Monday, August 19, 2013

ROH YANG SELALU ADA (CERPEN)

Unknown


 Satu minggu lagi Idul Fitri segera datang, rutinitas tahunan dengan berbagai gaya permintaan maaf dan silahturahmi, di Indonesia punya gaya sendiri dalam menghadapi hari kemenangan ini. Sebulan Puasa menahan hawa nafsu melawan apa saja yang membatalkan Puasa, kesabaran penuh diuji disini, inilah Bulan suci dimana kita bisa belajar dalam 1 bulan menjadi orang yang berbekal agama sampai akhir hayat, jangan sampai Bulan Puasa ini menjadi ajang pengampunan dosa, mencoba menutup aurat, menjadi Alim yang sebenarnya brutal  seperti lingkungan ku disini, wah munafik masing-masing. 

 Tahun ini masih terasa berat bagiku, bagi mereka juga, walau mereka sembunyikan wajah pilu itu tapi ku tahu sebabnya. Hal yang sebenarnya masih ada tapi tidak ada itu yang kita rasakan, benturan keras dihadapkan pada hati kita masing masing, sungguh ironis sekali, kita tak tahan kalau hidup selalu mengambil beberapa orang kita cintai, kalau tuhan adil, kenapa tidak ambil nyawa penjahat saja. Penjahat hidup lama di Negara ini.

 Ibuku pernah berkata padaku, saat beliau sedang emosi, “nanti liat kalau mama dan papa sudah meninggal kamu baru rasa”, aku terdiam sejenak, beberapa detik berkata, “tidak usah bicara begitu, seperti dibesar besarkan saja” aku membalas tegas, beliau cuma diam, wajahnya yang cantik menoleh kebelakang lalu pergi menghilang.

 Aku hanya tak ingin kata - kata itu keluar dari mulut seorang Ibu, bukan hanya dari Ibuku saja, Ibu – Ibu yang lain juga, kata kata itu seperti petir yang menyambar keras di atas kepala, aku memang keras kepala, namun sedemikian kerasnya aku punya sisi lembut kepada Orangtua, hanya saja Aku penat dianggap sudah jauh dari tuhan. Aku merasa tidak begitu jauh dari tuhan, kewajiban 5 rakaatku tidak rutin itu saja yang dijadikan bahan ibuku saat dia meluapkan emosi, Aku salah tapi jangan terlalu didalami.

 Saat beliau menangis , Aku tak sanggup menatapnya, Aku menuju teras rumah untuk menghirup udara segar, gersang yang kualami, air mata itu yang membuatnya gersang didalam hati dan pikiran, bukan air mata yang dia inginkan, hingga kering tanpa berguna. Hari - hariku biasa saja menemani orang tua di rumah kalau sedang libur, aku bekerja di perusahaan kecil, perusahaan keluarga kerabatku, orangnya baik baik dan penuh manusiawi, sebab itu aku kerasan disini tanpa menghiraukan apapun. 

 Pendapatan yang kuterima tidak begitu besar, beberapa kubagikan kepada Orangtuaku untuk keperluan rumah tangga, tidak terlalu cukup masih ada tambahan dari ayahku, namun ibuku terlihat senang dan bangga saja menerimanya, keluargaku memang penuh cinta damai, cinta dan damai itu semboyan keluarga ini, tidak ada resiko yang bisa dimabil kalo sudah berkumpul, lelucon dan ceplas ceplos kadang kala melebihi intensitas dialog serius , tapi terus saja berlanjut tanpa ada yang tersinggung.

 Kami terpisah pisah, waktunya berkumpul pada saat idul fitri pasti itu terjadi lagi dan lagi, sebentar lagi memang Idul Fitri, aku tak sabar berkumpul dengam mereka disana, tak apalah merasakan lelahnya bepergian namun di akhir tujuan kita bisa tertawa terbahak bahak, seperti tahun tahun lalu. Ayahku juga bekerja, dia seorang pegawai negeri, disamping itu waktu pensiunya tinggal hitungan tahun, beberapa hal yang paling dia takuti terhadap keluarganya banyak sekali, Ibuku takut serupa ayahku, diriku hampir setengahnya berdampak dari takut itu, Adikku juga merasakannya. Umur memang tak akan bisa dihentikan, menjadi muda menjadi gagah penuh petualangan, dan ekspresi, ketika sudah tua hanya menatap jendela duduk di kursi kemudian terbatas memiliki keinginan, kita tak bisa melawan takdir, maha kuasa lah yang bertahta.

 Satu sisi kerasnya Jakarta menjadi mata pencaharianku, mau tidak mau aku harus membanjiri tubuhku dengan keringat dan asap, ketika sampai ruangan aku merasa dinginnya ac “oh sejuknya” ujarku, belum lagi mata mata sinis dimana - mana, ketika ada beberapa karyawan telat, cibir mencibir sering terdengar dari bagian tersembunyi atau terang terangan, merekalah sumber sumber malapetaka, pesaing, maupun tantangan bagi meraka yang mencari sukses di ibukota, sebut saja mereka teman sekerja.

 Akhirnya aku pindah kerja dari perusahaan kerabatku ke sebuah perusahaan besar, bukan karena kemauanku, tapi otak korup sudah menjadikan perusahaan itu bangkrut dan kerabatku gulung tikar. Sudah setahun lebih aku bekerja diperusahaan baru, bertarung hidup di Jakarta, pindahan dari kota yang berudara dingin waktu kuliah membuatku kaget, gugup dan gelisah, sudah lama sekali tidak menginjak Jakarta, setelah lama sekali kurang lebih 6 tahun mengeyam bangku kuliah, rasa Jakarta tak lagi kukecap, datang lagi ke Jakarta seperti ingin muntah saat mengecapnya, perubahan tidak membuat Jakarta lebih nyaman, tetap saja rumit, Jakarta Cuma unggul di satu sisi, lapangan pekerjaan yang luas dan meyakinkan, tidak didesa desa, tidak banyak pilihan, tidak banyak peluang, ataupun karir yang menjanjikan.

 Lama sekali tidak melihat padang sawah yang luas, kicau burung, perempuan desa yang berparas ayu, alami, dan oriental, bercampur dalam suasana hikmat beralun awan awan biru yang merayu kita untuk duduk santai sambil merasakan indahnya alam ini. Serempak semua tergantikan oleh waktu, waktu untuk berjuang menggantikan sosok Ayah dengan sisa waktu setahun lagi menanti masa pensiun. Ayah terlihat masih sehat, tapi pikiran kacau oleh ketakutan ketakutannya sendiri, masih belum terima akan menghadapi masa masa seperti itu, jiwa mudanya masih membara, masih ingin mengejar kebahagiaan keluarganya, Waktu terus berjalan dia akan menjadi tua, dan Ibu lebih cenderung berjiwa besar ketika umurnya menua, beda 180 derajat dari Ayah, tapi Ibu lebih sering marah. 

 Aku punya cerita lama yang tak pernah bisa kulupakan, cerita kehilangan seseorang, seseorang yang menurutku pengganti seorang ibu kandung, ceritanya panjang dan lebar tak mungkin bisa kuungkap dirinya disini, cuma bisa mengenangnya begitu dalam di tempat tidur maupun sehabis doa, segeraku dengar lagu favorit sebelum bercapur air mata. kesedihan tak boleh terlalu lama, biarkan tuhan yang menghilangkan dan melahirkan seseorang, dia yang mutlak mengatur, sambil kulihat isi dompetku 2 hari lagi ku terima gaji bulan ke 16 selama ku bekerja, senang punya punya pendapatan walaupun segitu segitu saja , tapi tetap kusuyukuri, begitu cara mensyukuri rezeki dengan bersyukur, simple kan, tidak repot.

 Sekarang sudah 2 tahun semenjak beliau meninggal, bisa dikata beliau meninggalkan dunia ini secara mendadak, keluarga seperti merasa kaget, disaat semua berjalan baik, tidak ada rasa sakit yang begitu parah sebelum dia meninggal, tidak ada diagnosa yang tersurat dan tersirat dari dokter maupun pertanda pertanda ganjil, tiba tiba saja nyawanya diambil malam itu.

 Seperti seorang manusia yang memaksa pergi dari rumah entah kapan pulang, Beliau pergi dari lingkungan tercinta kami, tanpa pesan, tanpa perencanaan, meninggalkan orang tercinta, lalu meninggalkan kami, orang orang yang punya hutang untuk membahagiakannya kelak saat punya rezeki melimpah, justru sekarang kita yang amat menyesal, selama dia hidup kita selalu mengecewakan, selalu merengek tentang kehidupan, padahal kerasnya hidup akan kita lalui, mau tak mau, itu terjadi saat kita terlahir sudah disipakan jalan tersebut

 Lebaran (Idul Fitri) sudah tiba, semua menuju Masjid untuk melaksanakan shalad Idul Fitri , beramai ramai umat Muslim melaksanakannya, Aku sengaja melaksanakan shalat di Jakarta, karena Kantor baru libur kemarin, dengan khusuk aku melaksanakan Shalat dengan penuh harapan bahwa tidak ada lagi kekecewaan yang datang, dan semu, semua berjalan baik baik saja, meskipun itu sulit dimengerti. Setelah shalat Idul Fitri kami mendengan alunan ceramah dan silahturahmi ke masing-masing tetangga di sekitar rumah.

 Sekitar menjelang sore kami sekeluarga berangkat untuk Silahturahmi ke kampung halaman Ibuku, jarak tidak jauh berbeda dengan kelahiran ayahku, melewati laut dan jalan yang panjang soalnya, butuh biaya banyak, dan menguras tenaga. Setelah semua persiapan terpenuhi kami berangkat mengemudi mobil pribadi milik keluarga, walaupun sudah lama sekali tahun pembuatannya, tidak tahu bagaimana keadaan mesinnya, tapi bisa diandalkan dalam keadaan seperti ini. Semoga saja tidak rewel di tengah perjalanan, semua berdoa kembali.

 Sesampainya disana kita diterima dengan ramah tamah, khas cita rasa keluarga Ibuku yang berdarah sunda itu, mereka teman teman lamaku, selama kuliah aku pernah tinggal disini, cuma setahun, aku memilih cari tempat tinggal di dekat Kampus karena alasan jarak, semua akhirnya membaur dalam kebahagian kecil dan sederhana, semua saling berjabat tangan meminta maaf atas kesalahan yang lalu.

 Kami sekeluarga duduk di ruangan utama, saling berbicara tentang apa saja, riuh dan snada terucap selaras, tawa terdengar keras, lelucon terdengar bisik bisik kemudian mengaung keras, hari ini sangat lelah bagiku tapi terbayar dengan suasana seperti ini.

 Malam ini aku melihat bintang dilangit, rembulan yang menemani bintang kian menawan, langit hitam menjadi mimbar semesta, berkumpul bersama titik titik cahaya yang kadang kadang bersembunyi, seperti kudengar jangkrik, tokek, dan nada air mengalir, suara suara ini mengingatkanku pada seseorang yang telah lama hilang, jikalau dia disini pasti lebih lengkap melebihi apapun itu, kemudian ketika lelah memandang aku kembali ke dalam, untuk tidur, menemui hari esok.

 Pagi menyambut suasana yang seperti biasa telah kualami dulu, Ibuku rindu sekali kampung halamannya, Ayahku juga ikut senang. Kami melakukan rutinitas, membantu menyiapkan sarapan, bersih bersih rumah, dan lain lain, menjelang siang kami akan ziarah ke makam orantua ibuku dan beliau itu.

 Suasana Makam terdiam hening, coretan nama terpampang, bersih terurus dan kokoh, barisan makam ikut menemani tertata rapih, mereka yang telah tiada hanya tinggal kenangan selamanya menjadi kenangan, menuju langit yang abadi, menunggu sanak saudara yang telah tutup usia, aku berada disamping makam Nenek dan Kakek berada disebelahnya, cinta yang abadi, begitu lekat, sakral, dan tak tergantikan, Ibu dan Ayah menetas air mata, aku pun selanjutnya setetes demi setetes, doa terucap dalam hati, untuk Kakek Nenek, aku sungguh mengenalnya, merekalah yang terbaik, mengingatkanku saat masih kecil dibelainya dan diajaknya melihat pemandangan desa yang baru ku tahu.

 Lanjut ke makam beliau, dia pasti yang terbaik juga, Ibuku menyanjungnya, “selalu ingat beliau ya nak” ucap ibuku merdu, “tak akan pernah ku melupakannya” balasku, doa terbaik kuucap untuknya, untuk semua keluarga untuk kebaikan semua, lekasku meninggalkan pemakaman masih dengan air muka masam.

 Sampai di rumah aku mengobrol dengan anak beliau, aku akrab dengannya, teman bermain dari kecil, dia terlihat lesu, lalu aku bertanya mengapa dia bersedih, lugas jawabnya “kangen Ibu”, masih lesu sambil melihat kearah depan, “aku merasa dia masih ada disini” ucapku, dia masih saja terdiam, akhirnya dia bicara, “aku juga merasa”, tapi dia udah tiada bagaimana aku membiarkannya hidup, yang ada malah kesedihan itu berlanjut, semua merasakan sama sepertimu, aku yakin itu, aku tadi melihat lama batu nisannya, lama sekali, aku berbicara dalam hati, kau tahu apa yang kukatakan “maafkan aku tidak menyediakan waktu untuk bertemu”. Sekarang sudah telat, semoganya rohnya mendengar atau dia ada disekitar kita menyimak pembicaraan kita, “dia akan selalu ada disini” balas anaknya dengan air muka serius namun tak bisa dibohongi.


* Mengenang Alm Aneng Nuryamah 1957 - 2012



Sumedang, Jawa Barat

About the Author

Unknown / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Post a Comment

Catatan Penulis & Arsip Pribadi

Powered by Blogger.

Instagram

Popular Posts

Contact Us

Name

Email *

Message *

Pages

Like us

http://melanialysandra.blogspot.com/

About me

Nama : Helmi Agusrizal Place/Date of Birth : Jakarta/august 02, 1988 Sex : Male Citizenship : Indonesia Marital status : Married Religion : Moslem E-mail address : Helmi.agusrizal@gmail.com Address : Pondok Budiasih (Saluyu), Jl. Ahmad Syam, Kampung Ciawi, Desa Cikeruh (RT/RW 02/04), Jatinangor – Sumedang, Jawa Barat. 45363 Phone : Mobile (081214613112) Formal Education : 2006 – 2010 IKOPIN, majoring in human resourch management, Jatinagor-Bandung 2003 – 2006 Senior High School in SMA YUPPENTEK 1 Tangerang, Banten-Serang 2001 – 2003 Junior High School in SMPN 19 Tangerang, Banten-Serang 1995 – 2001 Elementary School in SDN Dayung Tangerang, Banten-Serang 1993 - 1995 Kindergaten School in TK Nurul Islam Tangerang, Banten-Serang

Facebook

http://delighthomegarden.blogspot.com/

Entri Populer