Satu minggu lagi Idul Fitri
segera datang, rutinitas tahunan dengan berbagai gaya permintaan maaf dan
silahturahmi, di Indonesia punya gaya sendiri dalam menghadapi hari kemenangan
ini. Sebulan Puasa menahan hawa nafsu melawan apa saja yang membatalkan Puasa,
kesabaran penuh diuji disini, inilah Bulan suci dimana kita bisa belajar dalam
1 bulan menjadi orang yang berbekal agama sampai akhir hayat, jangan sampai
Bulan Puasa ini menjadi ajang pengampunan dosa, mencoba menutup aurat, menjadi Alim
yang sebenarnya brutal seperti
lingkungan ku disini, wah munafik masing-masing.
Tahun ini masih terasa berat
bagiku, bagi mereka juga, walau mereka sembunyikan wajah pilu itu tapi ku tahu
sebabnya. Hal yang sebenarnya masih ada tapi tidak ada itu yang kita rasakan,
benturan keras dihadapkan pada hati kita masing masing, sungguh ironis sekali,
kita tak tahan kalau hidup selalu mengambil beberapa orang kita cintai, kalau
tuhan adil, kenapa tidak ambil nyawa penjahat saja. Penjahat hidup lama di
Negara ini.
Ibuku pernah berkata padaku, saat
beliau sedang emosi, “nanti liat kalau mama dan papa sudah meninggal kamu baru
rasa”, aku terdiam sejenak, beberapa detik berkata, “tidak usah bicara begitu,
seperti dibesar besarkan saja” aku membalas tegas, beliau cuma diam, wajahnya
yang cantik menoleh kebelakang lalu pergi menghilang.
Aku hanya tak ingin kata - kata
itu keluar dari mulut seorang Ibu, bukan hanya dari Ibuku saja, Ibu – Ibu yang
lain juga, kata kata itu seperti petir yang menyambar keras di atas kepala, aku
memang keras kepala, namun sedemikian kerasnya aku punya sisi lembut kepada
Orangtua, hanya saja Aku penat dianggap sudah jauh dari tuhan. Aku merasa tidak
begitu jauh dari tuhan, kewajiban 5 rakaatku tidak rutin itu saja yang
dijadikan bahan ibuku saat dia meluapkan emosi, Aku salah tapi jangan terlalu
didalami.
Saat beliau menangis , Aku tak
sanggup menatapnya, Aku menuju teras rumah untuk menghirup udara segar, gersang
yang kualami, air mata itu yang membuatnya gersang didalam hati dan pikiran,
bukan air mata yang dia inginkan, hingga kering tanpa berguna. Hari - hariku
biasa saja menemani orang tua di rumah kalau sedang libur, aku bekerja di
perusahaan kecil, perusahaan keluarga kerabatku, orangnya baik baik dan penuh
manusiawi, sebab itu aku kerasan disini tanpa menghiraukan apapun.
Pendapatan yang kuterima tidak
begitu besar, beberapa kubagikan kepada Orangtuaku untuk keperluan rumah
tangga, tidak terlalu cukup masih ada tambahan dari ayahku, namun ibuku
terlihat senang dan bangga saja menerimanya, keluargaku memang penuh cinta damai,
cinta dan damai itu semboyan keluarga ini, tidak ada resiko yang bisa dimabil
kalo sudah berkumpul, lelucon dan ceplas ceplos kadang kala melebihi intensitas
dialog serius , tapi terus saja berlanjut tanpa ada yang tersinggung.
Kami terpisah pisah, waktunya berkumpul
pada saat idul fitri pasti itu terjadi lagi dan lagi, sebentar lagi memang Idul
Fitri, aku tak sabar berkumpul dengam mereka disana, tak apalah merasakan
lelahnya bepergian namun di akhir tujuan kita bisa tertawa terbahak bahak,
seperti tahun tahun lalu. Ayahku juga bekerja, dia seorang pegawai negeri,
disamping itu waktu pensiunya tinggal hitungan tahun, beberapa hal yang paling
dia takuti terhadap keluarganya banyak sekali, Ibuku takut serupa ayahku,
diriku hampir setengahnya berdampak dari takut itu, Adikku juga merasakannya.
Umur memang tak akan bisa dihentikan, menjadi muda menjadi gagah penuh petualangan,
dan ekspresi, ketika sudah tua hanya menatap jendela duduk di kursi kemudian
terbatas memiliki keinginan, kita tak bisa melawan takdir, maha kuasa lah yang
bertahta.
Satu sisi kerasnya Jakarta
menjadi mata pencaharianku, mau tidak mau aku harus membanjiri tubuhku dengan
keringat dan asap, ketika sampai ruangan aku merasa dinginnya ac “oh sejuknya”
ujarku, belum lagi mata mata sinis dimana - mana, ketika ada beberapa karyawan
telat, cibir mencibir sering terdengar dari bagian tersembunyi atau terang
terangan, merekalah sumber sumber malapetaka, pesaing, maupun tantangan bagi
meraka yang mencari sukses di ibukota, sebut saja mereka teman sekerja.
Akhirnya aku pindah kerja dari
perusahaan kerabatku ke sebuah perusahaan besar, bukan karena kemauanku, tapi
otak korup sudah menjadikan perusahaan itu bangkrut dan kerabatku gulung tikar.
Sudah setahun lebih aku bekerja diperusahaan baru, bertarung hidup di Jakarta,
pindahan dari kota yang berudara dingin waktu kuliah membuatku kaget, gugup dan
gelisah, sudah lama sekali tidak menginjak Jakarta, setelah lama sekali kurang
lebih 6 tahun mengeyam bangku kuliah, rasa Jakarta tak lagi kukecap, datang
lagi ke Jakarta seperti ingin muntah saat mengecapnya, perubahan tidak membuat
Jakarta lebih nyaman, tetap saja rumit, Jakarta Cuma unggul di satu sisi,
lapangan pekerjaan yang luas dan meyakinkan, tidak didesa desa, tidak banyak
pilihan, tidak banyak peluang, ataupun karir yang menjanjikan.
Lama sekali tidak melihat padang
sawah yang luas, kicau burung, perempuan desa yang berparas ayu, alami, dan oriental,
bercampur dalam suasana hikmat beralun awan awan biru yang merayu kita untuk
duduk santai sambil merasakan indahnya alam ini. Serempak semua tergantikan oleh
waktu, waktu untuk berjuang menggantikan sosok Ayah dengan sisa waktu setahun
lagi menanti masa pensiun. Ayah terlihat masih sehat, tapi pikiran kacau oleh
ketakutan ketakutannya sendiri, masih belum terima akan menghadapi masa masa
seperti itu, jiwa mudanya masih membara, masih ingin mengejar kebahagiaan
keluarganya, Waktu terus berjalan dia akan menjadi tua, dan Ibu lebih cenderung
berjiwa besar ketika umurnya menua, beda 180 derajat dari Ayah, tapi Ibu lebih
sering marah.
Aku punya cerita lama yang tak
pernah bisa kulupakan, cerita kehilangan seseorang, seseorang yang menurutku
pengganti seorang ibu kandung, ceritanya panjang dan lebar tak mungkin bisa
kuungkap dirinya disini, cuma bisa mengenangnya begitu dalam di tempat tidur
maupun sehabis doa, segeraku dengar lagu favorit sebelum bercapur air mata.
kesedihan tak boleh terlalu lama, biarkan tuhan yang menghilangkan dan
melahirkan seseorang, dia yang mutlak mengatur, sambil kulihat isi dompetku 2
hari lagi ku terima gaji bulan ke 16 selama ku bekerja, senang punya punya pendapatan
walaupun segitu segitu saja , tapi tetap kusuyukuri, begitu cara mensyukuri
rezeki dengan bersyukur, simple kan, tidak repot.
Sekarang sudah 2 tahun semenjak
beliau meninggal, bisa dikata beliau meninggalkan dunia ini secara mendadak,
keluarga seperti merasa kaget, disaat semua berjalan baik, tidak ada rasa sakit
yang begitu parah sebelum dia meninggal, tidak ada diagnosa yang tersurat dan
tersirat dari dokter maupun pertanda pertanda ganjil, tiba tiba saja nyawanya diambil
malam itu.
Seperti seorang manusia yang
memaksa pergi dari rumah entah kapan pulang, Beliau pergi dari lingkungan tercinta
kami, tanpa pesan, tanpa perencanaan, meninggalkan orang tercinta, lalu
meninggalkan kami, orang orang yang punya hutang untuk membahagiakannya kelak
saat punya rezeki melimpah, justru sekarang kita yang amat menyesal, selama dia
hidup kita selalu mengecewakan, selalu merengek tentang kehidupan, padahal
kerasnya hidup akan kita lalui, mau tak mau, itu terjadi saat kita terlahir
sudah disipakan jalan tersebut
Lebaran (Idul Fitri) sudah tiba,
semua menuju Masjid untuk melaksanakan shalad Idul Fitri , beramai ramai umat Muslim
melaksanakannya, Aku sengaja melaksanakan shalat di Jakarta, karena Kantor baru
libur kemarin, dengan khusuk aku melaksanakan Shalat dengan penuh harapan bahwa
tidak ada lagi kekecewaan yang datang, dan semu, semua berjalan baik baik saja,
meskipun itu sulit dimengerti. Setelah shalat Idul Fitri kami mendengan alunan
ceramah dan silahturahmi ke masing-masing tetangga di sekitar rumah.
Sekitar menjelang sore kami
sekeluarga berangkat untuk Silahturahmi ke kampung halaman Ibuku, jarak tidak
jauh berbeda dengan kelahiran ayahku, melewati laut dan jalan yang panjang
soalnya, butuh biaya banyak, dan menguras tenaga. Setelah semua persiapan
terpenuhi kami berangkat mengemudi mobil pribadi milik keluarga, walaupun sudah
lama sekali tahun pembuatannya, tidak tahu bagaimana keadaan mesinnya, tapi
bisa diandalkan dalam keadaan seperti ini. Semoga saja tidak rewel di tengah
perjalanan, semua berdoa kembali.
Sesampainya disana kita diterima
dengan ramah tamah, khas cita rasa keluarga Ibuku yang berdarah sunda itu,
mereka teman teman lamaku, selama kuliah aku pernah tinggal disini, cuma
setahun, aku memilih cari tempat tinggal di dekat Kampus karena alasan jarak,
semua akhirnya membaur dalam kebahagian kecil dan sederhana, semua saling
berjabat tangan meminta maaf atas kesalahan yang lalu.
Kami sekeluarga duduk di ruangan
utama, saling berbicara tentang apa saja, riuh dan snada terucap selaras, tawa
terdengar keras, lelucon terdengar bisik bisik kemudian mengaung keras, hari
ini sangat lelah bagiku tapi terbayar dengan suasana seperti ini.
Malam ini aku melihat bintang
dilangit, rembulan yang menemani bintang kian menawan, langit hitam menjadi mimbar
semesta, berkumpul bersama titik titik cahaya yang kadang kadang bersembunyi,
seperti kudengar jangkrik, tokek, dan nada air mengalir, suara suara ini
mengingatkanku pada seseorang yang telah lama hilang, jikalau dia disini pasti
lebih lengkap melebihi apapun itu, kemudian ketika lelah memandang aku kembali
ke dalam, untuk tidur, menemui hari esok.
Pagi menyambut suasana yang
seperti biasa telah kualami dulu, Ibuku rindu sekali kampung halamannya, Ayahku
juga ikut senang. Kami melakukan rutinitas, membantu menyiapkan sarapan, bersih
bersih rumah, dan lain lain, menjelang siang kami akan ziarah ke makam orantua
ibuku dan beliau itu.
Suasana Makam terdiam hening, coretan
nama terpampang, bersih terurus dan kokoh, barisan makam ikut menemani tertata
rapih, mereka yang telah tiada hanya tinggal kenangan selamanya menjadi
kenangan, menuju langit yang abadi, menunggu sanak saudara yang telah tutup
usia, aku berada disamping makam Nenek dan Kakek berada disebelahnya, cinta
yang abadi, begitu lekat, sakral, dan tak tergantikan, Ibu dan Ayah menetas air
mata, aku pun selanjutnya setetes demi setetes, doa terucap dalam hati, untuk Kakek
Nenek, aku sungguh mengenalnya, merekalah yang terbaik, mengingatkanku saat
masih kecil dibelainya dan diajaknya melihat pemandangan desa yang baru ku
tahu.
Lanjut ke makam beliau, dia pasti
yang terbaik juga, Ibuku menyanjungnya, “selalu ingat beliau ya nak” ucap ibuku
merdu, “tak akan pernah ku melupakannya” balasku, doa terbaik kuucap untuknya,
untuk semua keluarga untuk kebaikan semua, lekasku meninggalkan pemakaman masih
dengan air muka masam.
Sampai di rumah aku mengobrol
dengan anak beliau, aku akrab dengannya, teman bermain dari kecil, dia terlihat
lesu, lalu aku bertanya mengapa dia bersedih, lugas jawabnya “kangen Ibu”, masih
lesu sambil melihat kearah depan, “aku merasa dia masih ada disini” ucapku, dia
masih saja terdiam, akhirnya dia bicara, “aku juga merasa”, tapi dia udah tiada
bagaimana aku membiarkannya hidup, yang ada malah kesedihan itu berlanjut,
semua merasakan sama sepertimu, aku yakin itu, aku tadi melihat lama batu
nisannya, lama sekali, aku berbicara dalam hati, kau tahu apa yang kukatakan
“maafkan aku tidak menyediakan waktu untuk bertemu”. Sekarang sudah telat,
semoganya rohnya mendengar atau dia ada disekitar kita menyimak pembicaraan
kita, “dia akan selalu ada disini” balas anaknya dengan air muka serius namun
tak bisa dibohongi.
* Mengenang Alm Aneng Nuryamah 1957 - 2012
Sumedang, Jawa Barat
0 comments:
Post a Comment