia menari tarian khas negeri langit, (tarian gemeda : gembira, merdeka, damai, salah satu tarian yang dicipta ahli teather dan pelukis asal bangsa timur, Adibburahman, namun beliau diusir oleh raja cakrabirawa karena ketahuan memiliki dua istri di madinah dan isrtinya mudanya di kerajaan pasundan ; bagi peraturan negeri langit untuk pria tidak diwajibkan berpoligami, karena itulah yang menjadikan hati seseorang menjadi sakit). Srikandi pernah menjadi rebutan lelaki-lelaki bumi, lelaki bumi yang pernah jatuh hati padanya adalah Panglima Yudha yang ahli strategi perang bangsa pandawa, Panglima Bisma seorang yang picik dan penjilat dari Istana Hastina, Prabu Duryudana yang ingin berpoligami dari majapahit. Ada beberapa yang lain namun semua hanya pupus di tengan jalan, Srikandi memang satu-satu peri tercantik di negeri langit, tak akan pernah Raja Sastranagara memberi izin untuk mengunjungi bumi, yang dia takuti hanya bila Srikandi yang berjiwa peri jatuh hati, pada manusia yang berjiwa beraneka ragam, jahat dan baik tak dapat dibedakan di bumi, itu satu-satunya faktor bagaimana raja langit sangat membenci bumi dan manusia. Terlihat Srikandi sedang bercermin di cermin buatan Banowati, seorang putri bangsawan yang membuat cermin khusus untuk negeri langit sebagai penghargaan akan menyelamatkan negerinya yang diserang kumpulan Hanoman (monyet besar dari hutan gelap yang selalu menyerang daerah manusia untuk memperluas kekuasaannya). 

    Sang Putri memberi filosofi bahwa cermin itu tak pernah bohong, dia selalu jujur menampilkan apa yang ada dihadapannya, begitu juga kecantikan Srikandi dengan kerendahan diri yang dia punya, tidak sebanding dengan takdirnya sebagai peri, bila manusia di beri kecantikan seperti Srikandi mungkin akan angkuh dan kuasa, Banowati bisa membacanya walau dia di bumi.

   Suatu saat Srikandi sedang mandi di salah satu telaga warna dengan air yang selalu mengalir dari gunung yang tak sanggup dilukis oleh manusia biasa, kemudian warna air akan bercorak beraneka ragan tergantung siapa yang sedang menyentuhnya, Hal ini pernah dilakukan Nyai Lampir yang mengelabui kerajaan dengan niat mencuri rahasiarahasia utama negeri langit untuk dibawanya ke bumi demi kepentingan pribadi, dan akhirnya dia mati karena di rajam tombak beracun milik Raja Mandaraka seorang yang dapat membaca pikiran orang lain, suatu sebab bagaimana Nyai lampir dapat menerobos dengan mudahnya benteng kerajaan langit, karena adanya pengkhianatan dari prajurit langit, dialah Bima seorang pemuda yang berhasil di rayu Nyai Lampir dengan imbalan Srikandi akan jatuh cinta padanya. 

   Srikadi asik saja mandi di telaga itu, entah kenapa Kunthi yang asik mengintipnya dari ilalang kuning merasa asik terpaku, tak bergeser satu langkah pun, Kunthi melotot tajam memandang Srikandi dan Srikandi tak menyadari sedang diamati, Ternyata bisa dirasakan mulutnya keluar air liur, dia merindukan susu dari payudara peri yang cantik, sedangkan sekarang umurnya sudah tujuh tahun, sudah dapat berjalan, berbicara, mungkin tak dapat menyusu lagi.

   Senopati Yudhistira adalah orang kepercayaan Raja Sastranagara untuk memantau kehidupan di negeri pandawa, inilah adalah tugas Yudhistira untuk menyelamatkan Ibu Kunthi agar dia cepat datang ke negeri langit dan mengasuh Kunthi di tempat yang Sang Raja janjikan, Senopati Yudhistira yang berasal dari jawa rela menyebrangi lautan dan jalan berbatu demi tugas yang dibebaninya, dia telah mengabdi kepada negeri langit berjuta-juta tahun lamanya namun kerasnya hidup di jawa karena harus berusaha keras mempertahankan tahta kerajaaan yang telah dipupuk tanggung jawab di bumi, tak pernah mengubah pandangannya bahwa langitlah yang mendatangi matahari, bulan, bintang yang mampu menciptakan cahaya terang bagi bumi. (dalam sebuah percakapan malam sebelum berperang dengan bangsa Nakula dan Sadewa (bangsa atheis yang ingin mengubah negeri ini menjadi negeri Sodom yang hancur tertimbun batu) Raja Cakrabilawa berkata “jangan sepenuhnya kau percaya dengan langit, karena diatas langit masih ada langit”) Senopati terus menatap ke depan dengan kudanya yang tangguh. 

    Bagaimana raja dapat menikahi jongos Mereka manusia kotor yang melekat di dinding megah istana Aku masih ingin membumi hanguskan mereka Diantara daging busuk, anjing yang mati Bersama belukar yang tiada arti Bagaimana Jika Istana Hastina mendengar kabar ini Semua akan menjadi dangkal seperti otak kerbau.

   Kau pernah mendengar majapahit yang malang Mereka kalah dengan rayuan seribu angsa (Surat pertama yang dikirim Drupadi (seorang Raja wanita yang pertama kali mencetuskan tentang negeri kesembilan yaitu negeri pandawa sebagai pusat peradaban bangsa jawa, budaya, dan peperangan untuk bersiap melawan portugis) lewat burung merpati kepada Arjuna (juru bicara negeri pandawa).

   Akhirnya Yudhistira sampai di perbatasan negeri pandawa, dengan matanya yang tajam seperti burung elang dia melihat benteng istana di kelilingi pemuda-pemuda bertubuh kekar sambil memegang tongkat yang ujungnya runcing dan panah untuk bagian yang bertugas di atasnya, bagaimana Senopati bisa masuk ke dalam jika semua penjagaan seperti itu, lalu dia terdiam sejenak dengan kudanya.
 
   Hari yang sama di negeri langit....

  Kunthi lagi-lagi tak berdaya dengan rangkulan Srikandi yang hangat, dia tak pernah bertanya tentang ibunya, yang dia anggap ibunya adalah Srikandi, “mungkin ketika dia mulai dewasa, baru kita beri tahu siapa ibunya” Titah Raja Sastranagara
“aku takut dia tak mengetahui ibu kandungnya”
Srikandi cemas
“kita berharap saja pada Senopati Yudhistira’
 
  Kunthi berlari kesana-kemari, seperti senang menginjak-injak permukaan yang empuk seperti bantal yang berisi kapuk, matanya berawan kemudian tak ada air mata yang keluar, dia hanya bergembira dengan lalu waktu, dan tak pernah menyadari dunia yang sebenarnya. Ketika mungkin manusia di beri fatamorgana dari rangsang saat mereka terbangun dari sepi musim, saat itu juga fatamorgana akan bertelur menjadi musimmusim yang semakin sepi laksana Kunthi yang asik menatap kolam warna, dia sudah tergoda dengan apa yang disebut kekayaan dan sesuatu yang mewah yang didapatkannya secara praktis, mungkinkah…?
 
  Mandaraka berhasil membaca pikiran anak manusia itu, dan ternyata benar dugaan Srikandi, anak itu akan lupa ibu kandungnya yang bukan warga negeri langit, yang sudah Mandaraka terawang pikirannya sudah tumbuh sebuah tanduk kecil kemudian hatinya membeku bagaikan es di benua antartika. Kelemahan Raja Sastranagara adalah hatinya yang mudah luluh, namun dia bijaksana serta tegas, mungkin dia penyair yang selalu bermain dengan hati dan pikiran-pikiran abstrak para insan tuhan, hikayat dan hakikat yang sudah terbentuk tak akan pernah lepas dari tangan tuhan yang selalu siaga mengamati proses kehidupan yang telah dia ciptakan, tuhan menciptakan negeri, dan seisinya, karena dialah yang tahu apa yang akan berlangsung dari masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Raja Mandraka adalah utusan Raja Sastranagara dari negeri seribu mimpi yang menghasilkan manusia-manusia ajaib, dalam kitab kuno sansakerta, negeri ini disebut-sebut adalah kota atlantis yang hilang.
 
   Anggraini adalah sosok yang feminim, sebagai simbol kewanitaan di majapahit dan pelopor di seluruh peradaban jawa masa itu, sampai-sampai dikenal di kerajaan padjadjaran dan pasundan daerah jawa barat. Anggraini merupakan istri Senopati Yudhistira, hari ini dia berharap-harap cemas akan tugasnya, bagaimana suaminya dapat menembus negeri pandawa yang dikenal dengan kerajaan paling maju dan dikenal oleh negeri langit paling angkuh, dalam sejarahnya hubungan Anggraini dengan kerajaan langit merupakan adanya hubungan khusus yang terjalin, ternyata dia mantan peri disana, kemudian berubah manusia karena keteledorannya menjaga perintah Raja Cakrabilawa. Namun setengah raganya memiliki jiwa peri dengan kemampuan yang luar biasa (menerawang kondisi jarak jauh namun hanya beberapa menit, mencium aroma jahat, serta dapat mengubah pikiran manusia), Anggraini takut menggunakan kemampuannya, karena akan dapat melihat jelas hari kematiannya, itu salah satu kekurangan peri ketika menjadi manusia, ketika dia berubah menjadi manusia dan menggunakan setengah kemampuannya, dia akan tahu hari kematiannya. dan Anggraini tak mau berpisah dengan Senopati Yudhistira.
 
  Yudhistira masih terdiam Dengan kemampuannya, dia memberi pesan gaib kepada Raja Sastranagara Wahai raja yang agung dan mulia Akankah penjelmaan ini akan berhasil Aku tak yakin karena aku manusia Dengan sedikit kelebihan dan harus menanggung kekurangan yang lebih Barangkali engkau salah memberi titah Aku hanya sekumpulan panah yang telah patah Dan diinjak para prajurit perang Bagai genggaman tanpa pedang Hari lalu aku sempat melihat tahta berperang Kemudian aku tak sampai hati melihat diriku menyerang Raja Sastranagara membalas pesan itu…

  Barangkali kau tak yakin memiliki kemampuan Jangan sembunyikan keberanianmu pada timur matahari Bersama cahaya elok serta guratan keheningan Semua pelosok langit mendukungmu Bersama negeri yang tenggelam di hindia Kaulah yang muncul dari dasarnya Sekaranglah….Sekaranglah… 

  Gunakan kemampuanmu untuk menjelma Dengan tekad yang bulat, serta semangat dari raja, Senopati Yudhistira menggunakan seluruh kelebihan yang dianugerahi Raja Sastranagara, ialah penjelmaan untuk tidak
terlihat, dan ini sangat berguna baginya bersama tugas-tugasnya. Setelah Senopati berhasil menembus prajurit-prajurit yang berjaga di depan, lalu mencoba menelusuri bagian-bagian istana untuk menemui Nyai Pujawati, penjelmaannya sangat bersih, tiada penghuni dalam istana yang mengetahui kehadirannya, Yudhistira tetap fokus mencari Pujawati dari deretan pengawal kerajaan, para menteri, para ahli, dan raja-raja yang berkuasa semua tak mengetahui kehadiran musuh. Dan akhirnya Yudhistira menemukan catatan yang membuatnya sangat kaget serta kecewa sangat dalam, dia menemukan tulisan di dalam lembaran terbuang dikamar mewah Raja Bambang Ekalaya. 
    
   Jongos itu telah mati,

  Menteri memutuskan untuk menghukum gantung diri Perselingkuhan itu telah menjadi tabu bagi kerajaan Raja Kurawa yang melakukan skandal itu juga telah mati Kuharap kerajaan Hastina segera memperbaiki citra negeriku Kami akan bangkit kembali bersama pembaharuan yang tepat Dengan generasi-generasi yang hebatSegalanya akan kami kuasai Teruntuk Drupadi di Kurusethra, dengan rasa bersalah dan hormat Kemudian aku menjatuhkan surat yang selesai kubaca itu, kemudian aku berlari dengan cepat keluar dari lingkungan negeri pandawa. Lekas setelah aku kembali ke luar daerah pandawa, pesan singkat ku sampaikan pada Raja.

   Nyai pujawati sudah mati, kita harus mempersiapkan generasi berikutnya untuk merawat  Kunthi dengan kehidupan di bumi sebagai manusia biasa, dia tak bisa terus-menerus hidup di langit, nanti dia tak tahu dari mana dia berasal, bagai kacang lupa kulitnya


*) cerita ini tidak dikaitkan dengan dunia pewayangan atau sejarah yang terjadi, cerita hanya berdasarkan ungkapan versi penulis dan tokoh-tokoh di dalamnya hanya kiasan dan saduran semata. 





                                                                                                                                 Jatinangor, Jawa Barat

About the Author

Unknown / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Post a Comment

Catatan Penulis & Arsip Pribadi

Powered by Blogger.

Instagram

Popular Posts

Contact Us

Name

Email *

Message *

Pages

Like us

http://melanialysandra.blogspot.com/

About me

Nama : Helmi Agusrizal Place/Date of Birth : Jakarta/august 02, 1988 Sex : Male Citizenship : Indonesia Marital status : Married Religion : Moslem E-mail address : Helmi.agusrizal@gmail.com Address : Pondok Budiasih (Saluyu), Jl. Ahmad Syam, Kampung Ciawi, Desa Cikeruh (RT/RW 02/04), Jatinangor – Sumedang, Jawa Barat. 45363 Phone : Mobile (081214613112) Formal Education : 2006 – 2010 IKOPIN, majoring in human resourch management, Jatinagor-Bandung 2003 – 2006 Senior High School in SMA YUPPENTEK 1 Tangerang, Banten-Serang 2001 – 2003 Junior High School in SMPN 19 Tangerang, Banten-Serang 1995 – 2001 Elementary School in SDN Dayung Tangerang, Banten-Serang 1993 - 1995 Kindergaten School in TK Nurul Islam Tangerang, Banten-Serang

Facebook

http://delighthomegarden.blogspot.com/

Entri Populer