Asma nadia memang penulis yang sangat berkarakter, semua
karyanya bernafaskan islam serta sarat dengan moral yang terkandung, saya
sendiri pencinta karya Asma Nadia, serta memiliki beberapa yang ada di lemari
buku. Sejak kecil hobi saya memang membaca, sejak SD saya suka baca komik dan
cerita anak, ketika masa SMP saya membaca novel dan cerpen yang sering berada
dalam halaman koran, kecintaan dalam dunia kepenulisan dan sastra saya
aspirasikan dalam kegiartan menulis, saya suka sekali menulis cerpen saat
menginjak di bangku SMA. Saya memiliki sebuah band musik, saya pun bergairah
untuk menulis lagu, kemudian teman-teman band saya menyukai lagu yang saya
tulis. Menulis dan menggambar merupakan hobi saya, dari sanalah saya dapat
menikmati hidup saya, menghilangkan resah di hati dan berjuta kelu kesah.
Dalam jenjang perguruan tinggi, saya meneruskannya di
Bandung, kota yang sejuk dan indah, lepas dari Jakarta yang penat dan gersang.
Alasan meneruskan kuliah di Bandung, bukan alasan yang begitu saja, alasannnya
adalah karena Ayah saya saat itu di mutasi ke daerah lain. Saya juga menikmati
Bandung. Walaupun harus berpisah sementara dengan orang tua saya di Kalimantan.
Dengan mengambil jurusan Manajemen di salah satu
pergurauan tinggi di Bandung, saya mencoba menyesuaikan keadaan dan menjalani
hidup sebagai mahasiswa, perbedaan 180 derajat saya alami saat ngekost di dekat
Kampus, berbeda dengan kehidupan saat di rumah dengan Orang tua, namun saya
mencoba tegar, dan sekuat tenaga mengisi hari-hari disini, inilah sesuatu
menuju kemandirian.
Waktu senggang pun saya isi dengan membaca novel,
kumpulan cerpen, apalagi karya Asma N adia, kadang rangsang menulis saya timbul
karena membaca salah satu karya Asma Nadia, ketika selesai selalu saya kirim ke
Redaksi Majalah dan Koran. Saya berpikir dari pada karya yang saya hasilkan,
cuma tersimpan di Hard Disk komputer
lebih baik saya kirimkan, siapa tahu diterima kemudian dapata dipublikasikan,
kalau nasib membawa saya, saya ingin jadi penulis seperti penulis favorit saya,
Asma Nadia*
14 April 2010.....
Akademik saya sudah mencapai tahap akhir yaitu menyusun
skripsi, bagaimana tidak membingungkan judul yang saya ambil sangat menguras
logika, namun saya berusaha untuk membereskan demi kelulusan dan gelar demi
menuju dunia persaingan kerja.
Disaat sela-sela mengerjakan skripsi, saya berkunjung ke
sebuah rental DVD dan CD, milik kawan saya, dia membuka usaha rental tersebut
sudah lama, usaha ini milik beberapa kawannya yang mencoba membangun usaha
bersama, ternyata usaha rental DVD dan CD tersebut cukup maju. Saat memilih
film yang saya ingin ditonton, tiba-tiba saya melirik sebuah film “emak ingin
naik haji” ketika itu saya teringat pada sebuah perjalanan 4 bulan yang lalu.
4 bulan yang lalu.....
Saya berjalan-jalan di sebuah Mall dengan seorang kawan,
sebenarnya hanya bertujuan membeli buku, namun teman saya mengajak saya
berkeliling untuk berkeliling demi satu tujuan “Refresing” , keduanya memilih berjalan-jalan karena uang saku
menipis di akhir bulan yang kering kerontang ini, tibalah di sebuah Bioskop
Cinemax, disana terlihat film yang akan diputar sekarang dan akan datang, teman
saya itu memanggil saya, lalu menunjuk ke sebuah gambar, dan ternyata itu
poster film “emak ingin naik haji” yang
diangkat dari cerpen asma nadia. Kala itu rangsang saya untuk menontonnya
terbangkit, kawanku juga sependapat untuk menonton film tersebut, keduanya
bingung karena satu hal “tidak memiliki
uang lebih”, kesempatan masih banyak, lalu kita merencanakan akan menonton
di awal bulan bersama kawan - kawan yang lain, dan kami pergi berlalu dari
bioskop.
Kami melupakan janji tersebut, karena sibuk di
semester akhir yang melelahkan, tidak
ada waktu luang, penuh tugas, yang menguras tenaga dan pikiran, dengan
begitu nonton bareng “emak ingin naik
haji” gagal kami realisasikan, sedangkan kegiatan sehari-hari dipenuhi
dengan jadwal kuliah dan aktifitas lainnya.
*****
Dalam rental DVD dan CD milik kawanku, akhirnya saya
memilih film “emak ingin naik haji”
yang pernah terlupakan, sang pemilik pun menceritakan bahwa film ini banyak
yang meminjam, seminggu yang lalu seluruh persediaan habis, dan yang datang
selalu menanyakan film tersebut, berarti film ini sangat bagus dan aku tak
sabar menontonnya
Gerimis datang di malam hari, saat aku memutar film
tersebut di komputer, aku mencari temapat nyaman untuk menontonya agar dapat
serius menontonnya, untuk cerpen asma nadia yang berjudul “emak ingin naik haji” aku belum sempat membacanya, namun sekarang
aku bisa menonton filmnya, dan ternyata mengagumkan, menceritakan seorang
wanita paruh baya yang ingin sekali pergi ke tanah suci.Kehidupannya bergantung
pada hasil dari berjualan kue-kue di warung dan pesanan orang, memiliki seorang
anak satu-satunya yang berjualan lukisan kadang menambah penghasilan juga,
walaupun begitu wanita paruh baya tersebut tidak pantang menyerah untuk pergi
ke tanah suci, anaknya pun ikut terdorong untuk membantu mimpi ibunya. Kisahnya
sangat menarik membangkitkan kesadaran kita terhadap kehidupan dan kecintaan
kita terhadap orang tua, di sela-sela film tersebut saya menagis, teringat
Orangtua saya di Kalimantan. Ketika film itu selesai diputar saya menelpon ibu
saya
Dalam percakapan ibu saya menangis, karena saya memberi
pernyataan bahwa saya rindu sekali denganya, sudah setahun kita tidak bertemu,
alasan ongkos pergi ke Kalimantan merupakan hal membuat kami tidak bertemu, kita
berbincang lama tentang berbagai hal, dari keadaan disana, keadaan di Bandung
serta perkuliahan akhir saya. Saya meminta doa agar penyusunan skripsi yang
akan segera dimulai akan lancar, Ibu saya sangat antusias, seluruh keluarga
pasti mendukung untuk segera selesai dan wisuda sehingga dapat berkumpul.
Saya semakin semangat untuk menyelesaikan kuliah saya,
sungguh sebuh inspirasi yang terkandung dalam sebuah karya Asma Nadia mampu
membuat perubahan dalam diri saya, saya lebih bersikap bijak, dan serius dalam
usaha mencapai kesuksesan, membanggakan orangtua, mengabdi kepadanya sampai
akhir hayatnya, merealisasikan rencana saya sebelumnya.
Film “emak ingin
naik haji” dari cerpen Asma Nadia, mampu mengetuk hati saya tentag
kehidupan dan Orang tua, bagi saya orang tua adalah sebuah anugerah terindah,
dialah yang membuat saya melihat dunia, menerima kasih sayang, dan belajar.
Dari sisi lain untunglah setipa karya Asma Nadia yang pernah saya baca mampu
membangkitkan gairah saya untuk menjadi lebih baik lagi. Sampai sekarang ini saya selalu berusaha untuk mengejar kelulusan, dan tak henti-henti
menyusup skripsi, memberikan janji kepada ayah dan ibu saya untuk bisa pergi ke
tanah suci, sehingga rukun islam mereka sempurna, mereka pun senang
mendengarnya lalu terus menyumbang semangat kepada saya, itulah mimpi saya
kepada mereka serta juga sebagai hadiah untuk mereka, semoga bisa tercapai.
Amien.........
Terimakasih Asma Nadia atas karyanya....
* Karya tulis untuk lomba audisi penulisan Asma Nadia Inspirasiku

0 comments:
Post a Comment